BOGOR (Lead.co.id) – Komunitas Pekerja Seni Kota Bogor bekerjasama dengan Galeri Juang melaksanakan kegiatan perdana “Ngobrol Santai Seni Budaya” di halaman Museum Perjoeangan Bogor, pada Rabu, 17 Januari 2024.
Kegiatan perdana yang rencananya akan dijadikan even bulanan tiap tanggal 17 atau pitulasan ini menghadirkan para pemantik materi dari beragam latar belakang yang selama ini bergerak di ranah kesenian dan kebudayaan, mereka antara lain Tohir Kulikulo sebagai pupuhu Galeri Juang yang aktif bermusik dan berkarya seni rupa, Jimmy Dozen dari kalangan aktor film laga dan sinetron, Bung Karna seorang penulis buku, motivator dan wirausahawan yang sering tampil nyentik dengan kostum ala Bung Karno, kemudian Ki Agus Pranamulia sebagai budayawan.
Kegiatan dibuka dengan pementasan musik dari grup Kaladin, kemudian disusul oleh musikalisasi puisi dan orasi kota pusaka oleh Heri Cokro dan gongnya menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Pada sambutannya, kepala Museum Perjoeangan Bogor, Beny Laras menyampaikan kebahagiaannya atas kegiatan ini dan mempersilahkan menggunakan lahan pelataran museum untuk kegiatan kreatif dan sosial, dirinya berharap dengan begitu keberadaan museum sebagai situs yang menyimpan benda-benda sejarah perjuangan bangsa, khususnya karesidenan Bogor yang mencakup antara lain kota dan kabupaten Bogor, Cianjur, Sukabumi, Depok dan Banten yang memiliki nilai edukasi historis bisa terus dipertahankan, dipelihara dan dikembangkan demi menjaga nilai perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, membangun karakter berani berjuang, teguh pendirian, cinta tanah air, rela berkorban demi negara dan bangsa.
“Sangat disayangkan jika nilai-nilai luhur itu menghilang tergerus zaman,” pungkasnya.
Dalam diskusi yang dipandu moderator Heri Cokro, berlangsung dinamis dan diselingi beragam pementasan teatrikal kemerdekaan oleh Jimmy Dozen, lagu-lagu balada kritis oleh Kusnadi dan Band Joeang, monolog orasi Soekarno oleh Bung Karna, kegiatan melukis langsung suasana diskusi oleh Sandy dan pembacaan puisi perjuangan oleh Eko Prayitno.
Dari diskusi tersebut terungkap realitas kehidupan seni kota Bogor dirasa belum cukup dinamis untuk sebuah iklim kreatifitas, seniman bergerak sendiri, belum ada even bersama yang ajeg, potensi kurang tersalur, kekuatan seniman lemah, karya seni tidak terdokumentasi dengan baik, sinergi dengan pemerintah belum kondusif, harus ada gerakan bersama untuk membangun iklim kesenian kota menjadi kota yang bermartabat, bercitarasa seni dan berbudaya Adi Luhung.
Selain itu ditumbuhkan pula kesadaran bahwa Museum sebagai situs edukasi, merawat ingatan histori, menjaga marwah jejak perjuangan para pendahulu, membangun jati diri, dan karakter warga yang memiliki sejarah panjang sebagai bangsa besar harus terus digelorakan, inilah tugas bersama kita termasuk para pekerja seni budaya untuk membangun kota yang beradab. (Ckr03/jon)





