LEAD.co.id | Bahrain menyatakan menyatujui perjanjian menormalisasi hubungan dengan Israel, pada Jumat (11/9/2020). Normalisasi itu diumumkan Presiden Donald Trump pada peringatan 19 tahun serangan teroris 11 September 2001 setelah dia melakukan panggilan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa.
Ketiga pemimpin itu juga mengeluarkan pernyataan bersama secara singkat yang menandai perjanjian normalisasi negara Arab kedua dengan Israel dalam dua bulan terakhir.
Pengumuman ini setelah seminggu diadaknnya penandatanganan hubungan UEA – Israel yang dinisiasi Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Menteri luar negeri Bahrain akan menghadiri acara itu dan menandatangani perjanjian terpisah dengan Netanyahu.
Kesepakatan Jumat adalah kemenangan diplomatik lain bagi Trump kurang dari dua bulan sebelum pemilihan presiden dan kesempatan untuk menopang dukungan di antara orang-orang Kristen evangelis pro-Israel. Selain kesepakatan UEA, Trump minggu lalu mengumumkan kesepakatan prinsip bagi Kosovo untuk mengakui Israel serta Serbia yang memindahkan Kantor Kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Kesepakatan ini dipandang melemahkan bagi para pemimpin Palestina, yang telah mendesak negara-negara Arab untuk menahan pengakuan sampai mereka mendapatkan negara merdeka.
“Ini adalah tusukan lain di belakang perjuangan Palestina, rakyat Palestina dan hak-hak mereka,” kata Wasel Abu Yousef, seorang pejabat senior Palestina.
Pemimpin Palestina ini menilai pengakuan tersebut adalah bentuk pengkhianatan terhadap Yerusalem dan Palestina. “Kami sama sekali tidak melihat pembenaran untuk normalisasi bebas dengan Israel ini,” paparnya.
Seperti perjanjian UEA, kesepakatan Bahrain-Israel akan menormalkan hubungan diplomatik, komersial, keamanan, dan hubungan lain antara kedua negara. Bahrain, bersama dengan Arab Saudi, telah mencabut larangan penerbangan Israel menggunakan wilayah udaranya. Persetujuan Saudi terhadap perjanjian tersebut telah dianggap sebagai kunci dari kesepakatan tersebut.
Reporter: Sally Sumeke
Editor: Aru Prayogi
Sumber: Associated Press

