BOGOR (Lead.co.id) – Usaha makanan tradisional terus tumbuh di tengah gempuran produk-produk pabrikan modern. Salah satunya dijalankan oleh Umi Entim (57), warga Kampung Cinangka RT 02/01, Desa Tugujaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor.
Umi mengaku telah memproduksi Rangginang dan Keripik Oyek secara mandiri sejak tahun 2013. Makanan ringan khas Sunda ini kerap menjadi buruan konsumen, khususnya saat hari-hari besar keagamaan atau musim liburan.
Dengan kapasitas produksi antara 400 hingga 1.000 pcs per hari, produk olahan kering miliknya dijual seharga Rp17.000 per bungkus (isi 25 pcs).
“Awalnya saya mulai dengan modal cuma Rp 1 juta dari hasil menabung. Saya produksi sendiri, jemur sendiri, dan jual sendiri. Sekarang alhamdulillah banyak yang pesan, tapi tetap ada tantangan,” ujar Umi Entim kepada Lead.co.id, pada Jumat (2/8/2025).
Meski usahanya berkembang perlahan, Umi mengaku belum pernah mendapat dukungan dari pemerintah desa maupun kabupaten. Minimnya suport dari sisi permodalan, pelatihan keterampilan, dan pemasaran menjadi kendala yang cukup dirasakan.
“Selama ini saya jalan sendiri. Pemerintah belum pernah bantu, padahal banyak pelaku usaha kecil seperti saya yang butuh dorongan,” keluh dia.
Umi berharap ke depan pemerintah bisa hadir memberikan solusi konkret, mulai dari bantuan alat produksi, pendampingan tenaga kerja, hingga akses pasar yang lebih luas.
“Kalau ada bantuan modal atau pelatihan, saya yakin bisa nambah tenaga dan produksi lebih banyak lagi. Harapannya bisa terus berkembang dan bantu ekonomi warga sekitar juga,” tambahnya.
Rangginang dan Keripik Oyek buatan Umi Entim bukan hanya sekadar camilan tradisional, tetapi juga cerminan dari semangat wirausaha dan ketangguhan perempuan desa dalam menghadapi keterbatasan.

