LEAD.co.id | Kader Muda Darussalam (KMD) mengadakan kajian ‘Pekan Sejarah’ dengan tema “Tarik Ulur Peran Pemuda pada Abad 18-19”, pada Selasa, 3 November 2020.
Samhadi Ketua KMD mengatakan bahwa, kajian ini sebenarnya untuk merefleksikan kembali semangat pemuda dalam menghadapi dinamika sosial masyarakat.
“Kajian ini semoga menjadi jalan Ghiroh temen-temen untuk berjuang untuk Desa dan Negara,” ungkap Sam.
Sam juga mengatakan akibat hujan yang lumayan deras mengakibatkan anggota KMD tidak bisa hadir semua. “Karena kondisi hujan yang lumayan deras dan jarak yang lumayan berjauhan,” tambahnya.
Pada kajian tersebut, pengurus mendatangkan Mahmudi, Mahasiswa STIU Darussalam yang merupakan alumni Yayasan tahun 2015. Menurutnya, untuk mengaktualisasikan nilai-nilai sejarah dalam kehidupan sosial modern tidak harus lagi dengan gelanggang dan senjata tajam, melainkan cukup dengan keilmuan dan kematangan berpikir.
“Perjuangan kita agaknya berbeda dengan perjuangan pemuda jaman dahulu, namun sejatinya cikal bakal perjuangan para pendahulu kita juga melalui lajur Pendidikan yang cukup,” jelas Mahmud.
Mahmud menjelaskan, tentangan-tantangan yang harus siap di hadapi pemuda tidak lain terbagi menjadi dua faktor; faktor keluarga dan faktor zaman, melihat pola berfikir masyarakat Madura yang cenderung konserfatif dan pragmatis menjadi point penting yang harus dijadikan kesiapan mental pemuda desa, juga dengan berbagai fasilitas yang tidak menutup kemungkinan bisa menggiring ke jalan yang lebih tidak manusiawi.
“Pemikiran kulot yang sudah mengakar di plosok Madura harus di cukupkan, cukup orang tua kita yang menjadikan uang sebagai ukuran sukses,” ujarnya.
Dia juga menjelaskan bahwa sebagai sebuah solusi dengan tantangan-tantangan tersebut teman-teman pemuda harus pintar-pintar mengolah cara menarik perhatian keluarga dengan komunikasi yang sopan.
“Kita harus belajar cara komunikasi yang benar agar apa yang kita inginkan dapat dipahami untuk masa depan lebih gemilang.”
Di akhir pembahasannya ia menyampaikan pesan kepada peserta kajian itu untuk terus berproses dan jangan pilah-pilih teman untuk diajak berbagi pemahaman.
“Berproseslah dimanapun, kapan pun dan dengan siapa pun,” tutupnya memberi pesan.
Penulis: Machmoed
Editor: Aru Prayogi

