Arab Spring’s, Tragedi Papua dan Geopolitik Indonesia

0

Oleh : Teddy Khumaedi

Ketika peristiwa di Mesir mulai berkembang pada akhir Januari 2011, laporan-laporan awal dari kebanyakan saluran berita adalah terjadinya protes ‘Anti-Mubarak’, dan hal ini adalah pandangan yang didorong oleh sumber berita seperti Al-Jazeera, BBC dan New York Times. Namun, ketika protes itu mulai menjadi matang dan jumlah orang-orang yang turun ke jalan-jalan meningkat, ada pergeseran tiba-tiba dari saluran-saluran berita dengan mengacu protes itu sebagai protes ‘pro-demokrasi’. Hampir dalam setiap malam semua saluran berita itu mengacu pada seruan bagi demokrasi gaya Barat diwilayah tersebut. Titik catatan atas hal ini, bukanlah dari konspirasi oleh media, namun mereka hanya mencerminkan konteks yang diciptakan bagi mereka oleh para politisi Barat seperti Barak Obama sebagai Presiden Amerika Serikat pada saat itu, yang mendukung protes itu dan menyerukan reformasi demokratis dalam mengatur agenda itu agar diikuti oleh media. Tidak ada fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa rakyat lebih menyerukan demokrasi daripada ketika demonstrasi itu mulai terjadi lebih kurang seminggu sebelumnya. Jika ada alasan kenapa semakin banyak orang yang turun ke jalan-jalan dan dimana ratusan ribu orang berdoa di Tahrir Square maka jelaslah bahwa titik acuan bagi kebanyakan demonstran itu bukanlah liberalisme melainkan Islam. Berkembangnya demonstrasi pro-demokrasi berarti bahwa ketika pemberontakan itu sampai ke Libya, Yaman dan Suriah asumsi terbanyak yang otomatis adalah bahwa mereka juga ingin demokrasi, suatu asumsi yang didasarkan pada informasi dan bukan pada realitas. Selama puncak protes di Yaman, banyak saluran berita utama menunjukkan gambar-gambar Sheikh Zindani dalam menangani protes besar di Shan’a selama demonstrasi pada hari Jumat. Jika Anda percaya cerita yang diberikan oleh para penyiar itu, maka itu adalah tindakan mengumpulkan orang-orang yang menyerukan demokrasi dan liberalisme. Namun, orang yang mengerti bahasa Arab dan benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan oleh Zindani akan menyadari bahwa dia menyerukan pelaksanaan Syariah dan Khilafah dengan mengutip hadits Nabi Muhammad SAW tentang kembalinya Khilafah.

 Zaman Baru “Arab Spring“

Revolusi Arab (Arab Spring)” tepatnya dimulai pada bulan Januari 2011. Delapan tahun telah berlalu. Adakah perubahan yang mendasar terjadi di Kawasan Timur Tengah?

Pergolakan ini berawal dari Tunisia, meluas ke Mesir hingga akhirnya melanda sebagian  besar dunia Muslim. Setelah delapan berlalu, perubahan rezim hanya terjadi di Libya. Sementara di Mesir dan Tunisia, para penguasanya mungkin berganti. Namun, rezim lama sebenarnya masih tetap berkuasa. Penyebabnya adalah campur-tangan kekuatan asing terutama Amerika. Amerika memanipulasi perubahan di Timur Tengah dengan tujuan menciptakan Timur Tengah Raya baru, dengan kekuatan lama Eropa yang memiliki pengaruh kecil. Peristiwa Pemecatan Zine El Abidine Ben Ali bukanlah peristiwa yang terjadi secara acak, namun merupakan sintesis dari korupsi yang merajalela selama 23 tahun di bawah perlindungan Barat. Hal ini diperburuk oleh krisis keuangan global dan program-program struktural pengisap darah IMF. Amerika bersemangat menunggu gejolak yang sama di Aljazair, Yordania dan Negara-negara Teluk. Mereka berharap bisa mengontrol rezim-rezim itu untuk memberikan kesetiaan kepada Amerika Serikat, setelah sebelumnya Negara-negara itu lebih banyak berkorban untuk Inggris dan Prancis.

     Mesir Dalam Prangkap

Baca :  Masalah Citra dan Partisipasi Politik di Abad Media

Amerika Serikat menjinakkan pemberontakan dengan cara membuang agen-agen yang setia kepada Mubarak berlanjut kepada pemerintahan berikutnya Abdullah Musri yang berakhir ditiang Gantung, berikutnya menyerahkan kekuasaan kepada militer untuk memerintah Mesir. Perjanjian Terusan Suez dan Pakta Bersama Mesir dengan Israel tetap berlaku sehingga banyak mengecewakan masyarakat Mesir. Beberapa tahun sebelumnya Amerika secara terbuka membangkitkan kembali ambisinya untuk menguasai Dunia Arab, sesuatu yang dulunya dianggap terlampau ambisius dan berbahaya dibicarakan secara terbuka. Partai Ikhwanul Muslimin dan An Nur mendapatkan kemenangan telak. Namun, agenda mereka tampaknya tidak akan berbeda dengan para  pendahulunya. Walaupun Ikhwanul Muslimin adalah kelompok politik terbesar di Mesir dan kekuatan yang luar biasa, mereka justru menempatkan diri pada posisi yang lemah. Mereka menunjukkan diri bahwa mereka tidak benar-benar menyerukan Islam. Mereka berusaha menenangkan kekhawatiran dunia Barat terhadap Islam di Mesir. Ikhwanul Muslimin menyatakan siap masuk ke dalam pemerintahan dan berkoalisi dengan partai-partai lain. Dimasa Presiden Barack Obama, Hilarry Clinton mengatakan pemerintahan Obama akan melanjutkan pendekatan dengan melakukan kontak-kontak terbatas dengan Ikhwanul Muslimin yang sudah dilakukan selama sekitar lima atau enam tahun. Partai An Nur tidak berbeda. Juru bicara Partai An Nur dari Salafi. Yousri Hammad, dalam sebuah wawancara telepon dengan saluran satelit independen An–Nas pada saat itu, menyatakan kesiapan partainya untuk mempertahankan hubungan Mesir dengan Israel. “Mesir adalah penanda tangan perjanjian-perjanjian internasional dan hal ini harus dihormati. Ini bukan pendapat pribadi saya atau pendapat dari ketua partai. Ini adalah bagian dari kebijakan partai.” ujarnya.

     Suriah Dalam Bidikan Amerika

Bashar Al-Assad terus melakukan pembantaian terhadap rakyatnya sendiri, sementara masyarakat internasional hanya menonton. Respon masyarakat internasional sebagian besar hanyalah retorika. Pada saat yang lain banyak menyerukan pemecatan Assad, Amerika malah menyerukan rezim Assad untuk melakukan reformasi. Suriah kerap digambarkan sebagai Negara yang memperdulikan aturan-aturan internasional dan mendukung militant Hizbullah dan Palestina. Namun, yang luput dari pengawasan umum adalah bahwa pemerintah Amerika selalu memandang Suriah sebagai wakil Amerika yang penting dibutuhkan diwilayah tersebut. Suriah telah menjaga kepentingan-kepentingan Amerika, di antaranya lewat tindakan penangkapan dan penyiksaan terhadap rakyatnya sendiri. Di irak, Suriah memainkan peran aktif dalam menginfiltrasi kaum Islamis dan memberikan informasi intelijen berharga kepada pasukan koalisi pimpinan AS. Termasuk kepada pasukan Penangkis Suriah (SDP) diLebanon yang menjamin perlindungan kepentingan-kepentingan Amerika di bawah Perjanjian Taif tahun 1989.

Amerika telah mendorong oposisi Suriah untuk memelihara dialog dengan rezim Bashar Al-Assad, mempersiapkan Road Map reformasi dengan tetap mempertahankan Assad. Hilarry Clinton menjelaskan sikap Amerika dalam wawancaranya  dengan media Italia Di Mezz’Ora (Mei 2011).“ yang kami tahu adalah bahwa mereka (rezim Assad) masih memiliki kesempatan melakukan agenda reformasi. Tak seorang pun percaya Qaddafi akan melakukan hal itu. Orang percaya ada kemungkinan jalan ke depan bagi Suriah. Jadi kami akan terus bergabung dengan semua sekutu kami untuk terus menekan dengan sangat keras pada masalah itu.”

Partai Islam pertama yang meraih kemenangan di zaman baru Timur Tengah yang disebut Arab Spring itu adalah Partai Ennahda di Tunisia, juga diikuti partai berbasis Islam di Maroko, Partai Keadilan dan Pembangunan, yang menyapu bersih suara dalam pemilu bersejarah negeri itu. Dan paling akhir di Mesir, Partai Ikhwanul Muslimin juga menjadi pemenang dalam pemilu demokratis pertama negeri itu pasca Hosni Mubarak lengser. Di negara-negara Arab lain, hal yang sama juga diperkirakan akan terjadi. Munculnya kekuasaan kubu Islam di Timur Tengah tak dapat dielakkan menimbulkan situasi baru di kawasan yang kaya energi tapi selalu bergejolak itu. Konstelasi politik, regional maupun internasional, akan mendapat dampak dari perubahan kepemimpinan Timur Tengah ini. Kekhawatiran dan harapan merebak sekaligus, tentu saja tergantung pada kepentingan siapa yang berbicara. Negara-negara Barat, apalagi Israel, adalah pihak yang khawatir atas perkembangan terbaru ini. ‘Kenyamanan’ Barat-Israel dengan kondisi Timur Tengah seperti di masa lalu, kini telah terusik. Barat-Israel dalam beberapa dasawarsa terakhir memang merasa cukup ‘nyaman’ dengan memiliki sekutu-sekutu erat di Timur Tengah, meski sekutu-sekutu tersebut merupakan para diktator, tiran, koruptor atau para pelanggar HAM berat. Tapi era itu kini telah berakhir. Gelombang aksi demonstrasi menuntut reformasi demokrasi dikawasan itu telah menumbangkan banyak sekutu AS-Israel. Yang menjadi kekhawatiran mereka adalah tumbangnya sekutu-sekutu Barat-Israel itu digantikan oleh kelompok-kelompok Islamis yang cenderung mengambil sikap bermusuhan. Barat-Israel sangat khawatir seperti apa yang terjadi di Iran jatuhnya rezim Shah Iran yang pro-Barat diganti oleh kelompok Islam yang sangat anti-Barat  terjadi juga di kawasan Arab Spring lainnya. Partai-partai yang kini meraih kemenangan adalah partai Islam moderat. Bahkan Partai Ikhawanul Muslimin, yang di era Hosni Mubarak selalu digambarkan sebagai kelompok militan, ternyata sangatlah moderat. Dalam kampanyenya, partai itu selalu menekankan tak ingin mendirikan negara Islam atau mengambil sikap bermusuhan dengan Barat.

     Fenomena diatas sangat bisa saja terjadi di Negeri Indonesia kapan saja, mengingat kondisi posisi geopolitik internasional kita masih tergolong lemah dimata dunia, mulai dua tahun lalu terkait kasus Rohingnya di Negara Myanmar, bagaimana peran Negara Indonesia yang terlihat jelas sekali tidak bisa berbuat apa-apa terkait Peristiwa kemanusia yang menimpa Penduduk Rohingnya, disusul lagi bagaimana Aksi-aksi Brutal Tentara Israel terhadap Warga Negara Palistina yang banyak memakan Korban Jiwa yang tanpa henti-hentinya, dan yang terbaru tahun 2019 ini, bagaimana Tragedi Papua Berdarah akibat aksi dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang dilakukan oleh Organisasi Papua Merdeka jelas sekali sudah memakan korban Jiwa, baik dari Aparat Sipil maupun TNI dan Polri, dan Rakyat Indonesia melihat begitu lambat dan lemah gerakan yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi terjadinya peristiwa tersebut sehingga menelan korban terlebih dahulu barulah pemerintah melakukan pengiriman pasukan keamanan dan himbauan kepada segenap masyarakat papua khususnya untuk tidak berbuat anarkis, Rakyat indonesia melihat dengan jelas betapa lemahnya peran Negara ini dalam menangani Gerakan-gerakan Separatis dan Radikal yang selalu merorong Negara, hanya karena ditanah papua ada kepentingan yang sedang dilakukan oleh perusahaan negara lain khususnya perusahaan Amerika yaitu PT. Freepoort akankan negara ini bisa dikalahkan oleh kepentingan segelintir ataupun sekelompok orang saja??sungguh ironis, disaat Negara ini merayakan hari Kemerdekaannya yang ke 74 tahun,, ditanah papua malah terjadi pertikaian sesama anak bangsa, oh betapa sedihnya para Founding Father kita melihat peristiwa ini semua! Duka Papua adalah Duka Kita Bersama,, semoga Arab Spring tidak benar-benar terjadi di tanah Indonesia..!!

 

Baca :  Satgas RI-PNG Bantu Mengajar di SD Inpres Nafri

Penulis adalah, Pengamat Sosial Budaya dan Keagamaan, Sekjen Pusat Kajian Social riset & Politic Development “MADANI INDONESIA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here