Site icon LEAD.co.id

IPB Gelar Festival Bunga dan Buah Nusantara

BOGOR (Lead.co.id) – Institut Pertanian Bogor (IPB) telah resmi membuka Festival Bunga dan Buah Nusantara Tahun 2022, bertempat di Alun-alun Kota Bogor, pada Jumat (21/10/2022).

Dodik Ridho Nurrochmat selaku Wakil Rektor 3 IPB menyampaikan, Festival itu digelar karena bunga dan buah menjadi salah satu komoditas yang menghasilkan profit tertinggi di Indonesia.

Menurut dia, lahan yang ditanami dengan buah dan bunga harganya jauh lebih tinggi dibanding ditanam pohon kayu, atau tanaman lainnya. Karenanya, dia mengajak untuk memanfaatkan lahan dengan jenis tanaman tersebut.

“Ini harus kita kembangkan, kita perlu memanfaatkan lahan itu, salah satunya dengan buah dan bunga,” kata dia.

“Insyaallah dengan bunga dan buah, setidaknya 1 hektar itu dapat Rp.500 juta. Mudah-mudahan dengan pemahaman yang semakin baik, maka banyak anak muda yang akan menjadi petani bunga dan buah,” tambah dia.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian RI, Dr Liferdi menjelaskan, bahwa Indonesia sebagai negara tropis yang mempunyai potensi untuk pengembangan buah dan bunga. Namun data dari BPS (Badan Pusat Statistik) memunjukan bahwq konsumsi buah di Indonesia itu baru sebagian dari rekomemdasi WHO.

“WHO merekomendasikan konsumsi buah 150 gram per kapita per hari, sementara masyarakat Indonesia baru 82 gram perkapita perhari. Nah ini apakah karena tidak ketersediaan atau pola kepemahaman karena buah diposisikan sebagai makanan tambahan setelah makan,” tuturnya.

Untuk itu, Dr Liferi akan mendorong masyarakat agar mengkonsumsi buah. Sebab, menurut dia, untuk masyarakat menengah keatas buah sebagai gaya hidup.

“Orang ingin glowing konsumsinya buah, artinya potensi untuk peningkatan buah ini masih terbuka lebar,’ ujarnya.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto sangat mengapresiasi dengan di helar Festival Bunga dan Buah Nusantara oleh IPB University, ini bagus kalau digelar setiap tahun. Tapi Kota Bogor belum mempunyai Perda atau Perwalinya.

Dirinya mengatakan, bahwa seperti di Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara acara seperti ini memiliki perda dan perwali. Sehingga bisa dipastikan ada konektivitas antara event dan kebijakan.

“Kita bukan daerah produksi tapi etalasenya bisa banget, disini kita punya banyak banget outlet-outlet bunga dan buah dan taman taman,” kata Bima.

Bima menambahkan, jika difokuskan untuk mengkoneksikan antara kebijakan dan destinasi, maka dampaknya akan panjang, untuk itu harus devaluasi sejauh mana penyelenggara serius dan komitmen terhadap produk lokal utamanya bunga dan buah.

“Kita punya Bogor street festival di bulan Februari, Helaran di bulan Juni, Festival Merah Putih di Agustus, dan di bulan lain kita punya Festival Bunga dan Buah Nusantara, itu kan keren, seperti Tomohon ada unsur budaya dan seninya, kendaraan dihias dengan bunga dan buah, itu nyambungnya ke pariwisata dan ke okupansi hotel,” papar dia.

Bima juga menekankan harus ada evaluasi bagi kebijakan dari hulu ke hilir untuk mendorong UMKM utamanya komumitas bunga dan buah.

“Bagaimana kita mengevaluasi supaya bisa nyambung dengan destinasi pariwisata,” tutupnya.

Exit mobile version