Berbulan-bulan menunggu kepastian untuk berkunjung ke Kabupaten Pringsewu. Covid-19 tidak juga usai. Ani dan Anwar telah persiapan baik tiket maupun telah membeli sepatu dua pasang dan baju kemeja.
“Duh ini aku dah beli sepatu untuk jalan-jalan ke luar daerah,” ujar Ani. Anwar hanya tersenyum kecil saja. Dalam hatinya sama galau juga.
Anwar ingin mampir ke Tulang Bawang karena ada saudara anak paman menikah setahun lalu di Tulang Bawang. Tentu saja jauh walaupun bisa ke Pringsewu.
“Moga juga tak bentrok dengan jadwal kerjaku,” Ani kembali menyela. Anwar menganggukan kepala. Sedangkan Anwar tidak ada hambatan karena tidak terikat dengan pekerjaan formal.
Satu bulan berikutnya ada japri bahwa tidak akan ada acara karena masih suasana Covid-19. Bahkan masih tinggi Covid di Tanah Air. Keduanya pasrah walaupun sedikit kecewa sudah siap-siap. Baik tiket Kapal Laut maupun membeli sepatu.
Tentu saja kekecewaan itu terobati dengan buku Antologi Puisi “Pringsewu Kita” segera di kirim melalui pengiriman paket ke masing-masing alamatnya.
“Alhamdulillah.. ada kepastian. Buku akan segera kita terima Kang,” ungkap Ani. Sementara Anwar belum menerima informasi karena handphonenya terkadang eror tidak bisa menerima maupun mengirimkan pesan.
Begitu juga pengiriman buku ke Ani jauh lebih cepat karena rumahnya ada di kota. Mudah terjangkau. Anwar belum mendapatkan informasi apa-apa.
Dua minggu berlalu. Pihak pengantar buku melalui jasa pengiriman barang telpon Anwar menanyakan soal alamat rumah.
“Maaf dari siapa?,” ungkap Anwar.
“Oh saya dari jasa pengiriman barang. Mau mengantarkan buku dari Panitia Kepenulisan buku Pringsewu pak,” ujar pengantar. Rupanya supir telah putar puter mencari alamat. Katanya sudah dari pagi.
“Maaf pake kendaraan apa?” tembal Anwar
“Pake mobil pak,” tembal supir pengantar barang. “Oh…” ungkap Anwar. “Posisi di mana ini pak,” jawab Anwar. “Saya ada di depan Polsek Ciampea,” tukasnya.
“Baik tunggu di depan Polsek ya. Saya yang ke situ,” ungkap Anwar agar tidak ribet mengantarkan buku ke kampung. “Ya pak mobil warna apa?” pinta Anwar. “Mobil putih di depan Avanza hitam ni,” tukasnya. “Ya terimakasih ni saya,” jawab Anwar.
Tidak lama kelamaan putih pembawa barang berlalu dengan cepat. Begitu juga Anwar tidak lama langsung pergi meninggalkan lokasi. Kali ini motong jalan ke perkampungan di Lapangan Tembak.
“Alhamdulillah..tiba juga kabar baik ini.” ungkap Anwar. Tentu saja menambah lagi koleksi buku. Anwar menyampaikan kabar ini ke Ani. Tidak menunggu waktu setelah sholat Ashar.
“Neng buku puisi dari Lampung sudah kuterima ni.” kabarnya ke Ani. Kali ini tidak langsung dibaca dan dibalas WhatsAppnya. Setelah magrib baru dibaca dan dibalas.
“Alhamdulillah kang. Maaf tadi langsung gendong cucu jadi tak membuka handphoneku,” balas Ani. “Iya tidak apa-apa”, tukas Anwar.
Setelah sembahyang Isha ada WhatsApp dari Ani dengan bahasa. “Titip ya puisiku jika ada hal mendadak tinggal membuka,” ujar Ani sembari mengirimkan puisi yang ada di buku Antologi Puis Pringsewu Kita.





