Site icon LEAD.co.id

Konsep Merdeka Belajar Dalam Perspektif Praktisi Pendidikan

Oleh: Liana Ariesha Khoerudin

Konsep “merdeka belajar” kini tengah marak diperbincangkan. Karena selain masih baru, juga ditengarai jauh lebih baik daripada Kurikulum sebelumnya. Itu pendapat Mas Menteri Pendidikan. Namun apakah konsep itu sebegitu efektifnya di tataran operasional?

Sekelumit kajian adalah sebagai berikut, sintesa yang penulis lakukan hasil diskusi dengan Prof KH Fajar Laksana dan Kadisdik Kota Sukabumi di sela sela suatu seminar di Kota Sukabumi, Konsep Merdeka Belajar adalah konsep pengembangan Pendidikan yang di dalamnya seluruh pemangku kepentingan berfungsi sebagai agen perubahan (agent of change).

Karena ia adalah sebuah konsep, maka pasti ada indikator yang menjadi acuan untuk dipraksiskan. Ternyata, Konsep Merdeka Belajar ini memiliki 3 indikator utama, yakni yaitu 1. Partisipasi siswa-siswi yang merata, 2. pembelajaran yang efektif, dan 3. Tiada ketertinggalan anak didik.

Ketiga indikator tersebut bisa tercapai dengan prasyarat, yakni dengan didahului oleh perbaikan pada hal-hal berikut: pertama perbaikan infrastuktur dan teknologi Pendidikan, dengan berlandaskan pada infrastuktur di masa depan harus lebih baik dari hari ini dan flatform Pendidikan berbasis teknologi harus di galakan.

Yang kedua hadirnya kebijakan, prosedur dan pendanaan yang efektif dan efisien, pada ranah ini tataran Yayasan harus mampu mendukung, merumuskan visi dan misi, berkolaborasi dengan semua stake holder dan berinvestasi Pendidikan, kemudian tataran Yayasan membreakdown itu semua pada kepala sekolah yang terpilih dan guru yang akan bersentuhan secara langsung dengan peserta didik.

Ketiga prasyarat tersebut harus dimulai dari top managernya, dengan bergaya managerial yaitu dimana sang pimpinan mutlak harus menjalankan organisasinya berdasarkan standard operating procedure (SOP) yang tegas tidak tedeng aling aling. Ini lazim dikenal sebagai pimpinan yang berperan sebagai manajer.

Ini penting, mengingat semua variable organisasi harus berjalan semekanis robotik. Dengannya maka capaian hasil akan tepat teraih melalui sebuah rantai “continous improvement”. Sehingga tool yang mampu melakukan itu salah satu utamanya evaluator dengan alat PDCA (plan, Do, Check, act) dengan terus menerus melakukan perbaikan.

Yang terakhir adalah dengan adanya kurikulum, pedagogi dan assessment yang mumpuni dan sesuai dengan lingkungan sekolah.

Metode contextual learning mampu melatih peserta didik agar dapat berfikir kritis sesuai dengan dunia nyata, program MCML (Moving Class Mastery Learning) Bahasa arab dan Bahasa inggris. Sebagai contoh MCML Bahasa Inggris; dalam waktu 3 bulan peserta didik berfokus pada kelas Bahasa inggris saja kemudian di lanjutkan dengan pembelajaran di kampung Inggris (pare).

Di samping MCML Bahasa juga ada MCML tahfidz, MCML sains. Peserta didik dapat memilih MCML mana yang mereka sukai sebagai minat mereka sendiri. Agrowisata IFE (Integrated Farm Education & Entrepreneurship) di mana peserta didik secara langsung belajar bagaimana pemilihan pupuk yang baik, menanam yang baik, memelihara hewan ternak, kemudian belajar marketing dengan memasarkan hasil mereka sendiri dan di presentasikan di depan orang tua peserta didik.

Di sini sungguh peserta didik belajar tentang Matematika, IPA, IPS, Marketing dan sekaligus belajar mempresentasikan hasil penelitian mereka sendiri.
“Kesan awal tenaga pendidik atau guru saat memasuki kelas haruslah dengan senyum yang timbul dari hati, senyum yang menjelaskan rasa kasih sayang terhadap peserta didiknya, ketika peserta didik menerima senyuman itu maka dari batang otak (yang fungsinya hanya depend and fly) pemikiran mereka akan berjalan pada Limbik, di sana lah tempat kecerdasan, emosional, dan semangat.

Setelah itu mulailah tenaga pendidik memberikan atau menjelaskan materi dan berilah kebebasan pada peserta didik untuk bisa berpendapat apapun yang mereka fikirkan. pada saat itu mulailah pemikiran peserta didikn berjalan pada Korteks dan di sanalah tempat pengetahuan, solusi, dan rasional.

Maka peserta didik pun akan memulai berkembang “belajar merdeka” itu di lihat dari kacamata neurosains. Sungguh merdeka belajar banget dan banget di sini tuh, ucap Kadis Pendidikan kota Sukabumi H. Moh Hasan Asari, M.Pd sekaligus sebagai nasehat pada sambutannya. Karena bagaimanapun kurikulum adalah sistem dan yang akan menjalankannya adalah tenaga pendidik yang bersentuhan langsung dengan peserta didik.

“Sebenarnya sekolah swasta itu sangat mempunyai peluang yang besar untuk menuju kurikulum merdeka, karena sekolah swasta tidak bersifat sentralisasi. Tetapi itu pun tergantung pada top managernya, mampu tidak dengan secara tepat berkolaborasi dengan semua stake holder sekolah itu sendiri, sehingga fungsi sebagai agent of change bisa terealisasikan” tandas Prof. Dr. KH. Fajar Laksana sebagai Pembina Pondok Pesantren Modern Dzikir Al- Fath Kota Sukabumi.

Dalam cone of experience (kerucut Dale ) di sebutkan bahwa ada 4 tingkat keterlibatan, pertama verbal,peserta didik hanya dapat belajar pada tingkat 20 %, kedua visual hanya pada tingkat 30%, ketiga terlibat hanya pada tingkat 50%, berbeda dengan pada tingkat berbuat tingkatan nya mampu mencapai 90%.

Namun jangan lupa, semua itu akan sia sia mencerdaskan peserta didik apabila sistem pendidikannya masih sistem dikte atau bank system, melainkan sistem pendidikan harus sistem hadap masalah seperti yang disarankan Paulo Freire sang pendekar pendidikan negara dunia ketiga. Dengannya maka merdeka belajar menjadi betul betul memberdayakan secara komprehensif.

Diskusi di sela sela acara In House Training (IHT) Implementasi Kurikulum Merdeka, Rabu 13 Juli 2022, bersama Prof. DR. KH. Muhammad Fajar Laksana, SE, CQM, MM, Ph.D ( Pembina Pondok Pesatren Modern Dzikir Al Fath Kota Sukabumi) , H. Moh. Hasan Asari, M.Pd (Kepala Dinas Pendidikan Kota Sukabumi)
Dede Setiawan, SE, MM (kepala Sekolah SMP Islam Tahfidz Quran Al- Fath).

Penulis adalah Mahasiswa Institut Madani Nusantara Angkatan X

Exit mobile version