Dinilai Merugikan Petani, BEM IPB Tolak Kebijakan Impor Beras

0
BEM IPB, Produktivitas, Kedelai Lokal, Kedelai
Logo Institut Pertanian Bogor [File: BEM KM IPB]

LEAD.co.id | Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Pertanian Bogor (IPB) menyatakan sikap “Batalkan Impor Beras” karena akan berdampak pada ekonomi petani. Pernyataan ini merespon rencana impor beras oleh pemerintah untuk menjaga stabilisasi kondisi pangan.

Pernyataan sikap ini disampaikan oleh Presiden Mahasiswa (Presma) IPB, Langit Biru melalui keterangan pers, pada Minggu (21/3/2021). Dia menilai, kebijakan impor beras tidak memiliki alasan yang jelas, terlebih ketika Indonesia akan memasuki masa panen raya.

Hal itu sesuai dengan prediksi dari Badan Pusat Statistika (BPS) yang menunjukkan bahwa, produksi beras Indonesia sedang meningkat.

Baca :  Demo Pemkot Bogor, Protes Kebijakan Jam Malam

Dalam naskah kajian yang dirilis BEM IPB, keputusan impor beras yang didapatkan dari Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) ini merupakan langkah yang tidak tepat karena dapat berdampak pada harga pasar. Tertulis dalam kajian tersebut bahwa harga gabah dikabarkan anjlok karena wacana keputusan impor ini.

Selain wacana impor yang berdampak pada harga gabah di pasaran, BPS juga memproyeksikan panen Januari – April 2021 mencapai 14,54 juta ton dari sebelumnya hanya 11,46 juta ton saja. Berdasar itu, panen raya periode tersebut mengalami kenaikan sebesar 3,08 juta ton atau 26,84%.

Baca :  APIT: Kebijakan Jokowi Membatasi Otonomi Daerah

“Lantas menjadi keheranan tersendiri mengapa pemerintah memutuskan kebijakan impor dikala para petani sedang mengalami/ memasuki masa panen raya,” sebut siaran pers BEM IPB.

Terkait itu, Keluarga Mahasiswa (KM) IPB menyampaikan tiga tuntutan pada pemerintah mengenai wacana impor beras, yaitu batalkan keputusan Impor Beras, transparansi Rencana Alokasi Impor Beras, dan peningkatan Kualitas Produksi Pertanian yang Berkelanjutan.

M Fauzan Ramdani, Ketua BEM Faperta IPB juga menyayangkan kebijakan impor oleh pemerintah. Menurutnya kebijakan tersebut akan berdampak pada kondisi ekonomi para petani kecil.

Dirinya mengaku heran dengan kebijakan impor tersebut. Pasalnya, di tengah panen raya, pemerintah justru memutuskan untuk impor sebesar satu juta ton, padahal menurut data BPS produksi beras pada tahun ini akan mengalami peningkatan.

Baca :  KAMMI Demo Balai Kota Bogor, Tangkap Mafia Pangan !

Menurut dia, para ahli pun telah menyayangkan kebijakan ini yang akibatnya akan berdampak pada perekonomian para petani kecil. “Lantas apakah kebijakan ini  hanya sebatas kebutuhan, atau dalih keterpaksaan?,” sebut Fauzan.

Reporter: Jhonie Arya
Editor: Aru Prayogi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here