BOGOR (Lead.co.id) – Puluhan mahasiswa mendesak DPRD Kota Bogor untuk menyatakan sikap atas berbagai persoalan yang tengah dihadapi oleh bangsa. Aksi pada Jumat (20/6/2026) itu digelar oleh Aliansi Keluarga Mahasiswa Selamatkan Demokrasi (AKAMSI) bersama Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).
Dalam aksi yang bertema “Jeritan Ibu Pertiwi: Reformasi atau Reformati?” itu, para mahasiswa membentangkan spanduk hingga salip merah sebagai kritik dan perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang semakin jauh dari kepentingan rakyat.
Pantauan tim Lead.co.id, para mahasiswa sempat dihadang aparat kepolisian saat hendak menyampaikan aspirasi di kawasan Istana Bogor. Setelah itu, mereka bergerak menuju Gedung DPRD Kota Bogor untuk menyampaikan aspirasinya.
“Yang pertama di Istana, namun kami dihadang aparat kepolisian. Kemudian kami bergerak ke DPRD Kota Bogor dan kembali dihalangi. Kami ingin menyampaikan suara kami di rumah kami sendiri,” ujar Ketua Umum GMKI Cabang Bogor, Abel Tampubolon saat di gedung DPRD Kota Bogor.
Disampaikan Abel, tujuan utama kedatangan para mahasiswa ke DPRD Kota Bogor yaitu meminta para wakil rakyat menyatakan sikap atas berbagai persoalan yang tengah dihadapi bangsa. Menurutnya, DPRD harus berdiri bersama rakyat dan tidak hanya menjadi penonton di tengah kondisi yang semakin memprihatinkan.
Dalam dialog bersama perwakilan fraksi DPRD Kota Bogor, massa menyampaikan tuntutan agar pemerintah menghentikan pemborosan APBN, menurunkan harga BBM dan bahan pokok, mengevaluasi program pemerintah termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
Mereka juga menuntut pemerintah agar merespons pelemahan rupiah secara serius, menghentikan militerisme di ranah sipil, menolak UU Polri, menghentikan eksploitasi sumber daya alam dan perampasan ruang hidup masyarakat, serta mengungkap seluruh pihak yang terlibat dalam praktik korupsi.
Puncak audiensi ditandai dengan pembacaan pernyataan sikap oleh perwakilan fraksi DPRD Kota Bogor yang hadir secara bergantian. Dalam pernyataan tersebut, para anggota dewan menyatakan siap mengawal aspirasi yang disampaikan massa aksi.
Usai dibacakan, dokumen pernyataan sikap itu ditandatangani oleh perwakilan fraksi yang hadir kemudian diserahkan kepada perwakilan mahasiswa sebagai komitmen DPRD Kota Bogor dalam mengawal aspirasi. Pihak DPRD menyampaikan bahwa, tuntutan yang diajukan akan dibahas lebih lanjut dan disampaikan pada pekan depan.
Mahasiswa menegaskan akan terus mengawal komitmen tersebut hingga menghasilkan langkah nyata. Mereka menilai penandatanganan pernyataan sikap bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal dari pengawalan bersama agar aspirasi rakyat benar-benar diperjuangkan.
Surya SP

