BOGOR (LEAD.co.id) | Universitas Indonesia (UI) melalui Program Pengabdian Masyarakat (Pengmas) gandeng Yayasan Diffable Action Indonesia melalui kegiatan Focus Group Disscussion (FGD) dengan tema “Peningkatan Aksesibilitas Penyandang Disabilitas pada Sarana Transportasi Umum di Kota Bogor”.
Kegiatan yang dibentuk dalam rangka penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak disabilitas ini berlangsung di Meeting Room VIP BPMSPH, Kota Bogor, Selasa (24/09/2024). Dihadiri 12 orang peserta dengan beragam jenis difabel.
Kegiatan FGD ini bertujuan untuk mendengarkan pengalaman para difabel dalam menggunakan moda transportasi publik dan menampung masukan-masukan terkait transportasi publik ramah difabel. Terdapat 3 orang Fasilitator dari UI yang memandu jalannya FGD ini.
Husnul Fitri selaku Ketua Pelaksana Pengmas UI dari Sekolah Kajian Stratejik dan Global UI menyampaikan, perumusan kebijakan publik.
“Ini perlu didukung dengan peningkatan kesadaran, pengetahuan dan ketrampilan para pemangku kebijakan dalam merumuskan perencanaan transportasi umum yang bersifat universal, inklusif dan ramah disabilitas,” sampainya.
Menurutnya, Difabel adalah salah satu kelompok rentan yang saat ini masih sering termarjinalkan.
“Padahal seharusnya kelompok rentan mendapatkan Layanan Prioritas terkait dengan beberapa hambatan yang melekat pada dirinya,” tambahnya.
Ditempat yang sama, Sekjen YDAI, Isna menuturkan, bahwa Difabel secara personal memiliki karakter tersendiri, ditambah dengan kebutuhan aksesibilitas yang berbeda pada masing-masing difabel maka jadi lebih komplek.
“Dibutuhkan pemahaman khusus pada masyarakat yang berkecimpung di moda transportasi. Selain tersedianya sarana prasarana yang aksesibel. Pada FGD ini merupakan ungkapan pengalaman juga masukan dari para peserta,” tuturnya.
Selain itu, pendamping peserta Tuli, Lusi menambahkan, peserta Tuli masih kesulitan cara berkomunikasi dengan pengemudi.
“Ketika sudah sampai tujuan dan akan turun dari kendaraan, merkea kesulitan untuk berkomunikasinya,” tambahnya.
Selain itu, peserta Daksa pengguna kursi roda menyampaikan keluhannya pada Halte bis yang belum ada jalur naiknya.
“Pemakai Prothesa masih kesulitan mengakses Halte Bis yang tinggi dan cara menaiki bis bertangga,” ujar Iin difabel daksa pemakai Prothesa.
Budi difabel daksa polio juga menuturkan Jalur angkot dan bis masih jauh dari perkampungan.
“Untuk menuju ke jalan raya kami para difabel harus berjalan kaki 400 meter yang jelas terkadang kamipun kesulitan,” ungkanya.
Diketahui, Moda transportasi umum yang ada dikota Bogor secara kuantitas sudah memadai. Rute layanannya juga sudah mengakomodir hampir semua jalur dengan diluncurkannya Bis Kita.
Untuk beberapa jenis difabel (difabel mental- intelektual, difabel daksa tanpa alat bantu, ), sarana prasarana moda transportasinya saat ini telah memenuhi kebutuhan difabel.
Sementara itu, Ketua Umum YDAI, Teguh meyampaikan keinginannya pada moda transportasi publik yang dianggap ramah difabel secara keseluruhan.
“Saat ini difabel daksa pemakai prothesa, difabel daksa pasca stroke, difabel daksa pengguna kursi roda, difabel sensorik netra dan difabel sensorik rungu, belum banyak terfasilitasi dan jelas hal ini harus ditambahkan dan harus dibenahi demi terwujudnya transportasi publik ramah difabel,” harapnya.
“Kalo kita memiliki sarana tranportasi publik ramah difabel, fasilitas tersebut bukan hanya bisa di akses oleh difabel. Namun bisa juga di akses oleh kelompok rentan lainnya, seperti perempuan, anak, ibu hamil dan lansia,” imbuhnya.
Dalam kegiatan FGD ini YDAI memberikan beberapa rekomendasi seperti;
1. Memperluas aksesibilitas fisik berupa tangga yang dilengkapi Ramp di Halte atau tangga yang dilengkapi Stairlift di stasiun kereta api.
2. Transportasi publik juga menyediakan kursi prioritas minimal 2 pada angkot (angkutan kota) dan space/ruang yang cukup untuk kursi roda pada Bis.
3. Untuk Bis disediakan Portable Ramp untuk memudahkan pengguna kursi roda naik ke kendaraan.
4. Di Stasiun atau Halte juga menyediakan Ruang Tunggu Prioritas, Kamar mandi akses, dan jalur Guiding Block untuk difabel netra.
5. Pelatihan dan Edukasi pada Kru/Pengemudi Transportasi Publik terkait Definisi Difabel, Ragam Difabel, Karakter Difabel, Kebutuhan Aksesibilitas Difabel dan Layanan Ramah Difabel.
5. Informasi yang mudah diakses berupa Papan Informasi di Stasiun atau Halte juga di angkutan kota (angkot), mulai dari Rute, Fasilitas dan cara mengakses bantuan. Kedepannya bisa berupa Aplikasi.
6. Informasi Rute perjalanan dan lainnya juga diinformasikan secara verbal untuk memudahkan difabel netra dalam mengakses transportasi publik.
Diakhir, Isna berharap untuk bersama-sama mengawal kebijakan Transportasi Publik Ramah Difabel di Kota Bogor.
“Meski butuh proses Panjang, yang terpenting saat ini adalah langkah awal dan pastinya akan ada rangkaian takdir yang menyertai. Semoga semua ikhtiar ini bermanfaat bagi semua dan Transportasi Publik Ramah Difabel di Kota Bogor bisa segera terwujud,” pungkanya.
Editor : Aruprayogi

