BOGOR (Lead.co.id) – Memaknai Hari Perempuan Internasional , Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik (DKSRA) IPB University mengadakan “The 49th Strategic Talks: Peran Perempuan dalam Pembangunan Berkelanjutan: Dari Inovasi Akademik ke Transformasi Sosial”, pada Kamis, 13 Maret 2025.
Diskusi tersebut menghadirkan tiga narasumber yang merupakan pakar dan juga praktisi dalam bidang gender dan pembangunan sosial. Dalam pengantar diskusi, Prof. Ernan Rustiadi, Wakil Rektor IPB University bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim menegaskan pentingnya pembangunan perempuan untuk kemajuan Indonesia.
Prof. Anuraga Jayanegara selaku Direktur Kajian Strategis dan Reputasi Akademik, juga menambahkan bahwa, konsep kesetaraan gender bukan berarti laki-laki dan perempuan harus memiliki kesempatan yang sama. Tetapi, kesetaraan gender berarti pihak tertentu berhak mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk mengejar gap yang ada.
Narasumber pertama, Prof. Anna Fatchiya, memberikan pemaparan terkait konsep gender dan kesetaraan gender, serta peran perempuan sebagai pendorong inovasi di sektor pertanian dan pangan. Sebagai guru besar di bidang ilmu penyuluhan gender, dia menjelaskan bahwa, gender merupakan suatu konstruksi sosial budaya yang dipengaruhi oleh struktur masyarakat yang dapat berubah sesuai perkembangan zaman.
“Perbedaan peran pada konstruksi sosial ini yang kemudian dapat menimbulkan ketidaksetaraan atau kesenjangan antara laki-laki dan perempuan.” jelasnya. Prof Anna menegaskan bahwa pengarusutamaan gender (PUG) merupakan kunci dari pembangunan yang responsif gender.
Narasumber selanjutnya, Betty Epsilon Idroos selaku komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, memberikan bahasan terkait kebijakan dan kepemimpinan perempuan. Dialrinya memaparkan beberapa tantangan yang dihadapi oleh kaum perempuan di sektor politik.
“Dalam sistem proporsional terbuka, perempuan dimanfaatkan hanya untuk mendulang suara, tapi tidak diharapkan untuk terpilih.” ucap dia ketika memaparkan tantangan keterpilihan perempuan dan kontestasi politik.
Dia juga menjelaskan bahwa perempuan harus lebih berani untuk membuktikan bahwa dirinya memiliki kompetensi untuk menjadi seorang pemimpin.
Narasumber terakhir, yaitu Tatiek Kancaniati yang merupakan praktisi social entrepreneur sekaligus founder dari Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru, menyampaikan terkait kisahnya membangun Desa Tegalwaru dengan memberdayakan kaum perempuan di sana.
Dirinya menjelaskan bahwa, mapping permasalahan dan potensi merupakan tahap awal yang harus dilakukan jika ingin mengembangkan suatu kelompok. Dengan mapping ini, bisa mengetahui seberapa besar kesenjangan yang ada, harapan dan keinginan masyarakat sekitar, serta potensi yang mereka miliki. Dengan begitu, program pengembangan masyarakat yang kita lakukan akan lebih objektif dan spesifik dalam menyelesaikan permasalahan yang ada.
Kegiatan ini diakhiri dengan tanya jawab dengan para peserta di Zoom yang dipimpin oleh Dr. Beginer Subhan sebagai moderator. Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 100 peserta dari berbagai stakeholder, termasuk akademisi, praktisi, pembuat kebijakan, dan masyarakat umum.
Sebagai kesimpulan, Dr. Beginer menyampaikan bahwa kita semua masih sangat perlu menyuarakan kesetaraan gender pada publik. Karena, kesetaraan gender ini adalah faktor penting untuk mencapai kesejahteraan dan tujuan-tujuan keberlanjutan.

