Site icon LEAD.co.id

Dosen Pulang Kampung, Tingkatkan Kemampuan Petani di Banyuwangi

BANYUWANGI (Lead.co.id) – Perhutanan sosial di Kabupaten Banyuwangi memiliki luas areal hutan lebih dari 11030 ribu Ha. Potensi itu sangat menjanjikan mengingat luasan area yang memadai dan beragamnya produk yang dihasilkannya.

Selain produk kehutanan seperti getah karet dan pinus, perhutanan sosial juga menghasilkan produk pangan diantaranya singkong, jagung, kakao, kopi ginseng porang dan lain sebagainya. Pengelolaan Perhutanan sosial harus terus ditingkatkan kualitas maupun kuantitas produknya.

Pengembangan produk pangan juga perlu ditingkatkan sehingga masyarakat tidak hanya menjual produk pangan segar saja, namun dapat menjual dalam produk setengah jadi atau bahkan produk jadi.

Upaya ini perlu dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah bagi hasil perhutanan sosial sehingga masyarakat di sekitar pangkuan hutan dapat lebih sejahtera.

Hal itu disampaikan oleh ketua Tim Dosen Pulang Kampung Perhutanan Sosial Kabupaten Banyuwangi, M Agung Zaim Adzkiya dalam Pengembangan dan Pemasaran Produk Perhutanan Sosial di Desa Jambewangi, Kabupaten Banyuwangi, pada 13 – 17 Juli 2022.

Terdapat tiga kegiatan utama dalam pengabdian masyarakat yang diselenggarakan yaitu pengembangan produk pangan, pemasaran produk dan penguatan kelembagaan.

Penguatan kelembagaan penting dilakukan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan kelembagaan, baik di tingkat Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) maupun Satuan Kerja di bawah LMDH.

Dr Soni Trison, Dosen Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga merupakan anggota Pokjanas Perhutanan Sosial menuturkan, Kelembagaan yang kuat dan saling mendukung akan meningkatkan kualitas, akuntabilitas, dan sustainability lembaga perhutanan sosial.

Disisi lain, masyarakat disekitar hutan juga perlu dilakukan pemetaan guna mensinergikan kekuatan pengetahuan dan pengalaman dari generasi sebelumnya kepada generasi milenial.

Hasil pelatihan kelembagaan menyepakati dibentuknya klaster generasi milenial yang akan memfokuskan diri dalam pengembangan produk pangan dan olahannya serta digital marketing. Sedangkan generasi pendahulu lebih fokus dalam peningkatan kualitas dan kuantitas serta keragaman hasil hutan perhutanan sosial.

Kendala yang dihadapi masyarakat pada umumnya dan perhutanan sosial adalah rendahnya harga jual produk.

Masyarakat cenderung menjual produk dalam bentuk basah atau hasil dari ladang tanpa pengolahan serta terkadang berkualitas rendah, sehingga harga jual di tingkat petani rendah. Hal itu karena masyarakat tidak atau belum sepenuhnya mengetahui akses pasar untuk menjual produk dengan harga yang layak.

“Kendala ini kami coba untuk selesaikan dengan melakukan pelatihan digital marketing kepada anggota LMDH Mitra Hutan Lestari (MHL) dan LMDH lain disekitarnya sehingga akses pasar terbuka lebar,” ujar Medhanita Dewi Renanti, Dosen Sekolah Vokasi IPB.

Pelatihan pengenalan digital marketing kepada seluruh anggota LMDH ini diharapkan mampu menjadi jembatan antara petani yang pada umumnya berumur lebih tua dengan pembeli di seluruh dunia.

Pelatihan digital marketing berbasis web maupun online marketing yang lebih spesifik yang hanya mengikut sertakan klister millennial diharapkan mampu mengelola dan meningkatkan isi digital marketing untuk sustainability program perhutanan sosial.

Kepala Desa Jambewangi, Maskur menekankan kepada seluruh anggota dan pengurus LMDH untuk menimba ilmu sebanyak banyaknya dari Dosen IPB, sehingga dapat mengembangkan produk, meningkatkan kualitas kelembagaan maupun memperluas jangkauan pemasaran.

Kades Jambewangi juga terus mensupport kegiatan yang dilakukan LMDH MHL dalam bentuk terbukanya akses penggunaan fasilitas fisik maupun non fisik di Desa Jambewangi. Hal itu tercermin dari dibukanya akses penggunaan peralatan pengolahan pangan milik desa serta izin penggunaan bangunan fisik untuk kegiatan pengolahan pangan.

Kegiatan ini juga didukung oleh Perum Perhutani Banyuwangi Barat, Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Banyuwangi sebagai mitra strategis IPB pada pengembangan usaha perhutanan sosial kawasan hutan.

Kawasan Perhutanan sosial akan mampu menjadi kawasan penyangga ketahanan pangan selain menjaga kelestarian lingkungan ujar Sugeng perwakilan Perum Perhutani.

Petani di Kawasan pangkuan hutan desa perlu didukung sehingga mampu mengurangi dampak negatif dari perambahan hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Exit mobile version