Site icon LEAD.co.id

Lorong Harapan Penuh Senyuman

Bunga Rampai, Lorong Harapan, Harapan, Senyuman, Viona Putri Maghfiroh

Lukisan karya Mikhael, siswa SMP Negeri 8 Kota Bogor

Oleh: Viona Putri Maghfiroh

Panas terik mulai terasa meski baru jam 10:00 pagi, kakiku melangkah penuh girang menuju suatu tempat yang sudah lama ingin kusinggahi. “aaah… akhirnya, sampai juga…” gumamku dalam hati. “Cinta Baca” yah, tempat inilah yang dari kemarin ada di urutan planning hari libur BDR ku. Kubuka pintu perlahan. “Met siang kakak…” sapaku ke petugas penjaga. “Siang juga dek, silahkan…” jawabnya penuh keramahan. Tanpa banyak basa basi mulai dari rak pertama kupeiksa sambil kulihat-lihat buku yang berjajar rapi.

Dimasa BDR banyak waktu luang selepas Shalat Dhuhur yang membuatku penat. Mungkin disini aku bisa terhibur sambil baca-baca mengisi waktu luang yang ada. Akhirnya ku temukan buku yang menarik berjudul “Seperti Hujan Yang Jatuh Ke Bumi” Karya Boy Canda. Dan aku memuskan meminjam buku ini untuk di bawa pulang karena tempat ini tidak mengizinkan pelanggan membaca di tempat selama masa pandemi. Setelah melakukan transaksi pinjaman ke bagian petugasnya bergegas aku pulang, Dari tempat Cinta Baca aku melintasi pertokoan, dan warung-warung makan yang berada di sepanjang jalan menuju rumahku.

Semakin perlahan langkahku terasa lelah saat aku melewati salah satu mall yang bersebelahan dengan rumah sakit. Sejenak langkahku terhenti karena lelah dan aku istirahat di bangku panjang yang berada dibawah pohon rindang. Sepertinya bangku ini sengaja di tinggal penjual siomay untuk digunakan kembali untuk berdagang esok hari. Setelah itu, kuambil buku yang tadi kupinjam di perpustakaan Cinta Baca. Ku perhatikan dengan seksama cover buku dan awal-awal lembaran pertamanya.

Lalu kubaca sebentar, seketika pandanganku teralihkan oleh seorang perawat yang keluar dari pintu belakang yang berada di lorong rumah sakit dan tak jauh dari tempatku duduk. Ternyata langkah kaki wanita itu mengarah ke tempatku

“Permisi dek, ini bangku abang siomay ya, Apa abang siomaynya sudah pergi?” tanya dia. “Wah kurang tau ya kak, saya baru saja disini dan tidak melihat tukang siomay” jawabku

“oh begitu, makasih ya dek” kata kakak itu. Yang ternyata seorang perawat di rumah sakit tersebut.

Beliau tidak langsung beranjak pergi tetapi tetap berdiri di sebelahku sambil memandangi jalan seolah mencari sesuatu penjual makanan. Yah karena jam-jam segini adalah jam istirahat makan siang bagi para pekerja. Lalu ku beranikan diri untuk berbincang-bincang dengan kaka perawat tersebut. “maaf kak, apa kakak perawat di rumah sakit itu.” Tanyaku kepada kakak itu

“iya dek, saya perawat anastesi di rumah sakit itu” jawabnya dengan senyum.

“Wah kaka hebat ya, pemberani, ikhlas tetap berjuang bekerja di masa pandemi. Apa tidak ada rasa takut kak dalam mengatasi pasien covid-19 ?” tanyaku pada kakak terserut.

“Harus berani dek, kalo bukan kita sendiri yang melawan takut dan menyemangati diri sendiri, maka siapa yang akan menangani para pasien itu. Adek ini darimana mau kemana dek?” balas beliau menanyaiku .

“Saya dari perpustakan Cinta Baca untuk meminjam buku kak, ini mau pulang. Tadi cuman capek jalan aja, jadi istirahat bentar disini.” Jawabku pada kakak itu.

“Kak, apa jadi perawat seperti kakak harus sekolah tinggi?” tanyaku lagi kepada kakak tersebut.

“Sekolah tinggi itu harus dek, jika kita mampu. Namun tetap belajar juga wajib agar bisa meraih cita-cita yang tinggi. Dimanapun kita berada, jangan berhenti untuk belajar karena ilmu itu tidak harus di dapat di bangku sekolah. Tetapi, alangkah baiknya jika kita mempunyai kemampuan lebih, kita bisa melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi.” Jawab kaka itu seperti memotivasi dan mengarahkanku untuk semangat belajar meski terkadang sikap malas dan naik turunnya mood belajarku membuatku sulit berfokus untuk belajar.

“Wah keren kak, apa kakak tidak takut atau was-was saat menangani pasien dengan  gejala covid-19.” Lagi-lagi aku bertanya hal yang selama ini ramai diperbincangkan orang-orang. Dengan penuh senyum, kaka itu menjawab “Bukan takut dek, mungkin lebih tepatnya khawatir. Yah, kekhawatiran itu memang ada dan wajar namun, selama protokol kesehatan dan safety dijalankan dengan benar insya allah kekhawatiran itu sirna demi kesembuhan pasien. Eh sudah dulu ya dek, jam istirahat kakak sudah mau habis. Kakak mau kembali bekerja lagi ke dalam rumah sakit.” Kata kakak itu. Dengan senyum, ku sambut perpisahan ini dan berkata “iya siap kak, makasih banyak kak sudah mau berbincang denganku. Tetap semangat bekerja kakak,” ucapku pada kaka itu.

“Kembali kasih dek. Hati-hati pulangnya dan patuhi protokol kesehaan ya.” Jawabnya sambil berjalan meninggalkanku dan masuk melewati pintu belakang yang berda di lorong rumah sakit.

Satu pelajaran telah ku dapatkan hari ini. Akhirnya akupun berdiri dan melanjutkan kembali perjalananku menuju rumah. Sambil berjalan melintasi rumah sakit tersebut, aku tersenyum dan ada rasa kagum bagi para pejung medis yang bekerja mempertaruhkan waktunya berkumpul bersama keluarga, mempertaruhkan nyawanya saat melayani pasien, dan juga mempertaruhkan waktu istirahat mereka demi kesembuhan pasien. Sikap dedikasi dan semangat yang dimiliki para pegawai medis dalam bekerja dan belajar yang tak kenal dengan rasa takut menghadapi wabah dan segala penyakit demi kesembuhan bangsa. Dalam hati kecilku terselipkan do’a, semoga kelak aku bisa menjadi perawat tangguh yang bisa membahagiakan keluarga dan bangsa.

Kuperhatikan, sinar matahari telah berada di atas kepala, semakin terik cahaya bersinar, panasnya pun tak kalah terik. Bergegas kakiku melangkah dengan cepat untuk segera sampai ke rumah. Tak sabar aku ingin segera sampai di rumah untuk membaca buku yang telah aku pinjam di perpustakaan Cinta Baca.

Banyak hal bermanfaat yang bisa yang bisa kita lakukan setelah sekolah daring di rumah. Karena membiasakan kreatifitas belajar pada diri sendiri dimulai dari membiasakan diri sendiri bersahabat dengan situasi dan kondisi saat ini.  Setinggi apapun mimpi dan cita-cita kita, bila kita mau terus berusaha dan tidak menyerah dalam mencari ilmu, niscaya cita-cita dan impian kita akan tergapai. Dengan adanya covid-19 ini, jangan jadikan penghalang bagi kita untuk bisa mencapai cita-cita kita dan meraih kesuksesan di masa depan. Banyak pelajaran dan pengalaman baru semenjak adanya pandemi covid-19. Kita bisa belajar berubah menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan tidak selalu bergantung kepada orang lain. Sadar akan protokol kesehatan  dan tanggap pada perubahan lingkungan.

Penulis adalah Siswi SMP Negeri 3 Bogor, email: vionamaghfiroh27@gmail.com

Exit mobile version