Site icon LEAD.co.id

Ketum JSIT: Dibutuhkan Segera Gotong Royong Berbasis Komunitas Perangi Covid-19

LEAD.co.id | Ketua Umum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia, Mohammad Zahri, mengungkapkan perlunya gotong royong berbasis komunitas dengan segera. Menurutnya, keadaan saat ini sudah mengkhawatirkan mengingat lonjakan pandemi bukan hanya tinggi, tapi telah mempengaruhi bidang ekonomi dan sosial.

Mohammad Zahri menjelaskan gotong royong berbasis komunitas adalah menggerakkan semua lapisan masyarakat secara bahu membahu, tolong menolong atau bekerjasama melawan pandemi dengan berbagai kekuatan komunitas yang ada, tanpa terkecuali di lingkungan terkecil seperti RT dan RW.

“Ini darurat. Kita butuh segera gotong royong berbasis komunitas di tingkat RT atau RW. Lonjakan pandemi telah mempengaruhi bidang ekonomi dan sosial. Sementara regulasi dan kebijakan lockdown belum diterapkan,” kata Mohammad Zahri dalam keterangan persnya kepada Lead.co.id, Selasa (31/03/2020).

Ketum JSIT itu mengajak komunitas yang ada di seluruh lapisan masyarakat bergotong-royong dengan sukarela, saling membantu satu sama lain. “Bisa dengan membantu pengadaan alat kesehatan, Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga medis, hand sanitizer, masker, vitamin, dan sebagainya,” ujarnya.

“Bisa juga membantu dalam hal pengadaan sembako, meskipun hanya menyediakan satu nasi bungkus bagi saudara-saudara kita yang terkena dampak korona. Saya sangat bersyukur jika yang memiliki kelebihan harta bisa membantu yang masih kurang,” sambungnya.

Ia menilai, Indonesia bisa mengatasi ancaman virus ini manakala tetap menjaga, disiplin, dengan semangat gotong royong yang merupakan nilai-nilai Pancasila.

Menurut Zahri, darurat gotong royong ini dapat menyelesaikan problem kemanusiaan. Ia berharap, gotong royong berbasis komunitas ini menjadi satu langkah nyata menangani berbagai dampak akibat pandemi korona.

Pertama, kata Mohammad Zahri, jika komunitas guru, maka bergerak memerangi pandemi dengan edukasi yang efektif kepada semua lapisan masyarakat, para ulama bisa dengan memberikan nasihat keagamaan, untuk aparat tentu menegakkan kebijakan.

“Orang kaya menyediakan kebutuhan masker, hand sanitizer, sembako dan lain sebagainya. Begitu juga bagi komunitas lainnya, semua bergerak secara gotong royong. Bidang garapnya sesuai spesifikasi komunitas tersebut,” imbuhnya.

Kedua, penangan kerawanan pemenuhan kebutuhan pokok keluarga terdampak. Hal ini menjadi darurat karena mereka punya keluarga. Dampak pandemi Covid-19 mempengaruhi bidang ekonomi dan sosial masyarakat.

“Ketiga, kerawanan ekses sosial karena pekerja harian yang sepi, karyawan harian yang dirumahkan, termasuk biaya-biaya hidup rutin seperti pembayaran listrik, pembayaran PDAM, iuran RT dan lainnya,” tutupnya.

Kontributor : Permana
Editor : Aru Prayogi

Exit mobile version