Oleh: Ace Sumanta
Dari zaman dulu Sunda selalu memimpin secara kultural dan history. Kita perhatikan secara sejarah ada dua kitab “Karatuan” dari Sunda telah banyak melahirkan para pemimpin tradisional di Nusantara.
Banyak raja-raja Nusantara yang lahir dari Sunda. Tidak bisa dinafikan kalau kita banyak membaca sejarah. Namun kenapa dalam kepemimpinan nasional dari sejak Orde lama hingga kini orde reformasi tidak bisa melahirkan pemimpin nasional? Orang Sunda banyak potensi dan siap bersaing baik dari teknis, akademis maupun kecakapan dalam manajemen kepemimpinan.
Hal itu pernah di singgung oleh penulis buku sejarah Aan Merdeka Permana sejak tahun 2011. Aan sudah banyak mengupas dan menyodorkan konsep. Begitupun sekarang dalam kolom “Pakar Kongres Sunda” sudah mulai ada yang menyabit-nyabit soal kepemimpinan orang Sunda. Bahkan wajar kalau pendapat itu mengemuka.
Sunda secara nasional menjadi suku dan peradaban kedua setelah Jawa. Namun faktanya yang menjadi presiden selalu di luar Sunda. Begitu. Apakah orang Sunda tidak punya kendaraan politik, atau punya pemikiran untuk apa orang Sunda menjadi Presiden RI. Apakah orang Sunda akan mementingkan Sunda?.
Dalam filsafat kepemimpinan jika siapapun menjadi pemimpin tidak boleh mementingkan satu ras, satu suku dan satu golongan. Harus memiliki landasan kepemimpinan universal dan untuk semua golongan serta semua suku secara adil. Harus mampu menonjolkan aspek kemajuan untuk semua golongan.
Terkenal dalam sejarah orang Sunda itu baik hati, dan selalu mementingkan orang lain dan bersifat tawadhu. Hal itu yang sulit bagi orang Sunda. Tentu akan menuai protes jikalau pemimpin hanya berpihak pada satu golongan, satu suku dan ras. Ketidakadilan dari sana-sini akan timbul protes manakala pemimpin tidak berbuat adil.
Oleh karena itu, akhirnya orang Sunda akan balik kanan walau pun peluang ada. Begitu juga soal kepribadian dan fans akan meruntuhkan kewajiban pemimpin yang mengayomi rakyatnya. Selanjutnya soal spekulasi dan ketergantungan pemilik modal.
Nah dengan demikian sanggup kah jika internal apalagi di luar partai mencalonkan kepemimpinan nasional. Apalagi tampil secara individual. Hanya orang yang kurang waras yang siap melabrak undang-undang Pemilu.
Adalah wajar di awal tahun politik 2023 semua spekulasi berkembang. Harapannya sangat mungkin di tahun ini ada orang Sunda yang berani tampil. Begitu juga sosok agung para kesatria yang berani menerobos semak belukar.
Para pengamat politik dan realitas yang terjadi adalah diusung oleh partai dan gabungan banyak partai (koalisi) dalam mengusung Calon Presiden. Sesama orang Sunda biasanya berlaku “berbisik”. Bisikan itu akan keluar dari kepentingan pribadi dan golongan. Begitu juga saat kita dukung apabila ada orang Sunda yang mencalonkan kepemimpinan nasional.
Sunda tidak selalu pituin lahir dan besarnya dari Sunda melainkan lahir di daerah Sunda serta mendapatkan istri atau suami orang luar Sunda. Bisa juga tinggal di Sunda walau aslinya bukan dari Sunda. Lebih tepat lagi mampu beradaptasi dengan kebudayaan Sunda. Tentu sangatlah fleksibel kalau di Sunda.
Oleh karena itu, kepemimpinan Sunda akan mengobati rasa rindu jika terwujud untuk tahun 2024. Jadi kita harus memulai kampanye dan gaungkan kepemimpinan orang Sunda tahun 2024.
Memang dirasa norak atau terlalu optimis. Itu realita sesuai kenyataan yang mengacu pada prasasti dan cerita karuhun Sunda. Sunda nanjer manca buana. Di nu kiwari ngancik nu bihari seja ayeuna sampeureun jaga.
Penulis adalah Ketua Umum Yayasan Budaya Hanjuang Bodas, penulis 65 buku Antologi Puisi, dan Tim Penulis buku Sejarah Bogor penerbit Diskarpus Kota Bogor.

