Kesan Saya Terhadap Figur Mahfud MD

oleh -595 views
Menko Polhukam Mahfud MD, Radikalisme Agama, Khilafah
Menko Polhukam, Moh. Mahdud MD saat sambutan acara Executive Gathering Kementerian Keuangan 2020, Jakarta, Jumat (17/1/2020).

Oleh: Dr Apendi Arsyad

Subhanallah, sebenarnya saya dan mungkin kita yang senang mengamati dinamika politik tanah air Indonesia, sudah sangat mengenal sepak terjang seorang tokoh nasional yang bernama bapak Prof Dr H Mahfud MD. Kini beliau menjabat di Pemerintahan era Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Koordinator Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamananan Republik Indonesia (Menko Polhumkam) yang sangat prestisius itu.

Biasanya jabatan strategis tersebut selama ini dijabat seorang mantan petinggi militer (ABRI) berpangkat terakhir Jenderal, tetapi saat ini Menko Polhumkam RI itu dijabat seorang sipil, akademisi yakni Prof Dr H Mahfud MD.

Saya berterus terang sebagai mantan fungsionaris dan aktivis organisasi kemahasiswaan Islam yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) 1981-1986, dan sejak tahun 1987 hingga sekarang menjadi alumni HMI dan aktif sebagai anggota dan di kepengurusan Korps Alumni HMI (KAHMI) Majelis Daerah (MD) Bogor.

Untuk periode sekarang di MD KAHMI Bogor, saya diberi amanah sebagai Sekretaris Dewan Penasehatnya, dan periode sebelumnya pernah menjabat pengurus harian sebagai Sekretaris MD KAHMI Bogor, konsekwensinya saya sering mendapat kesempatan mengikuti langkah-langkah (sepak terjang) senior HMI saya itu. Jadi, untuk selanjutnya Bapak Mahfud MD, karena beliau warga KAHMI, maka saya memanggilnya Kakanda Mahfud MD.

Yang ingin saya katakan disini bahwa saya merasa bangga dan beruntung menjadi bagian dari HMI dan KAHMI. Kebanggaan saya ini muncul salah satu faktornya adalah melihat peran dan fungsi strategis yang dimainkan para alumni HMI/KAHMI dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia. Salah satu tokoh panutan yang patut disuritauladani dan dibanggakan, serta sangat menonjol pemikiran-pemikirannya, populer akhir-akhir ini adalah Kakanda Mahfud MD.

Beliau dahulu semasa menjadi mahasiswa adalah seorang aktivis-kader HMI di kampusnya Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, kebetulan UII merupakan tempat lahirnya HMI tahun 1947, lk 2 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan RI.

Kakanda Mahfud mengabdi di almamaternya sebagai Dosen, bertugas mengajar dan membimbing mahasiswanya, meneliti sesuai bidang keilmuannya dan melakukan pengabdian pada masyarakat, yang disebut tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi, hingga beliau memperoleh jabatan akademik tertinggi bergelar guru besar (Profesor).

Sejak menjadi alumni HMI, beliau sangat aktif di kepengurusan KAHMI, dan bahkan beliau pernah menjadi pucuk pimpinan KAHMI Nasional (KAHMINAS) sebagai Koordinator Presidium KAHMINAS. Di lingkungan KAHMI, kakanda Mahfud MD sangat dikenal dan disegani, sering diundang sebagai pembicara di forum-forum seminar dalam berbagai issu dan topik/tema, beliau sampaikan dengan kontennya yang bernas, menginspirasi dan bahkan sangat mencerahkan audience.

Dalam berbicara di berbagai forum sangat tampak wataknya yang jenius, ada kejujuran (integrity) dan kualitas keilmuan serta kepakarannya dalam hukum tata negara dalam berbagai perspektif cukup mendalam, terutama juga penguasaan dan pengamalan keagamaan Islam (Dinnulislam) sungguh sangat baik.

Dalam forum-forum ilmiah, kerohanian dan bahkan forum-forum membahas dinamika perpolitikan dan penegakkan hukum, beliau begitu lancar bicara dan fasihnya mengutip ayat-ayat Al Quran, hadist Nabi Muhammad SAW dan mengungkap / mengutip pendapat para ulama terkemuka yang pernah beliau baca dan pelajari dalam khazanah Kitab Kuning versi Nahdatul Ulama.

Kakanda Mahfud MD adalah orang asal kelahiran dan etnis Madura, dari keluarga Nadhiin banget, insyaAllah Nahdliyin struktural dan kultural-garis lurus.

Untuk dimaklumi, dulu di organisasi kemahasiswaan HMI, kami pernah ikut berbagai pendidikan dan pelatihan kader kepemimpinan secara berjenjang baik itu Maperca, LDK, maupun Intermediate dan Advance Trainning, serta terkadang ada mendapat tambahan di kegiatan berbagai kursus (senior course) keahlian dan ketrampilan bagi Pengurus HMI yg terpilih dan beruntung.

Baca :  Sebagai Putra Daerah, Menkopolhukam Bangga Pamekasan jadi Tuan Rumah MTQ XXIX

Materi diklat yang sangat populer yang mencerahkan di masa saya menjadi anggota dan aktifis HMI adalah Nilai Dasar Perjuangan (NDP) dengan core valuenya “5 Insan Cita HMI” yang kemudian berganti nama Nilai Identitas Kader (NIK) sejak Kongres HMI ke 16 di Kota Padang, Sumatera Barat yang sangat dinamik. Dimana, salah satu keputusannya menetapkan Azas Tunggal Pancasila sebagai dasar berorganisasi dalam Anggaran Dasar (AD) HMI, sesuai dengan UU Nomor 8 tahun 1985 tentang Keormasan, di era Orde Baru, Presiden RI Jenderal Soeharto dan Menporanya Kakanda dr. H. Abdul Gafur, tokoh angkatan 66 dan alumni HMI.

Dampak keputusan Kongres HMI ke 16 tersebut, dimana saya hadir sebagai salah seorang pesertanya mewakili kepengurusan HMI Badko Jawa Barat, ikut menyaksikan dinamika jalannya persidangan yang “alot dan panas”, maka akhirnya HMI terpolarisasi atau “terbelah” menjadi 2 kubu.

Kubu peserta kongres HMI yang setuju menerima azas tunggal Pancasila tercantum dalam AD HMI, dinamakan HMI Dipo (sekretariat PB HMI Jaln Diponegoro No 16 Jakarta) dibawa kepemimpinan Ketua Umum PB HMI Kakanda Ir. M Soleh Khalid, sedang kubu kongres HMI yang menolak, mereka membentuk dan mendeklarasikan HMI-MPO. MPO adalah singkatan dari Majelis Penyelamat Organisasi, dibawa kepemimpinan sahabat saya Eggy Sujana SH berikutnya Tamsir Lindrung dst.

Apa yang saya narasikan secara singkat ini adalah bermaksud menerangkan sebuah fenomena berorganisasi di HMI begitu dinamik. Saya kira kedinamikaan berorganisasi di lingkungan HMI inilah salah satu faktor pemicu peningkatan kualitas kader kepemimpinan HMI yang melahirkan sejumlah sosok dan vigur nasional, antara lain seperti Kakanda Mahfud MD ini. Wataknya tampak terefleksi nilai dasar (core values) 5 Insan Cita HMI yakni Insan Akademis, pencipta, pengabdi, bertanggungjawab dan bernafaskan Islam.

Kembali ke pembicaraan sosok seorang Kakanda Maffud MD. Beliau telah menjadi figur seorang tokoh nasional yang multidimensi dan multitalenta, punya passion yang khas dan sangat sangat menarik.

Dengan gusture dan gayanya berbicara di forum dan berpendapat di arena publik, saya berani menilai dan menyatakan manusia dan warga Indonesia yang satu ini berwatak yang sangat baik (the best caracter man). Dimana sepengetahuan saya, orangnya bersih-belum terdengar terjerat kasus korupsi walaupun beliau memimpin institusi negara yang mengelola dana APBN, sehingga dapat dikatakan orangnya jujur- berintegritas (istiqomah), sehingga berani beropini dan bersikap anti perbuatan korupsi, bersemangat memberantas kolusi dan nepotisme (KKN) musuh gerakan reformasi 1998.

Beliau kakanda Mahfud MD sesuai kapasitasnya sebagai seorang akademis bergelar profesor, beliau mempraktekan peran dan fungsi kecendekiawanannya (intelectual) yang luar biasa yakni beliau sangat peduli, analitik, kritis dan berani berpendapat merespon persoalan dan permasalahan yang membelenggu kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan, termasuk tentunya urusan birokrasi pemerintahan, macetnya penegakan hukum dan permasalahan ideologi, kegaduhan dinamika perpolikan, perilaku amoral oknum aparat hukum, problem sosial ekonomi-budaya dan pertahanan-keamanan (ipoleksusbudhankam).

Kakanda Mahfud MD seorang pemberani pengkritik keras terhadap kinerja aparatur birokrasi Pemerintahan dengan segala permasalahan, dan penyimpangan. Walaupun beliau adalah merupakan bagian terpenting dari tatanan organisasi dan sistem kelembagaan birokrasi Pemerintahan Republik Indonesia itu yaitu Menkopolhumkam RI.

Baca :  Radikalisme Tidak Terkait Agama Tertentu

Memang amat jarang seorang petinggi negara atau pejabat negara RI yang berbicara lugas, tegas dan bernas mengkritik dan membahas keragaan dan kinerja pelaksanaan program pembangunan, penyelenggaraan pemerintahan dan kenegaraan yang menyimpang (bobrok).

Pernyataan-pernyataan kritis dan ‘keras” sangat menyentak dan menggelegarkan alam jagat Indonesia, dan menjadi wacana serta diperbincangkan publik, sehingga publik tersadarkan dan tercerahkan ada permasalahan serius yang muncul di negeri ini, yang mengganggu dan menghambat kemajuan kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Jika gejala sosial negatif ini dibiarkan, maka akan membuat NKRI sebagai negara gagal dalam memajukan dan mensejahterakan Rakyatnya.

Diantara sekian pernyataan kritis dan berani yang menjadi “trending topik” kemudian menjadi bahan pembicaraan di masyarakat, antara lain yang telah viral di media sosial yaitu tentang kasus Ferdy Sambo yang membuka kotak pandora kebobrokan institusi Kepolisian RI, kasus korupsi industri pertambangan yang menghambat kesejahteraan Rakyat, kasus hasil keputusan PN Jakarta Pusat yang menunda Pemilu 2024 kemudian beliau tolak dan melawan dengan dasar argumentasi ilmu hukum tatanegara (konstitusi pasal-pasal UUD 1945), statemen Presiden Jokowi melarang politik identitas, dilarang membawa simbol agama dan tidak boleh berkampanye menggunakan sarana ibadah masjid dalam Pemilu 2024 beliau koreksi boleh untuk level pemikiran ideologis, asal bukan politik praktis, hal ini disampaikan dalam forum kader PDIP.

Berikutnya sikap dan pernyataan Kakanda Mahfud MD di arena publik yang memanas (hot issue) dan menjadi trending topik yang berbuntut panjang adalah persoalan dan atau permasalahan adanya uang ‘siluman” yang pantastis jumlahnya lk Rp 349 Triliyun yang terdapat dalam rekening sejumlah ASN Direktorat Pajak dan Beacukai Kemenkeu RI. Fakta ini menohok kinerja Kemenkeu RI, yang Menkeu RI ibu Dr. Sri Mulyani, yang selama mengklaim adanya keberhasilan.

Perdebatan sengit terjadi di forum parlemen Senayan Jakarta antara Menkopolhumkam RI bapak Prof. Mahfud MD dengan beberapa orang anggota DPR RI komisi 3 soal dana illegal siluman tersebut, dan terjadi perbedaan pandangan dan pendapat tajam serta sikap yang berlawanan, terkadang terkesan kurang beretika. Kita maklum, bahwa forum persidangan DPR RI adalah urusan politik sarat dengan berbagai kepentingan yang “irrasional” dan sulit ditebak kemana arahnya secara pasti.

Akan tetapi alhamdulillah kakanda Mahfud MD sebagai orang yang pernah menjalani program pengkaderan HMI dan pernah memimpin KAHMINAS, bisa “lolos” dari jeratan, jebakan dan terkaman “singa dan srigala” Senayan. Kakanda Mahfud MD begitu tenang, lugas, tegas dan sangat argumentatif, cerdas menangkis tuduh-tuduhan tersebut.

Bola pijar dan barang tentu sangat panas ini kini telah menggelinding isu-isu strategisnya dan berbagai opini kemana-mana. Bahkan, sejumlah warga negara RI bergelar Profesor dan Doktor mendukung sikap briliyan kanda Mahfud, mereka mengambil posisi di belakang dan membela kakanda Mahfud MD semoga tabirnya terkuak dengan benar, apa adanya, tidak ditutupi atau dipeti-eskan kebokbrokannya, sehingga bisa mendapat solusi terbaik yang bermanfaat untuk kemajuan kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kakanda Mahfud MD dengan bicaranya “ceplas-ceplos” apa adanya dengan nalarnya yang sehat dan cerdas, nampaknya sangat diterima publik. Dengan kata lain sikap tegas dan opini cerdas Kakanda Mahfud MD dalam memberantas korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan dan kewenangan (abuse of power and authority) yang banyak dilakukan penyelenggara akhir-akhir ini, membuat publik bingung, apatis dan mulai muak serta frustasi, sehingga kehadiran sosok dan figur tokoh pemberani dan kritis seperti kanda Mahfud menjadi pelipur lara bagi rakyat, sehingga tetap ada harapan atau optimisme perbaikan tata kelola negara RI (good governance) kini dan ke depan.

Baca :  Rumah Ibunda Mahfud MD Didemo Ratusan Orang

Kini sosok dan figur kakanda Mahfud MD telah menjadi tumpuan harapan rakyat, umat dan bangsa untuk sebuah perubahan ke arah lebih baik. Harapan saya dan kita sosok kakanda Mahfud MD tetap berpengaruh di lingkaran elite politik (the ruling party), menerangi, sehingga roda jalannya birokrasi pemerintahan dan penyelenggara sistem kenegaraan tetap konsisten berdasarkan falsafah dan ideologi Pancasila dan atas landasan konstitusi pasal-pasal UUD 1945 secara murni dan konsekwen.

Saya optimis kakanda Mahfud MD bisa menjalankannya, karena beliau sangat berpengalaman selaku praktisi/aktor birokrasi pemerintahan dengan jam terbang sangat lama, kariernya birokrasinya cemerlang dan berprestasi serta bereputasi akibat dedikasinya yang tinggi terhadap rakyat, bangsa dan negara. Beliau adalah muslim yang taat beribadah, bermoral, berahlaqul karimah dan kakanda Mahfud MD negarawan sejati.

Terus terang saya berkata untuk situasi saat ini, kanda Profesor hukum Mahfud MD merupakan seorang manusia langka yang dimiliki Indonesia. Beliau memiliki segudang pengalaman yang cukup lengkap, dan jarang dimiliki sosok figur yang lain di negara ini. Beliau pernah sebagai pemimpin pada ketiga lembaga negara RI, baik eksekutif (pejabat Pemerintahan yaitu sebagai Menkopolhukam era Presiden Jokowi dan sebelumnya Menhan RI era Presiden Gusdur), di institusi Legislatif (anggota DPR RI dan pimpinan fraksi PKB) dan Yudikatif (Ketua Majelis Konstitusi, hakim konstitusi negara).

Dengan modal sosial (social capital) dan banyaknya pengalaman serta luasnya keilmuan beliau tersebut, maka kakanda Prof. Mahfud MD bisa menjadi aktor mumpuni dalam menyelesaikan permasalahan bangsa dan negara, yang dewasa ini tampak agak carut-marut, abnormal dan anomali, tampak dari beberapa indikator aspek kehidupan bahwa negara RI yang kita cintai ini masih jauh tertinggal jika dibandingkan kehidupan negara maju lainnya di dunia.

Padahal, wilayah NKRI kita ini yang sangat luas memiliki sumberdaya alam dan ekosistem lingkungan (SDAL) yang baik dan kaya sebagai sumber utama baik hayati (seperti hutan, perikanan, perkebunan etc) maupun nonhayati (pertambangan etc) dimanfaatkan bagi kemakmuran rakyat yang berkeadilan. Seandainya SDAL ini dikelola dengan baik (good governance) oleh manusia aparatur negara yang baik seperti sosok dan vigur yang diperlihatkan Kakanda Mahfud MD, Indonesia akan berkemajuan dan berperadaban sesuai harapan, cita-cita dan tujuan bernegara sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat yakni melindungi, memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut serta aktif menciptakan dan memelihara perdamaian abadi.

Kita mendoakan, semoga Allah SWT menganugerahi kepada Kakanda Mahfud MD panjang umurnya, sehat walaffiat selalu, tetap kuat dan bersemangat, terhindar dari malapetaka, dan terus mendapat amanah pengabdian untuk negeri ini, Indonesia Raya. InsyaAllah, Allah SWT melindungi dan menolong hambaNya yang beriman, bertaqwa dan gemar berbuat kebajikan dan kemaslahatan. Aamiin3 YRA.

Penulis adalah Pendiri-Dosen Senior Universitas Djuanda Bogor, Pendiri-Wasek Wankar ICMI Pusat, Sekretaris Wanhat MD Kahmi Bogor, Konsultan K/L negara, Pegiat dan Pengamat Sosial