Oleh: Ferdian Mufti Azis
Hari Raya Idul adha tidak semata hadir sebagai ritual tahunan umat Islam yang berhenti pada prosesi penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, Iduladha merupakan ruang refleksi etika dan kemanusiaan yang memiliki relevansi kuat terhadap berbagai krisis sosial kontemporer yang tengah melanda masyarakat modern. Dalam konteks kehidupan hari ini—ketika kesenjangan ekonomi melebar, solidaritas sosial melemah, dan orientasi hidup semakin materialistik—nilai-nilai kurban justru menemukan urgensinya.
Kurban pada hakikatnya adalah pendidikan spiritual tentang keikhlasan, pengorbanan, dan keberpihakan kepada sesama. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS bukan sekadar narasi historis keagamaan, melainkan simbol puncak kepatuhan moral manusia kepada Tuhan sekaligus pengendalian atas ego dan kepentingan pribadi. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menegaskan:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamu-lah yang dapat mencapainya.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Ayat tersebut memperlihatkan bahwa esensi kurban tidak berhenti pada aspek simbolik maupun seremonial, melainkan terletak pada kualitas etik dan spiritual manusia. Kurban adalah manifestasi ketakwaan sosial; sebuah kesediaan untuk berbagi di tengah budaya individualisme yang semakin dominan.
Di tengah krisis sosial kontemporer, nilai kurban menjadi sangat relevan. Saat ini, masyarakat dihadapkan pada paradoks pembangunan: pertumbuhan ekonomi meningkat, namun ketimpangan sosial juga semakin tajam. Di berbagai kota besar, termasuk daerah penyangga perkotaan, kemiskinan urban, pengangguran, kerentanan sosial, hingga keterasingan antarwarga menjadi fenomena nyata yang sulit diabaikan.
Krisis tersebut tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga moral. Masyarakat modern perlahan mengalami penurunan sensitivitas sosial. Relasi antarmanusia semakin transaksional, sedangkan solidaritas kolektif mulai terkikis oleh budaya kompetisi tanpa batas. Dalam situasi demikian, Iduladha mengingatkan kembali pentingnya etika berbagi dan tanggung jawab sosial.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Tidak beriman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memperlihatkan bahwa dimensi keimanan tidak dapat dipisahkan dari kepedulian sosial. Spirit kurban sejatinya membangun kesadaran bahwa kesejahteraan bersama lebih penting dibanding akumulasi kepentingan individual.
Dalam perspektif sosial-politik, etika kurban juga dapat dimaknai sebagai kritik terhadap praktik kekuasaan yang kehilangan empati terhadap rakyat. Pengorbanan dalam makna substantif semestinya tercermin dalam kepemimpinan publik: keberanian mengutamakan kepentingan masyarakat dibanding kepentingan elite atau kelompok tertentu. Namun yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Banyak kebijakan publik lahir tanpa sensitivitas sosial yang memadai, sementara rakyat kecil sering menjadi pihak yang paling menanggung dampak.
Karena itu, Iduladha sesungguhnya mengajarkan moralitas keberpihakan. Bahwa kekayaan, jabatan, dan kekuasaan bukan sekadar instrumen privilese, tetapi amanah yang menuntut pengorbanan demi kemaslahatan bersama. Dalam konteks ini, kurban tidak lagi dipahami semata sebagai ibadah individual, melainkan etika sosial yang menuntut redistribusi kepedulian.
Lebih jauh, krisis lingkungan yang kini menjadi ancaman global juga memiliki hubungan dengan hilangnya etika pengorbanan manusia modern. Eksploitasi alam dilakukan secara berlebihan demi memenuhi hasrat ekonomi tanpa batas. Manusia ingin terus mengambil, tetapi enggan berkorban demi keberlanjutan kehidupan. Padahal, Islam mengajarkan prinsip keseimbangan dan tanggung jawab terhadap alam sebagai bagian dari amanah kekhalifahan.
Iduladha dengan demikian bukan hanya momentum ritual, tetapi juga panggilan moral untuk membangun kembali peradaban yang berkeadaban. Peradaban yang menempatkan solidaritas di atas egoisme, kepedulian di atas keserakahan, dan kemaslahatan publik di atas kepentingan sempit.
Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh konflik kepentingan, politik identitas, dan ketimpangan sosial, spirit kurban menghadirkan pesan universal: bahwa kemanusiaan hanya dapat bertahan apabila manusia masih memiliki kesediaan untuk memberi, berbagi, dan berkorban bagi sesamanya.
Maka, pertanyaan mendasar yang patut direnungkan pada Iduladha hari ini bukan sekadar seberapa besar hewan kurban yang disembelih, melainkan sejauh mana manusia mampu menyembelih egoisme, keserakahan, dan ketidakpedulian sosial dalam dirinya sendiri.
Selamat Hari Raya Idul adha 1447 Hijriah. Semoga spirit pengorbanan, keikhlasan, dan solidaritas sosial senantiasa hidup dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Penulis adalah Direktur BRAIN (Bogor Research and Innovation Network)

