Dari banyaknya museum yang ada di Bogor, ada satu museum menarik yang sampai saat ini masih jarang diketahui bahkan oleh warga bogor sendiri. Museum ini terletak di Jl. Ir. H. Juanda 22 – 24, Pusat Penelitian Biologi – LIPI, Paledang, Bogor Tengah.
Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (Munasain), museum yang pada awalnya bernama Museum Etnobotani Indonesia (MEI), diresmikan pada 18 Mei 1982 oleh Menristek Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie hingga pada 31 Agustus 2016 lalu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan pembaruan terhadap MEI menjadi Munasain.
Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (Munasain). Museum Nasional Sejarah Indonesia menghadirkan wisata edukasi yang menarik dan interaktif tentang sejarah dan keanekaragaman hayati di Indonesia. Didalam museum ini terdapat pewarna alami untuk tekstil. Salah satu contohnya Batik dalam Kilasan Flora Nusantara.
Batik telah dikenal secara internasional sebagai salah satu seni kerajinan berbahan tekstil yang memiliki keindahan dalam proses pembuatan dan ragam coraknya. Ketika batik mendapat perhatian internasional dengan ditetapkannya sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada 2 oktober 2009, maka mata dunia tertuju pada negara Indonesia. Kita semua mengemban dan turut berperan penting untuk mendukung berbagai langkah dalam menjaga, mengenalkan dan mengembangkan, beragam kekayaan budaya Indonesia khususnya seni batik.
Khasanah budaya bangsa Indonesia yang demikian kaya, telah mendorong lahirnya berbagai komposisi dan corak batik tradisional dengan ciri khasnya masing- masing. Selain itu Indonesia juga dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia.
Pada kain batik yang terdapat di Indonesia dapat terlihat beragam motif yang memiliki pola komposisi geometris dan organis. Motif geometris umumnya menampilkan karakter teratur, terarah dan formal antara lain pola “lereng”, “parang”, ”ceplokan” dan “kawung”. Sementara bentuk organis lebih dinamis menampilkan beragam unsur tetumbuhan seperti bunga, daun antara lain teratai, bunga bangkai, pohon beringin, jenis paku-pakuan, dan dipadukan dengan fauna yang digambarkan dalam berbagai karakter, ada yang digambarkan secara naturalistik maupun stilistik.
Komposisi motif batik di Indonesia mampu menjadi sebuah karya tangan yang adilihung ketika memiliki totalitas kompossional dari elemen-elemen penyusunnya seperti motif utama, “isen-isen” dan motif latar. Corak batik tidak dapat dinilai. Contoh hasil warna batik dari bahan tumbuhan dari satu pola penyusunnya saja, melainkan mesti secara keseluruhan sebagai perwujudannya.
Kerajinan batik Bogor dapat menjadi asset dengan dikembangkannya ciri dan karakter yang khas berupa paduan seni dengan khasanas ilmiah flora fauna. Spesimen koleksi keanekaragaman hayati yang tersimpan di Pusat Penelitian Biologi – LIPI menjadi media imaginasi design motif batik, sekaligus menjadi sumber informasi ilmiah.
Saat ini penggunaan pewarna pada tekstil, juga untuk batik telah berkembang dengan pesat, sehingga dapat dengan mudah menemukan warna yang bervariasi sesuai yang diinginkan. Namun, penggunaan bahan pewarna sintetis dapat menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan. Untuk mencegah hal tersebut, perlu digali kembali penggunaan pewarna alam yang ramah lingkungan.
Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai pewarna dapat diambil dari akar atau rimpang seperti kunyit Curcuma longa, mengkudu Morinda sp.; daun antara lain jati Tectona grandis, tarum Indigofera spp, kecipir Psophocarpus tetragonolobus, kelor Moringa oleifera; kulit kayu secang Caesalpinia sappan, jambal Pelthorum inerme, tinggi Ceriops tagal dan tegeran Macluca cochinchensis; bunga antara lain teleng Clitoriaternatea; buah antara lain gambir Uncaria gambir dan pinang Areca cathecu dan kulit buah antara lain manggis Garcinia dulcis, duku Lancium domesticum, rambutan Nephelium lappaceum, sabut kelapa Cocos nucifera. Warna yang dihasilkan cukup banyak variasinya, tergantung dari kadar penggunaan dan lama peredaman dalam bahan pewarna tersebut. Sedangkan bahan alam yang digunakan sebagai pengganti penguat warna antara daun Symplocos sp atau kapur sirih dan tawas.
Pada zona ini terdapat demo membatik dan pengunjung dapat secara langsung mempraktekan bagaimana membatik melalui pelatihan yang diselenggarakan selama pameran temporer berlangsung.
Penulis: Ana Siti Septia, Desi Hermawati,
Mochammad Afdhal Virgieawan, Shopi Mulia, Rizki Kurniawan





