BOGOR (Lead.co.id) – Kembali Daya Putra Bangsa menggelar kegiatan Sawala Dasa Wacana #7 di kompleks Edukasi Putra Bangsa Kampung Pasirangin, Desa Cipicung, Kecamatan Cijeruk Kab Bogor, pada Rabu, 10 Desember 2025
Mengangkat tema Mencari Titik Temu Agama dan Budaya, Upaya Merekonstruksi Jati Diri Nusantara dihadiri pembicara tokoh agama, budayawan dan akademisi seperti Ki Guru Agus Pranamulia, Ustad Ahmad Taviv dan sejarawan Rahmat Iskandar serta dihadiri juga oleh Tohir Kulikulo, Ketua KPJ Merdeka Bogor, Wawan Trisnawan bersama anggota Leuit Trasa Ning Rasa, relawan Daya Putra Bangsa dan OSIS SMK Sirojul Huda 3.
Dalam diskusi Sawala terungkap bahwa agama dan budaya ketika tidak dipertentangkan justru menjadi kekuatan yang menyempurnakan nilai-nilai keagamaan seperti yang diungkap Ki Guru Pranamulia, ” Sebenarnya budaya juga melengkapi, membantu agama dalam menerapkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan, jadi tidak ada pertentangan yang esensial di antara keduanya justru saling melengkapi dalam Sunda di sebut adu manis, agama bersifat umum dan budaya adalah praktik pelaksanaan seperti nilai menghormati orang tua dalam agama bentuknya bisa beragam cara sesuai budaya setempat, ungkapnya.
Bangsa Nusantara adalah bangsa berperadaban luhur, memiliki jati diri yang kokoh, memiliki budaya yang mampu menjadi penerang kehidupan yang saat ini justru banyak dipertanyakan dengan masuknya anadir-anasir luar yang mencoba mengklaim sebagai pemilik sah kebenaran, padahal menurut Ustad Taviv Budiman, Nusantara, sejak mula, bukanlah ruang kosong yang kemudian diisi. Ia adalah taman luas tempat berbagai agama, bahasa, dan kebudayaan bertemu, bernegosiasi, saling merangkul, lalu membentuk harmoni yang sangat khas.
“Manusia Nusantara menemukan dirinya — bukan dalam penyeragaman, tetapi justru dalam keberagaman yang padu, dalam perjumpaan yang melahirkan kearifan.
Maka ketika kita berbicara tentang mencari titik temu agama dan budaya, sesungguhnya kita sedang menghidupkan kembali tradisi intelektual yang telah lama diwariskan oleh leluhur: tradisi dialog,tradisi musyawarah, tradisi saling mendengarkan. Di sini agama tidak hadir sebagai tembok pembatas, dan budaya tidak berdiri sebagai ruang asing. Keduanya adalah dua cahaya yang sejak dahulu menerangi jalan manusia Nusantara,” imbuhnya.
Nilai agama ketika bersinergi dengan budaya melahirkan bentuk bentuk estetika yang luar biasa menjadi bunga-bunga peradaban yang tak lekang oleh zaman, seperti dipaparkan oleh Rahmat Iskandar lebih lanjut, “Misal ketika agama Islam hadir di persia, Mesopotamia, Eropa, India, China, hingga Nusantara banyak melahirkan bentuk-bentuk rumah ibadah yang indah seperti masjid Qordoba di Spanyol, Taj Mahal di India, hingga masjid Kudus, masjid agung Jogja hingga yang modern seperti masjid Istiqlal di Jakarta, itu baru satu contoh di bidang arsitektur, belum bidang lainnya seperti kaligrafi, musik, tari, politik dan sebagainya,” papar Rahmat Iskandar yang semakin meluaskan cakrawala sinergitas budaya dan agama yang telah menunjukkan jejak peradaban manusia di tiap wilayah di muka bumi ini.
Diskusi semakin asik dengan beragam pertanyaan dan komentar dari generasi muda yang mendapatkan konfirmasi langsung dari para pembicara yang hadir dalam Sawala Dasa Wacana edisi ke-7 ini.
Ininya dalam Sawala kali ini kita dibukakan nalar dan wawasan bahwa titik temu agama dan budaya khususnya di Nusantara, agama pernah menjadi sumber inspirasi estetik budaya menjadi jembatan etis dan keduanya bersama-sama merawat keseimbangan batin.
Islam yang datang dengan kedalaman tauhid menemukan ruang ekspresi yang lembut dalam kesantunan lokal; sementara budaya leluhur menemukan dimensi ruhani yang lebih luas lewat ajaran ketuhanan. Dari perjumpaan itulah lahir kearifan yang begitu indah — dari tembang, tata ruang desa, pakem kesenian, hingga adab dalam berkomunitas, maka upaya merekonstruksi jati diri ke nusantaraan kita akan lebih membumi jika seluruh sendi-sendi dasar kearifan baik dari sumber mata air agama dan budaya saling berpadu membentuk peradaban Nusantara yang bisa menjadi inspirasi dunia.

