Puisi oleh: Ace Sumanta
Kupanggil kau Sultan dalam alam-Mu
Tak hanya rindu akan kejujuran juga penuh petuah
Hidup rukun dan damai walau dalam budaya yang berbeda.
Kupanggil kau para Datuk dan leluhur nagari
Untuk mengayomi dari rongrongan kehidupan yang semakin tak dimengerti
Adat istiadat semakin banyak yang punah dirasa
Tradisi nagari kini terlempar pada lembah-lembah dan sungai bau amis
Kemana kini tradisi yang tersempat ratusan tahun silam bahkan ribuan tahun tak terbaca karena tafsir yang berbeda
Adat tersurat menjadi prasasti yang menakutkan
Generasi tumbuh mengejar gengsi
Pakaian seragam kebesaran menjadi beban kehidupan
Kemana mereka generasi .
Kupanggil kau para Sultan dan Datuk
Untuk tetap menjaga pantai dan lereng tebing dari kematian
Punah di atas pusara
Kelakar di rimba tawa
Berjuta impian menjadi sekam tanpa berubah warna
Kepompong metamorfosa menjadi diam tak berucap apapun
Mendekati kematian tanpa kuburan tergusur teknologi
Informasi yang membuat sandiwara bahwa hidup tak berarti jika sengsara.
Kupanggil Datuk-datuk pelestari kehidupan
Alam dan lingkungan
Mengajarkan untuk saling menghargai
Sebagai ragam budaya
Karena cinta sesama.
Kupanggil kau para leluhur
Menyatu di alamku ini
Bersemayam tanpa kesedihan
Ketika generasi melupakan
Mebakar riwayatnya
Membuat tanah menjadi fosil kehidupan baru
Kau tetap Datuk-datuk bersamaku
Hidup dalam mimpi semula.
Rumah Baca, 24 Agustus 2021

