Site icon LEAD.co.id

Berfilsafat dan Bercanda

Filsafat, Bercanda, Bambang Wahyu

Dr Bambang Wahyu

Oleh: Dr Bambang Wahyu

Rata-rata orang normal tertawa sebanyak 17 kali sehari. Jika bersama teman-temannya, ia bisa tertawa 30 kali sehari. Tertawa memberikan efek positif secara fisik dan psikis. Tentu kita paham orang yang sering tertawa lebih menarik. Anak-anak tertawa 3 kali lebih banyak daripada orang dewasa sehingga mereka hidup lepas tanpa beban.

Selain relaksasi otot dan melancarkan peredaran darah, tertawa memberi kekuatan menghadapi situasi yang tak diharapkan. Suasana hati yang sehat mempengaruhi kerja otak terutama dalam menyusun skema kreatif pemecahan masalah. Impuls-impuls saraf menjadi renggang dan memberi stimulus berpikir lebih luas.

Lalu apa kaitannya dengan berfilsafat? Bukankah pemikiran filsafat disusun sangat serius? Tapi Wittgenstein filsuf Austria yang sangat serius itu bahkan berkata: “Karya filsafat yang bagus seharusnya berisi canda tawa seluruhnya karena ketika tertawa di situlah muncul kedalaman berfilsafat”.

Aristoteles melihat kejenakaan adalah sifat orang yang berbudi luhur, yaitu orang yang mampu memahami situasi, mengambil keputusan yang tepat, serta menebar kebaikan bagi lingkungannya.

Tertawa dan merasa senang merupakan sublimasi relaksasi yang dibutuhkan manusia. Ada sensasi dalam gelak tawa karena itu permainan pikiran, kata Immanuel Kant. Baginya, kejenakaan muncul dari daya pertimbangan yang spontan tanpa tujuan, hanya kesenangan saja.

George Santayana mengurai dimensi kesenangan ini dengan permainan. Bermain adalah spontanitas tanpa paksaan. Ketika bermain, seseorang “keluar” dari situasi psikis yang negatif dan menggantinya dengan situasi psikis yang lain. Selalu ada kegembiraan dalam permainan. “Satu-satunya ketidaksenangan itu…. hanya lah ketika berhenti”.

Mengembangkan lebih luas pemikiran Johan Huizinga tentang homo ludens, Michael Apter menyebutkan situasi canda tawa dalam bermain manakala tujuan permainan itu untuk kesenangan. Ia mengistilahkan sebagai keadaan paratelis (paratelic) yaitu mengenyampingkan tujuan menang atau kalah dari permainan itu.

Misalnya seorang komedian yang melawak karena karakter kesehariannya dengan melawak karena upah. Paratelis adalah kesenangan atau kenikmatan tanpa tujuan, just having fun. Inilah yang dilakukan oleh Sokrates ketika berdialog di polis Yunani. Baginya inti dari filsafat adalah kegembiraan bercakap-cakap.

Dialog yang interaktif melepaskan diri dari jeratan subjektivitas. Tak lagi jelas mana yang bertanya dan siapa yang menjawab. Menjawab pun menjadi pertanyaan lanjutan. Kalimat yang lucu meluncur begitu saja. Penuh kelakar dan gelak tawa. Walaupun terkadang menjadi sangat serius.

Dialog menyajikan penjelasan. Bisa jadi sang penanya selalu meminta penjelasan atau mengklarifikasinya. Tapi apa yang ia maksud diketahui oleh semua yang hadir. Dialog pun memberi kebebasan untuk “meledek” opini yang lain atau mencari reasoning dari setiap pernyataan.

Banyak hal tidak harus dibicarakan dengan dahi berkerut. Kesenangan dalam berdialog memberikan pencerahan pada titik mana seseorang berperspektif.

Berfilsafat tidak hanya tentang berpikir keras mengenai pertanyaan maha penting tentang eksistensi segala sesuatu serta analisis jawabannya. Bisa juga mengenai tindak tanduk para filsuf karena yang mereka lakukan berbeda dengan apa yang kita lakukan.

Kesenangan-kesenangan seperti ini mendorong seseorang untuk mendiskusikannya sesuai dengan kesehariannya, dalam horizon aktivitasnya. Dan rata-rata setiap orang suka membicarakan aktivitas hariannya karena menyangkut kesenangannya yang unik. Ada sublimasi eksistensial di sana.

Dalam situasi ini, bisa jadi berfilsafat menyangkut harga sebuah pilihan yang mengalkulasi apa yang kompatibel atau tidak dengan pilihan itu. Untuk kemudian secara pragmatis menentukan langkah yang dilakukan. Ini juga menjadi sebuah kenikmatan karena seseorang menjadi master bagi dirinya.

Bisa jadi, filsafat hanya menampilkan apologi yang terlihat sangat filosofis. Misalnya, “Hmmm… mendengar istilah filsafat, saya selalu ingat dengan perkataan St. Agustinus tentang waktu. Jika tidak ada yang bertanya tentang itu, saya mengetahuinya tapi jika ada yang bertanya … aduh, saya baru sadar bahwa saya tak tahu apa-apa tentangnya. Sama halnya bertanya pada ikan tentang rupa air.. hahaha..”.

Tapi tak mengapa karena apologi seperti itu seringkali menyadarkan kita dengan bijak untuk menelisik persoalan-persoalan substansial tanpa kehilangan harga diri. Hal ini menjadi varian perjalanan epik antara diri dan semesta.

Bukankah kesenangan-kesenangan filosofis seperti ini yang dimainkan oleh karakter Squidward, SpongeBob, Mr. Crab, dan Patrick dalam kartun SpongeBob Square Paint ?.

Tentunya dengan redaksi kalimat yang berbeda. Kita sering melupakan kesenangan itu. Terlalu serius menghadapi hidup. Kita melupakan identitas “kemenduaan” kita. Dalam festival tawa keseharian, kata Mikail Bakhtin, menjadi tidak jelas apa yang kita tertawakan. Bisa jadi diri kita sendiri yang terlihat sangat serius padahal lucu.

 

Exit mobile version