Site icon LEAD.co.id

Masjid dalam Era Digital: Menuju Ekosistem Pembelajaran bagi Generasi Z dan Alpha

Oleh: Dr. H. Ulil Amri Syafri, M.A

Perkembangan teknologi digital telah mengubah paradigma pendidikan secara fundamental. Pembelajaran tidak lagi dipahami sebagai aktivitas yang berlangsung secara eksklusif di ruang kelas, melainkan sebagai proses yang terjadi dalam berbagai ekosistem belajar yang saling terhubung.

Dalam dua dekade terakhir, literatur pendidikan global bergerak menuju konsep-konsep seperti Artificial Intelligence in Education (AIED), Hybrid Learning, Learning Ecosystem, Community Learning, dan Lifelong Learning. Pergeseran ini menempatkan teknologi bukan sekadar alat bantu pembelajaran, tetapi sebagai medium yang membentuk cara individu belajar, berinteraksi, dan membangun pengetahuan.

Namun, di tengah perkembangan tersebut, terdapat ruang yang masih relatif kosong dalam literatur pendidikan internasional, yaitu bagaimana lembaga keagamaan—khususnya masjid—bertransformasi menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran digital. Sebagian besar penelitian tentang masjid masih berfokus pada aspek arsitektur, dakwah, manajemen organisasi, atau pemberdayaan sosial. Sangat sedikit penelitian yang menempatkan masjid sebagai institusi pendidikan masyarakat yang berhadapan langsung dengan tantangan generasi digital.

Padahal, lebih dari dua miliar Muslim di dunia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan masjid sebagai ruang pembinaan spiritual sekaligus ruang pembelajaran sosial. Di sisi lain, Generasi Z dan Alpha merupakan kelompok yang tumbuh sebagai digital natives ( jumlah mereka + 65 juta di Indonesia saja).

Mereka terbiasa belajar melalui media sosial, kecerdasan buatan, video pendek, komunitas virtual, dan pembelajaran berbasis perangkat bergerak. Karakteristik ini menimbulkan kesenjangan antara pola belajar generasi baru dengan model pendidikan masjid yang pada banyak tempat masih didominasi pendekatan tatap muka yang bersifat satu arah dan kurang memanfaatkan teknologi digital.

Persoalannya bukan sekadar bagaimana memasukkan teknologi ke dalam aktivitas masjid. Pendekatan seperti itu hanya menghasilkan digitalisasi administratif atau penggunaan media secara sporadis. Tantangan yang lebih mendasar adalah bagaimana merancang tata kelola pendidikan yang mampu mengintegrasikan kepemimpinan, teknologi, budaya belajar, dan pembinaan spiritual ke dalam satu ekosistem pembelajaran yang utuh. Dengan kata lain, teknologi harus dipahami sebagai jembatan pedagogis yang menghubungkan kebutuhan belajar Generasi Z dan Alpha dengan misi pendidikan Islam, bukan sebagai tujuan akhir dari transformasi.

Berdasarkan konteks tersebut, pertanyaan ilmiah yang layak diajukan bukan lagi bagaimana masjid memanfaatkan teknologi, melainkan bagaimana masjid dapat bertransformasi menjadi digital learning ecosystem yang mampu mendidik Generasi Z dan Alpha tanpa kehilangan identitasnya sebagai pusat pembinaan spiritual dan pembentukan karakter. Pertanyaan ini memiliki signifikansi global karena mempertemukan dua arus besar yang selama ini berkembang secara terpisah, yaitu transformasi pendidikan berbasis teknologi dan pendidikan masyarakat berbasis nilai-nilai keagamaan.

Penelitian semacam ini berpotensi memberikan kontribusi teoretis yang kuat dengan mengintegrasikan konsep Connected Learning (Ito), Community of Inquiry (Garrison), Self-Determination Theory (Deci & Ryan), dan Technology Acceptance Model (Davis) ke dalam konteks pendidikan berbasis masjid. Lebih jauh, penelitian ini dapat melahirkan sebuah kerangka konseptual baru, yakni Mosque Digital Learning Ecosystem, yang memosisikan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi sebagai institusi pendidikan masyarakat yang adaptif, kolaboratif, dan relevan bagi generasi digital abad ke-21.

Exit mobile version