Site icon LEAD.co.id

Indonesia Sebagai Ekor Peradaban

Indonesia, Ekor Peradaban, Peradaban, Deky Ikhwal

Oleh: Deky Ikhwal Pratama

Pada dewasa ini kemajuan teknologi menjadi suatu topik yang sangat diminati untuk dibicarakan oleh semua kalangan. Bagaimana tidak pembicaraan ini dapat dilihat dari data atau survey membuktikan bahwa masyarakat menggunakan teknologi begitu tinggi. Data we are social membuktikan yakni Total Populasi (jumlah penduduk): 7,750 milyar; Pengguna Mobile Unik: 5,190 milyar; Pengguna Internet: 4,540 milyar; Pengguna Media Sosial Aktif: 3,800 milyar.

Maka hal ini mempengaruhi pada perkembangan peradaban ke arah Society 5.0. Society 5.0 merupakan era dimana masyarakat yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era Revolusi industri 4.0 seperti Internet on Things (internet untuk segala sesuatu), Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), Big Data (data dalam jumlah besar), dan robot untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.

Hari ini manusia dipaksa untuk sekedar melakukan pemanfaatan pada teknologi, mengingat manusia begitu membutuhkan smartphone dan teknologi penunjang yang lain untuk menunjang kebutuhan kehidupannya. Dapat dilihat dalam contoh yang nyata yakni dalam proses belajar mengajar misalnya di tengah pandemi ini, penggunaan teknologi begitu tinggi dengan memanfaatkan aplikasi meeting seperi zoom ataupun google meet.

Maka patut dilihat dan diselami apakah perkembangan teknologi saat ini diinisiasi juga oleh pemerintah atau adanya ikut andil pemerintah di dalamnya. Hari ini dalam kacamata pandangan saya Indonesia dalam taraf apakah mempengaruhi perkembangan peradaban hari ini, nyatanya belum. Dimana responnya hanya bersifat mengonsumsi.

Hanyalah reaksi yang dilakukan dari perkembangan peradaban dunia. Seperti wacana pembuatan bukit algoritma sebagai pusat riset dan teknologi Indonesia. Indikasi Indonesia hanya melakukan respon reaksioner ini dilihat dari Budiman Sudjatmiko dalam pendapatnya sebagai inisiator bukit algoritma  yakni “Dia ingin Indonesia sebagai bangsa berperan aktif dalam revolusi industri 4.0 yang sudah di depan mata.

Soalnya dalam revolusi industri sebelumnya Indonesia hanya sebagai penonton.” Beliau menyatakan Indonesia sebagai penonton ini menjadi suatu pendapat yang bagi saya, bukit algoritma ini sebagai respon reaksioner karena dirasa Indonesia perlu melakukan keikutsertaan dalam perkembangan era. Seharusnya jikalau berbicara pengaruh maka Indonesia-lah yang punya inisiatif mendahului atau ikut serta mempengaruhi pendahuluan di era society 5.0.

Wacana bukit algoritma sama saja memperlihatkan bahwa Indonesia melakukan respon reaksioner bukannya berpikir diluar zaman atau era saat ini. Maka saya dapat intrepetasikan Budiman Sudjatmiko belum punya kemandirian berpikir.

Kita sebagai bangsa hari ini tidak melakukan revolusi atau evolusi pemikiran yang menjadikan kita sebagai kiblat suatu peradaban karena kita hanya mencontoh suatu negara. Berhubungan dengan teori modernisasi dalam teori perubahan sosial.

Seharusnya ada perubahan dalam skema negara menjadi Gerakan sosial, karena Gerakan Sosial menghadirkan perjalanan yang berliku menuju perubahan yang signifikan, maka memang membutuhkan proses yang lama namun proses ini yang mendewasakan kita sebagai negara berbangsa yang perlu berpikir tentang kemandirian peradaban.

 

Penulis adalah mahasiswa Universitas Pakuan (Unpak) Bogor

Exit mobile version