Site icon LEAD.co.id

Iran dan Turki Mengutuk Serangan Armenia ke Warga Sipil

Iran, Turki, Serangan, Armenia, Warga, Sipil

Petugas berupaya mengevakuasi warga sipil di Kota Ganja, Azeri, yang menjadi korban serangan oleh pasukan Armenia. [Foto: Fars News Agency]

LEAD.co.id | Azerbaijan, Turki hingga Iran, mengecam serangan pihak Armenia yang menyasar puluhan rumah warga sipil di kota Ganja, pada hari Sabtu (17/10/2020). Sedikitnya 13 warga sipil telah tewas, dan lebih dari 40 orang luka-luka dalam serangan tersebut.

Serangan rudal dilaporkan telah meratakan rumah rumah pada Sabtu, menewaskan dan melukai warga sipil di Kota Ganja yang sedang tidur. Namun, pihak Armenia membantah berada di balik serangan itu, sebaliknya menuduh Azerbaijan terus menembaki Stepanakert, kota utama di wilayah Nagorno-Karabakh.

Menurut asisten presiden Azeri Hikmat Hajiyev, “lebih dari 20 rumah hancur” dalam serangan itu. Sementara, Mushfiq Jafarov, seorang anggota parlemen dari Ganja mengatakan, dua anak termasuk di antara mereka yang terbunuh. “Hanya ada warga sipil yang tinggal di sini,” kata Jafarov, kepada Al Jazeera.

Beberapa jam setelah penembakan, Presiden Azeri Ilham Aliyev berjanji akan membalas dendam. “Tentara negara akan membalas terhadap Armenia dan ‘membalas dendam di medan perang’”, Ilham Aliyev seperti dikutip Al Jazeera.

Turki, sekutu dekat Azerbaijan, mengutuk serangan itu dan menyebutnya sebagai “kejahatan perang”. “Armenia masih melakukan kejahatan perang dan pembantaian warga sipil,” kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu dalam tweet.

Mevlut Cavusoglu juga mengatakan, “berdiam diri melawan kekejaman ini sama dengan berbagi tanggung jawab atas pembunuhan ini.”

Sementara, kantor berita Fars News Agency (FNA) melaporkan, Kedutaan Besar Iran di Azerbaijan menyesalkan pembunuhan dan cedera warga sipil di kota Azeri Ganja oleh pasukan Armenia.

Dalam pernyataannya, Kedutaan Besar Republik Islam Iran mengutuk keras serangan rudal tadi malam di Ganja, kota terbesar kedua di Azerbaijan, dan pembunuhan serta melukai sekelompok warga sipil.

Iran menekankan bahwa, menargetkan kota-kota yang tidak berdaya dan orang-orang yang tidak bersalah bertentangan dengan norma dan hukum yang diakui secara internasional. Perilaku seperti itu adalah salah satu kejahatan perang yang harus dihentikan secepat mungkin.

Serangan di Ganja, yang berpenduduk lebih dari 300.000 orang, terjadi hanya enam hari setelah sebuah rudal menghantam bagian pemukiman lain kota, menewaskan 10 warga sipil dan menyebabkan banyak orang gelisah.

“Untungnya saya dan keluarga saya tidak ada di rumah. … Rumahku hancur,” kata Sevil Aliyeva, seorang penduduk dari Ganja, kepada Al Jazeera.

Petugas penyelamat sedang menggali reruntuhan untuk menemukan korban selamat. Seorang pria terkubur di bawah puing-puing selama 30 menit sebelum diselamatkan.

Melalui FNA, Iran menyatakan telah berulang kali meminta penyelesaian konflik secara damai dan mendesak penghentian permusuhan di Nagorno-Karabakh.
Sengketa Nagorno-Karabakh dimulai pada 1988 dan berujung pada konflik militer pada 1992.

Dua hari lalu, menteri luar negeri Armenia dan Azeri melalui mediasi Rusia menyepakati gencatan senjata, tetapi pelanggaran gencatan senjata menunjukkan bahwa perjanjian gencatan senjata itu rapuh.

Armenia dan Azerbaijan melanjutkan bentrokan di perbatasan antara kedua negara pada 27 September, dan saling menyalahkan atas terjadinya kekerasan tersebut.

Reporter: Sally Sumeke
Editor: Aru Prayogi
Sumber: Al Jazeera, AFP, FNA

Exit mobile version