Oleh: Sulistiawati
Seiring berkembangnya waktu, teknologi dari zaman ke zaman mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dari yang awalnya memakai surat-menyurat untuk membagikan kabar atau informasi kini semakin mudah hanya melalui pesan singkat dari handphone (telepon genggam) yang bisa dibawa kemanapun, kapanpun, dan dimanapun.
Semakin berkembangnya teknologi, orang-orang saling mengupgrade kemampuan dalam penggunaan teknologi, seperti penggunaan media sosial baik dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Rata-rata mereka menggunakan situs media sosial untuk kepentingan masing-masing terlebih alasan yang paling kuat yaitu untuk mempermudah.
Pada musim pandemi Covid-19 kemarin di Indonesia menerapkan metode karantina, guna meminimalisir penyebaran virus tersebut. Baik pelajar atau pegawai semuanya melakukan aktivitas di dalam rumah masing-masing. Oleh karena itu, semakin banyak orang mengekspresikan diri melalui media sosial. Semuanya menjadi mudah ketika terhubung dengan internet.
Menurut Van Dijk dalam Nasrullah (2015), media sosial adalah platform media yang memfokuskan pada eksistensi pengguna yang memfasilitasi mereka dalam beraktifitas atau berkolaborasi. Jadi media sosial mempermudah kita untuk berinteraksi atau mencari informasi.
Bagi kalangan mahasiswa, media sosial adalah bagian dari kehidupan dan kebutuhannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap hari mereka bergantung kepada internet, terutama dalam hal pembelajaran sebagai penunjang kegiatan akademik. Selain itu urusan sosial, ekonomi, informasi, mereka selalu yang terdepan memanfaatkan media sosial. Meskipun tidak bisa kita hilangkan bahwa ada saja dampak tidak baik untuk kita sendiri sebagai pengguna. Maka dari itu, bijaklah dalam memanfaatkan internet dan media sosial.
Garis kecil pemanfaatan sehari-hari yang sering dilakukan pada kalangan mahasiswa contohnya seperti memudahkan mahasiswa untuk transaksi cukup menggunakan m-banking tanpa harus ke bank, selain itu mahasiswa dapat membeli barang-barang yang diinginkan melalui online tanpa harus keluar rumah yang pastinya akan memakan waktu. Apalagi bagi para mahasiswa yang mageran atau males gerak justru menjadi kesempatan untuk memanfaatkan media sosial yang mendukung kepada kebutuhannya.
Melalui akun Instagram para mahasiswa dapat menghasilkan uang dengan jualan online yaitu memperkenalkan produk mereka melalui feed atau postingan yang menarik sehingga khalayak dengan mudah membeli kebutuhannya tanpa harus keluar rumah.
Selain Instagram, Twitter juga dapat menghasilkan informasi terupdate dan terpercaya, atau untuk kalangan mahasiswa yang tidak biasa berbicara di depan orang banyak dapat mengekspresikan pendapatnya melalui situs tersebut. Bahkan jika ada keresahan yang sulit untuk disampaikan bisa dituangkan melalui twitter.
Terakhir, contoh kecil dari penggunaan Whatsapp yaitu untuk menghubungi dosen ketika ada yang perlu ditanyakan serta untuk terhubung kepada rekan-rekan dengan mudah dan cepat.
Kehadiran media sosial kini telah memberikan dampak perubahan yang cukup besar bagi perkembangan kehidupan manusia. Terutama pada kalangan mahasiswa, setelah membaca paparan di atas mari kita kupas beberapa manfaat penggunaan media sosial pada kalangan mahasiswa.
Pemanfaatan media sosial pada mahasiswa
1. Media sosial sebagai sarana pengekspresian diri
Seringkali mahasiswa yang kurang percaya diri berbicara di depan umum sulit untuk mengekspresikan apa yang ingin dibicarakan. Mereka membutuhkan wadah setidaknya untuk tempat menaruh sebagian emosinya baik rasa gundah gulana maupun bahagia.
Media sosial menyediakan apa yang kita butuhkan mungkin saja pengekspresian diri kamu yang sedih itu bisa saja menjadi karya atau cerita yang bisa bukukan ketika orang lain dapat merasakan apa yang kamu tulis, jadi silahkan dicoba.
2. Media sosial sebagai sarana pemasaran
Tidak bisa dipungkiri media sosial menjadi salah satu tempat usaha yang efektif dan sangat cocok pada generasi sekarang, hampir semua kalangan mahasiswa belanja kebutuhannya melalui online yang cepat dan praktis. Tidak aneh jika melewati situs media sosial yang banyak kita temui adalah produk-produk yang diperjual-belikan.
Banyak sekali pengusaha home made yang sukses karena marketing yang dilakukan melalui media sosial sehingga banyak dikenal orang secara cepat tanpa harus susah payah membuang waktu dan tenaga.
3. Media sosial sebagai sarana kemanusiaan
Menolong sesama makhluk di bumi merupakan kewajiban yang harus kita laksanakan. Bagaimana caranya?.
Tentu zaman sekarang dengan adanya media sosial semua dapat terakses dengan mudah. Contohnya dengan menciptakan kotak amal virtual atau penggalangan dana untuk para korban banjir di Pamijahan yang sedang ramai diperbincangkan karena korbannya tidak sedikit dan puluhan rumah hancur, maka ini menjadi masalah kita semua yang perlu dibantu untuk meringankan beban mereka.
Mungkin duka yang mereka rasakan tidak dapat terobati tetapi kita bisa membantu dengan cara lain baik dengan finansial maupun tenaga. Melalui media sosial kita dapat menyebarkan berita duka ini agar semakin banyak orang bantu mendoakan serta mensupport tidak mengenal jarak dan waktu. Secara tidak kita sadari dapat mempererat kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.
4. Media sosial sebagai peluang kerja
Seiring waktu berjalan informasi yang didapat semakin cepat dan praktis. Dahulu untuk mendapatkan informasi lowongan kerja melalui koran atau selembaran kertas yang ditempel di pohon dan dinding, berbeda dengan sekarang bisa ditemui hanya dengan membuka situs internet.
Tapi tidak semua informasi dapat dipercaya, tidak sedikit penipuan yang terjadi. Kita mesti memilih dengan bijak jangan asal terima informasi secara mentah-mentah. Informasi hoax masih menjadi trending di dunia media sosial.
Paparan di atas menjelaskan sedikit tentang pemanfaatan media sosial pada kalangan mahasiswa. Faktanya bahwa media sosial membawa keuntungan bagi mereka yang menggunakannya dengan bijak. Tetapi begitulah hidup selalu punya dua sisi yang saling berlawanan diciptakan sebagai pasangan agar antonym mempunyai fungsinya tersendiri. Selanjutnya bahasan pelengkap ini untuk menyempurnakan separuh menjadi utuh.
Setelah penjelasan di atas tentang pemanfaatan media sosial tentu ada saja kerugian yang ditimbulkan akibat pemakaian media sosial. Mari mengulas sedikit tujuannya sebagai pengingat diri agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial.
Pengaruh negatif penggunaan media sosial
- Kecanduan media sosial
Candu dalam bermedia sosial ternyata dapat merangsang produksi hormone kesenangan dopamine di otak kita meningkat. Ketika tubuh menerima banyak hormone tersebut maka secara otomatis otak akan menganggap aktivitas yang kita lakukan bermanfaat dan perlu diulangi.
Pada akhirnya kita sendirilah yang sulit terlepas dari rasa malas yang mendarah daging dan akhirnya malah tidak fokus dengan perkuliahan jika tidak pintar menggunakan media sosial seenaknya.
2. Timbulnya sikap individual
Meskipun media sosial mengandung kata sosial, tapi jika mahasiswa dalam penggunaan media sosial sama sekali tidak bijaksana akibatnya malah menyebabkan kita tidak peduli dengan lingkungan sekitar karena terlalu fokus dengan dunia virtual.
Banyak dari kita mempunyai teman virtual yang hanya bisa berkomunikasi di media sosial saja tetapi tidak bisa dijumpai di dunia nyata dan mengakui pertemanan seperti itu aman dan mengasyikkan dibandingkan menjalin pertemanan secara langsung.
3. Kecemasan sosial
Mahasiswa yang mengalami gejala demikian kebanyakan hanya mengenalkan diri mereka di dunia virtual dengan memperkenalkan diri mereka sebaik mungkin tanpa ada kekurangan apapun kemudian tidak jarang berbeda dengan dirinya yang asli di dunia nyata.
Diartikan sebagai perasaan takut dan khawatir ketika kita berada pada situasi sosial, secara tidak sadar kita memilih untuk tidak berinteraksi secara langsung karena khawatir dengan penilaian masyarakat. Akibatnya lebih memilih untuk berdiam diri atau menjadikan media sosial sebagai solusi untuk tidak berkomunikasi secara tatap muka.
Setelah kita mengetahui pemanfaatan dan dampak yang bisa ditimbulkan oleh media sosial, harapannya adalah kita sebagai manusia mau bagaimanapun yang berhak mengatur ritme akal sehat adalah diri sendiri. Semoga kita bisa lebih bijak dalam menggunakan media sosial ya!
Penulis adalah mahasiswi Institut Ummul Quro Al-Islami Bogor (IUQI) Fakultas Dakwah & Komunikasi Islam (FDKI) Prodi Komunikasi Penyiaran Islam

