Site icon LEAD.co.id

Konservasi Gedepahala: Yuk Lestarikan Bumi Part 2, Wadah Edukasi Lingkungan

BOGOR (Lead.co.id) – Kegiatan pelestarian lingkungan bertajuk “Yuk Lestarikan Bumi Part 2” telah sukses dilaksanakan di Plaza Node Café and Lounge, Pancawati, Kabupaten Bogor, pada Minggu, 1 Juni 2025.

Acara itu diinisiasi oleh Bamboo Sanctuary Pancawati bersama Fakultas Kehutanan Universitas Nusa Bangsa, dengan dukungan dari berbagai elemen akademisi, komunitas, LSM, hingga sektor swasta.

Dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional (22 Mei) dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (5 Juni), kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk komitmen bersama untuk melestarikan Bentang Alam Gedepahala.

Ketua Pelaksana, Yuhika Afrisky menegaskan pentingnya kolaborasi antar aktor konservasi untuk melestarikan kawasan strategis Gede Pangrango dan Halimun Salak (Gedepahala).

“Kegiatan ini menjadi ruang bertemu, berdialog, dan bertindak bersama demi keberlanjutan bentang alam Gedepahala,”ujar dia.

Dengan tema “Menguatkan Peran Generasi Muda, Komunitas Konservasi, Guru, Swasta, dan Masyarakat untuk Pelestarian Keanekaragaman Hayati di Gede Pangrango dan Halimun Salak,” kegiatan ini menghadirkan berbagai tokoh penting seperti Ir. Arief Mahmud, M.Si.(Kepala Balai Besar TNGGP) dan Bapak Budhi Chandra, S.H., M.H. (Kepala Balai TNGHS).

Sesi diskusi panel bertema “Potensi dan Tantangan Pelestarian Bentang Alam Gedepahala” menghadirkan Dr. (H.C.) Ir. Wahjudi Wardojo (Meeting Zoom), M.Sc., Dr. Dolly Priatna, dan Bapak Dwi Agus Sasongko, S.Hut., M.Si. sebagai narasumber utama.

Mereka membahas secara mendalam ancaman kerusakan lingkungan di kawasan penyangga serta pentingnya pendekatan berbasis kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat. Diskusi berlangsung dinamis dan diakhiri dengan sesi tanya jawab yang memperkuat partisipasi peserta.

Pada sesi kedua yang berfokus pada spesies kunci di kawasan Gedepahala, berbagai organisasi konservasi memaparkan upaya mereka dalam pelestarian satwa endemik. Dr. Sofian Iskandar membahas kondisi Owa Jawa yang terancam punah.

Sementara itu, Asep Mulyana dari Yayasan PUTER Indonesia mengangkat pentingnya pelestarian Elang Jawa sebagai indikator ekosistem, sedangkan Alhalimata Rosyidi dari Yayasan SINTAS Indonesia menjelaskan pendekatan konservasi Macan Tutul yang melibatkan masyarakat sekitar hutan.

Sebagai penutup kegiatan, dilakukan aksi simbolik berupa penanaman pohon oleh peserta, mahasiswa, komunitas, serta dihadiri langsung oleh pimpinan kedua balai taman nasional. Aksi itu menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga ekosistem Gedepahala. Seluruh rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi dokumentasi bersama, menandai soliditas berbagai pihak dalam mendorong gerakan konservasi berkelanjutan.

Kegiatan ini didukung oleh banyak mitra yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan, antara lain Bamboo Sanctuary Pancawati, Node Café and Lounge, Fakultas Kehutanan Universitas Nusa Bangsa, Balai Besar TNGGP, Balai TNGHS, PT Eigerindo Multi Produk Industri (EIGER Adventure), Belantara Foundation, Coca-Cola Europacific Partners Indonesia, Yayasan PUTER Indonesia, Yayasan SINTAS Indonesia, serta komunitas seperti KMPH, Youth Eco Endemic, dan lainnya.

Sebagai informasi, Bamboo Sanctuary Pancawati merupakan ruang konservasi dan edukasi berbasis masyarakat yang berlokasi di Desa Pancawati, Kabupaten Bogor. Dengan memanfaatkan bambu sebagai elemen ekologis, ekonomis, dan budaya, Bamboo Sanctuary menghubungkan akademisi, komunitas lokal, sektor swasta, dan pemerintah dalam membangun kesadaran dan aksi nyata konservasi di kawasan strategis seperti Gedepahala.

Tempat tersebut juga menjadi pusat pelatihan dan inkubasi program pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi berkelanjutan.

Exit mobile version