Dosen IPB Gelar Pelatihan Rebranding Produk UMKM di Desa Cibadak

oleh -425 views

BOGOR (Lead.co.id) – Sebagai salah satu pelaksanaan Program Dosen Mengabdi Reguler TA 2022 merupakan bagian dari Tridharma perguruan tinggi. Pada tahun ini, salah satu kegiatannya adalah pelatihan untuk UMKM yang difokuskan di Desa Cibadak, Kabupaten Bogor, pada tanggal 17 September 2022.

Pelatihan ini mengangkat tema terkait rebranding pada produk olahan pangan UMKM di Desa Cibadak. Narasumber pada pelatihan ini merupakan dosen Departemen Manajemen FEM IPB terdiri atas Hardiana Widyastuti, S.Hut, MM.

Kegiatan itu diikuti oleh 12 UMKM Pangan Olahan di Desa Cibadak dengan didampingi oleh satu koordinator yaitu Ketua IKM UMKM Desa Cibadak, Budi Suyanto. Tujuan kegiatan itu untuk memberikan pemahaman dan peningkatan kepedulian para pelaku UMKM mengenai pentingnya branding/ rebranding produk.

Baca :  Buka UMKM Export BRIlianpreuneur 2019, Presiden Optimis Produk UMKM Bersaing di Pasar Global

Pelaksanaan kegiatan ini dimulai dengan adanya pre test yang bertujuan untuk mengetahui pengetahuan peserta terkait rebranding. Kemudian dilanjutkan dengan sesi penyampaian materi oleh narasumber.

Selanjutnya, terdapat sesi tanya jawab antara narasumber dan peserta pelatihan, dan diakhiri dengan adanya post test yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta terkait materi yang telah diberikan. Hasil pada pelatihan ini menunjukkan secara keseluruhan terdapat peningkatan pengetahuan mengenai rebranding di UMKM Desa Cibadak.

Brand (merek) tidak hanya perlu bagus tetapi benar dan harus sesuai dengan karakteristik produknya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat merek antara lain : 1) sesuai dengan brand personality, 2) market category (disesuaikan dengan jenis/bidang bisnisnya), 3) tidak menimbulkan persepsi/konotasi negatif, 4) relevan/sesuai dengan segmentasi.

Baca :  125 UMK Sorong Binaan PNM Terima NIB dari Kemeninves

Narasumber mengambil contoh merek salah satu UMKM peserta pelatihan yaitu Baslok Gurizat. Merek Gurizat (Gurih dan Lezat) cukup sesuai dengan jenis makanan yang dijual, namun harus dapat mencerminkan rasa produk yang gurih dan lezat.

Di sisi lain Narasumber mengkritisi penggunaan nama merk Mustika untuk produk risol. Hal ini karena ketika menyebut Mustika konsumen tidak berasosiasi kepada produk makanan.

Narasumber menjelaskan tentang tahapan membuat merek yang pertama harus jelas target pasar yang dituju. Kemudian menentukan kata kunci yang akan diingat konsumen saat mengkonsumsi produk, membuat list pilihan merek sebanyak-banyaknya (daftar panjang).

Baca :  Pemulihan UMKM Pasca Covid-19

Selanjutnya, cek di google agar tidak ada pilihan nama yang sama dalam usaha sejenis dan tidak mempunyai konotasi negatif. Berikutnya cek di laman HAKI (Hak Kekayaan Intelektual). Setelah dihasilkan daftar pendek (short list) dan ditanyakan kepada beberapa orang/pihak, diputuskan merek yang dipilih dan dibuat logo. Tahap akhir mendaftarkan merek ke HAKI.

Oleh karena itu, penting dilakukan suatu rebranding yaitu proses mengubah citra usaha dari suatu organisasi. Ini adalah strategi pasar untuk memberikan nama baru, simbol, atau perubahan desain untuk merek yang sudah mapan. Ide di balik rebranding adalah untuk menciptakan identitas yang berbeda untuk sebuah merek, dari pesaingnya, di pasar.