Mama Falak Layak Menjadi Pahlawan Nasional

oleh -1,194 views
KH Tubagus Muhammad Falak, Mama Falak, Abah Falak

BOGOR (Lead.co.id) – KH Tubagus Muhammad Falak Abbas yang dikenal dengan Abah Falak atau Mama Falak dinilai layak menjadi Pahlawan Nasional. Hal itu disampaikan oleh Rommi Prasetya, Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bogor, pada Jumat (6/1/2023).

Selama ini tokoh ulama kelahiran Banten tersebut menjadi salah satu penggerak roda Islam di bumi Nusantara yang mendirikan pondok pesantren di kawasan Pagentongan, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.

Dalam pernyataannya, Rommy Prasetya mengaku terinspirasi oleh sosok Mama Falak yang sudah berjuang menegakkan Panji Islam sejak zaman penjajahan Belanda dan Jepang.

Sudah banyak perjuangan yang diberikan oleh Mama Falak kepada Bangsa Indonesia sehingga sebagai penerus bangsa seharusnya memberikan apresiasi terhadap ketokohan Mama Falak dengan gelar Pahlawan Nasional.

“Mama Falak telah terbukti memberikan dampak luar biasa bagi perjalanan Bangsa Indonesia. Dari zaman Penjajahan, sehingga Bangsa ini merdeka” ujar Ketua GP Ansor Kota Bogor 2015-2019 itu.

Apresiasi kepada Mama Falak terlihat juga dengan adanya nama Jalan di kecamatan Bogor Barat, ini bukti Pemkot Bogor tidak melupakan jasa-jasa Mama Falak.

Dengan momentum haul Akbar ke 51 tahun 2023 sudah saatnya kita bersama sama menyatukan niat sebagai bentuk kecintaan kita kepada Mama Falak, Selanjutnya Rommy Prasetya juga akan memohon izin dan ridho dari dzuriyyah (keturunan) atau keluarga besar Bani Falak untuk memperjuangkan Mama Falak menjadi Pahlawan Nasional.

Selain itu, sesuai dengan UU No. 20 tahun 2009 kiprah Mama Falak sudah memenuhi syarat untuk diajukan menjadi Pahlawan Nasional, dan kami akan mendorong Pemkot untuk ikut memperjuangkan tujuan tersebut.

Rommy menambahkan, sebagaimana dalam manakib dan kesaksian ulama” besar kiprah Abah Falak dalam memperjuangkan kemerdekaan Bangsa ini sudah tidak diragukan lagi. Bahkan, Presiden Soekarno saja sering berkunjung ke Abah Falak meminta saran dan doa dalam perjuangan melawan penjajah, belum lagi Abah Falak banyak melahirkan ulama ulama Besar di Nusantara.

Karena itu Rommy menyatakan, langkah pertama akan meminta izin kepada Dzuriyyah (keturunan) atau keluarga besar Bani Falak, kedua menyiapkan naskah akademik tentang kiprah Abah Falak dalam perjuangan kemerdekaan, ketiga mendorong Pemkot untuk memperjuangkan Mama Falak menjadi Pahlawan Nasional.

Manaqib Mama Falak

Dilansir dari situs Rindu Rasul, Abah Falak adalah seorang ulama kharismatik yang lahir di Banten pada tahun 1842 masehi, tepatnya di Pondok Pesantren Sabi, Desa Purbasari Kabupaten Pandeglang Banten.

Nama asli beliau adalah KH Tubagus Muhammad Falak Abbas bin KH Tubagus Abbas, sedangkan nama kecil beliau adalah Tubagus Muhammad, tetapi ada juga yang mengatakan nama kecil beliau adalah Abdul Halim kemudian diubah menjadi Abdul Haris. Sedangkan gelar falak diberikan oleh gurunya Syekh Sayyid Afandi Turqi, pada saat beliau mempelajari ilmu khasaf dan falak (perbintangan) di Mekkah.

Baca :  JQH Nahdlatul Ulama Kota Bogor Gelar Khotmil Quran

Sejak kecil beliau diasuh oleh ayahandanya KH. Tubagus Abbas dan ibundanya Ratu Quraysin. Ayahnya sendiri adalah keturunan keluarga kesultanan Banten, silsilah dari Syaikh Syarif Hidayatullah, sedangkan ibunya ratu Quraysin merupakan keturunan dari Sultan Banten.

Ayahandanya KH. Tubagus Abbas merupakan seorang ulama besar di Banten. Ia merupakan pendiri dan pemimpin Pondok Pesantren Sabi, dari beliaulah pertama kali Abah Falak mendapat pendidikan dalam bidang baca tulis Al Qur’an, Sufi dan terutama pemantapan Aqidah Islam. Saking cintanya pada ilmu agama beliau sampai pernah mengembara di usia yang sangat muda yaitu 15 tahun. Ia berguru pada ulama Banten dan Cirebon untuk menuntut dan memperdalam ilmunya.

Melalui garis keturunan dari Ayahnya. Abah Falak berasal dari keturunan keluarga besar kesultanan di Banten, bahkan merujuk kepada silsilah keluarganya, Abah Falak termasuk keturunan salah seorang mubalighin utama (Walisongo) yang memiliki putra bernama Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan gelar Sunan Gunung Djati.

Pada usia 17 tahun tepatnya tahun 1857 untuk pertama kalinya beliau berangkat ke tanah suci untuk menimba ilmu selama kurang lebih 21 tahun. Beberapa bidang keilmuan yang beliau pelajari dan perdalam hingga ke Timur Tengah antara lain ilmu Tafsir Al-Qur’an (dari Syaikh Nawawi Al-Bantany dan Syaikh Mansur Al-Madany), ilmu Hadits (dari Sayyid Amin Quthbi), ilmu Tasawwuf (dari Sayyid Abdullah Jawawi), ilmu Falak (dari Affandi Turki), ilmu Fiqh (dari Sayyid Ahmad Habsy, Sayyid Baarum, Syaikh Abu Zahid dan Syaikh Nawawi Al-Falimbany), ilmu Hikmat dan ilmu (dari Syaikh Umar Bajened-Makkah, Syaikh Abdul Karim dan Syaikh Ahmad Jaha-Banten) dan beberapa ulama besar lainnya antara lain Syaikh Ali Jabra, Staikh Abdul Fatah Al-Yamany, Syaikh Abdul Rauf Al-Yamany, Sayyid Yahya Al-Yamany, Syaikh Zaini Dahlan-Makkah, dan ulama-ulama besar dari Banten diantaranya, Syaikh Salman, Syaikh Soleh Sonding, Syaikh Sofyan dan Syaikh Sohib Kadu Pinang.

Selama berada di mekkah beliau tinggal bersama Syekh Abdul Karim, dari Syekh Abdul Karim beliau mendapatkan kedalaman ilmu thorekat dan tasawuf, bahkan oleh Syekh Abdul Karim yang dikenal sebagai seorang Wali Agung dan ulama besar dari tanah Banten yang menetap di Mekah itu, Abah Falak dibai’at hingga mendapat kepercayaan sebagai mursyid (guru besar) Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.

Baca :  GP Ansor Kota Bogor Sikapi Kisruh PCNU, Minta Duduk Bareng

Pada tahun 1878 beliau kembali ke tanah air. Beliau sempat tinggal di tempat kelahirannya Pandeglang Banten dan mendapat kepercayaan memimpin Pondok Pesantren Sabi yang ditinggalkan ayahandanya.

Tetapi seperti perjalanan seorang mubalighin pada umumnya, aktivitas da’wah dan tablignya untuk menyebarkan dan menyiarkan Islam tidak akan terhenti sampai disana. Sebagai wujud untuk mengembangkan dan mengamalkan ilmunya, sejak tahun itu beliau mulai melancarkan aktivitas tablig dan da’wah secara estafet. Dimulai dari daerah Pandeglang, Banten hingga sampai ke Pagentongan Bogor.

Disana beliau mendapatkan seorang istri yang bernama Siti Fatimah, dari Siti Fatimah beliau kemudian dikaruniai seorang putra yang bernama Tubagus Muhammad Thohir atau yang lebih dikenal dengan bapak Acenk. Dari Tb.Muh.Thohir lahirlah beberapa orang cucu dan buyut yang sekarang beberapa diantaranya mengabdi di Pesantren Al-Falak dan sekitarnya. Abah falak bermukim di Pagentongan hingga akhir hayatnya.

Melawan Penjajah

Dilansir dari Vinus, pada tahun 1878, KH. Tubagus Falak pulang ke Tanah Air, menjelang peristiwa Geger Cilegon. Atau yang dikenal dengan Pemberontakan Petani Banten.

Sebagaimana yang kita ketahui, pemberontakan ini dimotori oleh para guru tarekat. Lantaran adanya eksploitasi kolonial Belanda, tingginya pungutan pajak, dan tekanan kerja paksa.

Sartono Kartodirjo, dalam Pemberontakan Petani Banten 1888, menyebut KH. Tubagus Falak menjadi salah satu ulama yang terlibat dalam Peristiwa Geger Cilegon. Penggeraknya para Kyai tarekat, seperti KH. Wasid, KH. Tubagus Ismail, dan Haji Marjuki.

Para penggerak pemberontakan tersebut merupakan murid dari Syekh Abdul Karim. Pernah belajar di Makkah. Pengaruhnya sangat besar terhadap peristiwa itu.

Sama seperti Syekh Abdul Karim, KH. Tubagus Falak bukanlah seorang revolusioner radikal. Kegiatannya sebatas dakwah, menyiarkan agama Islam. Sehingga Ia tidak menjadi tokoh kunci Pemberontakan Petani Banten tahun 1888.

Meski begitu, KH. Tubagus Falak menjadi salah satu sasaran yang harus ditangkap kolonial Belanda. Pengaruhnya terhadap masyarakat sangat luar biasa. Sehingga menjadi momok tersendiri bagi Belanda.

Lantaran terus diburu pemerintah Kolonial, pada tahun 1892, KH. Tubagus Falak kembali ke Makkah. Menunaikan haji dan memperdalam ilmu agama. Hingga menjelang awal abad 20.

Pada periode kedua di Makkah, KH. Tubagus Falak seangkatan dengan KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan. Tokoh agama pendiri dua organisasi besar di Nusantara, yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Gerakan Kebangsaan

Pada awal abad 20, KH. Tubagus Falak kembali pulang ke Nusantara. Memulai aktivitas pendirian Pesantren Al-Falak Pagentongan, Bogor. Pondok yang pernah Ia rintis sebelumnya.

Baca :  Ifan Haryanto Masuk PWNU, Edi Nurokhman Pimpin NU Kota Bogor

Karena kealiman dan kemasyhuran KH. Tubagus Falak, pondok pesantren asuhannya menjadi salah satu tujuan belajar para santri. Menjelma menjadi salah satu pusat penyebaran Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Nusantara.

Aktivitas kebangsaannya semakin terlihat ketika ia kerap didatangi para tokoh pergerakan nasional kala itu. Sebut saja HOS. Tjokroaminoto. Juga Ir. Soekarno yang seringkali meminta nasihatnya untuk urusan kemerdekaan Indonesia.

Pada masa Revolusi Fisik tahun 1945-1949, Ia juga turut berperan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mama Falak menjadi tokoh spiritual dan membangkitkan semangat Jihad Fisabilillah melawan penjajah.

KH. Tubagus Falak wafat pada Rabu, 19 Juli 1972 M. Bertepatan pada tanggal 8 Jumadilakhir 1392 H., pada usia 130 tahun. Dimakamkan di Pagentongan, Bogor.

Sejarah perjuangan KH. Tubagus Falak harus mendapat tempat di ingatan generasi saat ini dan yang akan datang. Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia tidak diragukan lagi.

Abah falak merupakan seorang ulama yang kharismatik, hingga saat ini beliau telah tiada makamnya masih sering diziarahi oleh banyak orang dari berbagai penjuru tanah air, bahkan oleh para pejabat Negara. Ini menunjukan suatu bukti bahwa semasa hidupnya beliau memiliki kedalaman ilmu dan pengaruh yang sangat luas diberbagai khayalak.

Semasa hidupnya Abah Falak dikenal sebagai seorang yang dermawan, banyak orang yang datang kepadanya untuk meminta tolong dan beliau selalu memberikan pertolongan kepada orang-orang yang meminta pertolongan.

Yang tidak kalah menarik menurut penuturan KH. Zein, bahwa apabila kedatangan tamu yang niatnya tidak bagus, maka beliau seperti orang tuli, Pernah suatu saat Abah Falak kedatangan tamu yang minta nomor togel.

Pada saat orang itu mengutarakan maksudnya, Abah Falak bertanya berulang kali seolah-olah sama sekali tidak mendengar apa yang diutarakan orang itu, bahkan secara tiba-tiba , Abah Falak menyuruh orang itu pulang .

Abah falak wafat pada tanggal 19 Juli 1972M atau 8 Jumadil Akhir 1392H, yang di usianya yang ke 130 tahun. Beliau dimakamkan di areal komplek Pondok Pesantren Al Falak yang tidak jauh dari Masjid Al Falak. Beliau meninggal karena sakit ringan. Hampir seluruh ulama dan Habib termasuk masyarakat ditanah air banyak yang ikut mensholatkan dan mengantarkan ketempat peristirahatannya yang terakhir

Sekarang Pondok Pesantren Al-Falak dikelola oleh buyutnya (generasi IV) Abah Falak yang tinggal di Pagentongan, dan Pondok Pesantren Al-Falak tetap konsisten untuk membantu pemerintah dalam membangun sumber daya manusia yang islami.