Site icon LEAD.co.id

La Sara yang Pernah Aku Kenal

La Sara, Kendari

Oleh: Dr Apendi Arsyad

Prof La Sara, beliau alumni Fakultas Perikanan dan Kelautan-Institut Pertanian Bogor (FPIK-IPB) yang berprestasi. Beliau, temanku sama-sama pernah aktif di organisasi mahasiswa (Ormawa) ekstra HMI dan Ormawa intra Badan Kerohanian Islam (BKI) IPB sekitar pada tahun 1981 sd 1985 di kampus rakyat IPB, Bogor tempo doeloe.

Orangnya yang saya kenal ramah dan santun, suka dan humor. Fostur orangnya berperawakan agak tinggi, gemukan, kulit agak gelap dan berjambang (brewokan) serta rambut ikal. Sahabatku itu sangat taat beragama, rajin menunaikan beribadah, insyaAllah beliau orang soleh.

La Sara memiliki minat dan bakat kepemimpinan yang cukup baik dan menonjol. Orangnya mudah bergaul, selama berkuliah, sahabatku itu, La Sara pernah terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Perikanan IPB thn 1982-1983 jika saya tak lupa.

Sekitar 20 tahun lalu saya pernah bersilaturrahmi ke rumahnya, ketika itu beliau Warek 1 Universitas AleHaleo Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Kebetulan saya ada acara atau event nasional di Kota Kendari, yakni acara Silaturrahni Kerja Nasional (Silaknas) Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia (ICMI), bertempat di kampus UNAleHaleo, Kendari.

Aku, AA (Apendi Arsyad), salah seorang peserta Silaknas berasal dari ICMI Orwil Khusus Bogor. Aku masih ingat di rumahnya disuguhi makanan Pisang Ijo buatan istrinya, begitu lezat dan nikmat sekali. Makanan Pisang Ijo, ternyata produk kuliner asli asal Sultra, di resto-resto Mal di Kota Bogor, kita bisa mendapatkannya.

Dulu, saya suka menyantap masakan ini di food corner Mal Botani Square, Baranang Siang Kota Bogor, tetapi kok sekarang jarang ditemukan lagi, resto pun “menghilang”.

Sekitar sebulan yang lalu saya ada pekerjaan jasa konsultan proyek Hilirisasi Investasi Strategis (HIS) sektor Perikanan, mengumpulkan data dan informasi di Kota Kendari Provinsi Sultra. Sayang, saya tidak berkesempatan bertemu dengan sahabatku Prof La Sara, saya kehilangan nomor kontaknya. Sudah saya pesan sama Sekretaris Bappeda Provinsi Sultra, ibu Dr La Ode, juga keponakannya, ibu Emi di Dinas BKPMD Provinsi Sultra, agar beliau diberitahu bahwa saya sedang berada di Sultra, juga tidak berhasil berkomunikasi hingga saya kembali ke Bogor.

Teman-teman birokrat Dinas/SKPD di Provinsi Sultra mengenal baik Prof Dr La Sara ini. Beliau sering diundang Pemprov Sultra. Yang saya tahu, beliau juga banyak berkiprah dan membantu Pemprov Sultra dalam hal pemikiran (konsep) pembangunan daerah dan pemberdayaan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil, terutama pengembangan masyarakat nelayan dan petani ikan, serta menyuarakan gerakan konservasi laut di daerah ini. Apa lagi kita mengenal wilayah Sultra memiliki ekosistem perairan dengan terumbu karang (coral reefs) yang terindah dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia seperti yang kita temukan adanya di kawasan Kabupaten Wakatobi-Sultra.

Saya pernah ke Wakatobi-Sultra sekitar 15 tahun lalu, dalam rangka menyelesaikan proyek Kementerian Kelautan dan Perikanan (KemenKP) RI yakni “Penguatan Sistem Kelembagaan Tradisional Masyarakat Adat Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil untuk pengembangan Kawasan Konservasi Laut Daerah” (KKLD).

Dahulu sahabatku La Sara, rajin mengontak saya. Juga pernah bertemu beberapa kali di forum-forum nasional saintis “ilmu pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan/ SDAL pesisir” di Bogor, Jakarta, Batam dan Makasar.

Beliau, Prof La Sara sering berperan sebagai pembawa makalah, nara sumber mewakili Indonesia Kawasan Timur. Kami sempat juga berkomunikasi persoalan dinamika kehidupan kampus. Ketika itu, ada urusan suksesi kepemimpinan kampus dan pemilihan Rektor UNHalaleo pada dasa warsa yang lalu. Beliau ikut mencalonkan diri untuk berkompetisi menjadi Rektor.

Jika saya tak salah, Prof La Sara “belum berhasil”. Tetapi sekarang ternyata, alhamdulillah, sahabatku itu Prof La Sara akhirnya menjadi Rektor juga, yaitu Rektor Institut Teknologi Kelautan (ITK) Buton, Provinsi Sultra, tempat dimana beliau dilahirkan dan dibesarkan, artinya Prof La Sara, dapat dikatakan sedang “pulang kampung”. Saya salut dengan upaya-upaya pengabdianya kepada masyarakat pesisir yang tak pernah lelah dan padam.

Saya baca dan tahu informasinya di medsos via WAG Kodel, beliau dilantik menjadi Rektor Institut Teknologi Kelautan (ITK) Buton oleh Gubernur Sultra Bpk Ali Mazi dalam sebuah acara yang meriah dan hikmat.

Menurut pendapat saya kehadiran prodi ilmu-ilmu perikanan dan kelautan di Sultra sungguh sangatlah tepat. Hal ini mengingat potensi sumberdaya alam laut (SDAL) perikanan dan kelautan Sultra sangat besar dan kaya keanekaragaman hayatinya, yang kini belum dikelola secara optimal untuk mensejahterakan rakyatnya. Sementara masyarakat yang hidup di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil, belum menikmati kekayaaan alamnya dalam makna yang sebenarnya, angka kemiskinan dan ketimpangan sosial yang masih tinggi, serta indeks pembangunan manusia (IPM) sebagai indikator keberhasilan pembangunan masih rendah.

Saya senang mendengarnya, beliau sahabatku kini sudah menjadi Rektor, dan saya mengucapkan selamat dan sukses mengabdi untuk peningkatan SDM Sultra. Semoga Allah SWT memberkahi perjuangan Prof La Sara untuk memajukan kehidupan masyarakat kampung halamannya, Buton. Aamiin YRA.

Penulis bermukim di Ciawi Bogor, Pendiri-Dosen Universitas Djuanda Bogor, pegiat dan pengamat sosial

Exit mobile version