Site icon LEAD.co.id

Milad 81 tahun Ongaku, H Edward Arfa

Oleh: Apendi Arsyad

Alhamdulillah, Kamis kemaren sore tanggal 29 Desember 2022, saya AA (63 thn) dan istriku Hj Sudarijati, SE,MSi (60 thn) sudah mendarat di bandara Raja Haji Fisabillillah, Bintan-KepRiau setelah terbang lk 1,5 jam dari Soekarno-Hatta Jakarta (Sutta Jkt) dengan selamat. Walaupun sebelumnya saya agak ragu juga dengan keadaan cuaca yang tak bersahabat di negeri ini di penghujung tahun.

Keadaan cuaca berdasarkan ramalan dan faktanya demikian buruk, musim hujan. Bahkan menurut berita ramalan cuaca BMKG RI, berpotensi terjadinya angin puting beliung dan di perairan laut ada gelombang besar, barang tentu mencemaskan dan membahayakan.

Begitulah suasana perjalanan antar pulau di penghujung tahun 2022 ini, sehingga membuat saya sedikit ragu untuk berpergian, keluar rumah dari Ciawi Bogor. Kawan2 saya di Bogor juga berpesan demikian, ketika saya pamitan berkabar lewat pesan WAG, setelah ikut Lokakarya Nasional “Senandika: Pandangan Kritis Mengenai Pendidikan Tinggi dan Pertanian”, saya sempat hadir sebentar, pagi-pagi di ICC IPB University. Mereka mengingatkan saya sahabatnya, agar lebih berhati-hati selama dalam perjalanan, ada cuaca ekstrim tersebut.

Apalagi 3-4 hari kemaren di kawasan Puncak Bogor terus diguyur hujan, sungai Ciliwung dan bendungan terkenal, dibangun zaman Belanda, Katu Lampa Kota Bogor agak meluap. Di daerah Jabodetabek dan sekitarnya kondisi cuaca mendung tanpa ada sinaran matahari sedikit pun, hampir di sepanjang hari.

Akan tetapi niatku untuk terbang dari Jakarta menuju Kota Tg Pinang, tempat bermukimnya, dunsanak yg saya hormati, kakakku (ongaku) H.Edward Arfa SH, yang akan berulangtahun (milad) ke 81, pada hari Jumat tgl 30 Desember 2022 tidak pernah surut. Saya dan istri memang sudah rindu untuk bersua-bertatap muka, bersilaturrahmi dengan ongaku dan istrinya Hj.Surati Edward yang baru sembuh dari sakitnya. Dengan membaca kalimat “basmallah” saya dan istri melangkah keluar rumah sambil berdoa, menuju bandara Sutta Jkt untuk terbang ke Bintan dengan naik Citylink.

Alhamdulillah, penerbangan cukup nyaman dan menyenangkan, sambil mengamati tumpukan awan-padat di balik jendela pesawat, cuaca yg dikhawatirkan memburuk, ternyata tidak terjadi, subhanallah. Di bandara Fisabillillah, ongaku, kakakku Hj. Surati dan cucunya yg pintar dan lucu Arsa sdh menyambut kedatangan kami. Rasa haru dan rindu bertemu tak terbendung, ketika bersalaman dengan onga EA dan kakak iparku tidak bisa saya sembunyikan di rawut wajahku yang agak sembab karena meneteskan air mata kebahagiaan.

Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, saya masih diberi kesempatan untuk bisa bersua-bertemu muka dengan ongaku EA, orang yang pernah membantu biaya sekolahku, ketika studi pada program sarjana (S1) dan Pascasarjana (S2 dan S3) di IPB University Bogor, sehingga nasib hidupku menjadi begini, saya tak akan lupa selalu bersyukur kpd Allah SWT, dan berterima kasih kepada ongaku H. Edward Arfa SH, kini pensiunan Hakim dan mantan Ketua PN Tg Pinang sejak tahun 2001, kemudian berprofesi sebagai pengacara, penegak keadilan dan konsultan hukum Pemprov Kep Riau selama 2 dasawarsa, dan baru berhenti sebagai pengacara lk 4-5 tahun lalu. Kasus terakhir yang ditangani ongaku EA, membela para pejabat ASN Pemda Provinsi KepRiau yang tersandung korupsi usaha pertambangan Bauxit illegal.

Menurut tutur kata ongaku EA kepada saya, ketika saya mengobrol dengan beliau di rumahnya daerah Engku Putri, jln Cendana 2 Kota Tg Pinang, dan warung kopi ketika diajak berkuliner di kota Tg Pinang pada tahun lalu (2021) dan tahun ini (2022) saya dan istriku kembali berkunjung, beliau berkata bahwa pada bulan Oktober thn 2020, ketika istirahat setelah persidangan di PN Tg Pinang untuk beribadah sholat zhuhur dan makan siang di salah satu restoran di seberang kantor Pengadilan Negeri (PN) Tg Pinang, sewaktu berjalan ke restoran, beliau ditabrak sepeda motor dari arah belakang.

Akibat kecelakaan itu ongaku EA, citra patah tulang rusuk dan sempat dirawat di RS Angkatan Laut Tg Pinang beberapa bulan. Tapi alhamdullillah onga EA bisa sembuh, bisa menyetir mobil, walaupun belum pulih sekali kesehatannya, karena dalam organ tubuhnya ada belasan jahitan dan pemasangan alat kesehatan 4-5 buah “pen” dalam tubuhnya. Sewaktu menerima informasi apa dan bagaimana kejadiannya dari mulut ongaku EA, lantas muncul pikiran di benakku bahwa onga ditabrak sepeda motor yang melaju kencang, karena sedang membela kasus besar illegal mining Bauxit Bintan yang melibatkan banyak pihak, terutama oknum kalangan “the ruling party”.

Ongaku EA memang sudah sangat berpengalaman, cerdas-idealist, piawai dalam menjalani berbagai perkara hukum, serta berani beropini di media massa dekat dengan para wartawan di KepRi, sehingga dalam proses pembelaan di PN Tg Pinang, berita kasus illegal mining Bauxit ini mencuat di opini publik.

Dari pemberitaan tersebut, ada pihak yang mendatangi untuk “berdamai”, akan tetapi ongaku tetap berperkara secara profesional demi tegaknya keadilan. Begitulah cerita ringkasnya, sehingga saya sempat berpikir dan “berkesimpulan” bahwa ongaku korban “mapia” illegal mining”, hingga sekarang ongaku EA kesehatannya agak terganggu dan sudah pensiun total sebagai pengacara profesional, kini menikmati hari-hari tua, seraya rajin beribadah, mendekat diri kepada Allah SWT.

Subhanallah, Walaupun kondisi kesehatan ongaku EA agak “terganggu”, setelah kecelakaan parah menimpa dirinya, ketika menyeberang dari PN Tg Pinang ke Musholah restoran 2 tahun lalu di usia 79 thn, beliau masih bisa dan berkesempatan menulis buku untuk memperingati.milad ke 80 yang judul bukunya “Memori Suka Duka Profesiku Sebagai Pengacara (Lawyer) dan Penasehat Hukum (Legal Advicer) Serta Pengalaman Hidup pada Tahun 2002-2021”, 236 halaman, by H.Edward Arfa SH. Saya dan istriku hadir dalam acara launching buku tersebut disalah satu restoran seafood Sungai Jang di Kota Tanjung Pinang dalam acara ultah (milad) ke 80. Ongaku EA memang sangat berbakat menulis memoar, saya diam-diam juga mengikuti jejaknya.

Oh ya, sekitar 12 tahun yang lalu, ongaku EA juga telah menulis buku memori kenangan berupa buku berjudul “Perjalanan Hidupku Hingga Usia 70 tahun, 213 halaman, by H. Edward Arfa SH, penerbit CV Insan Grafika, Bogor. Pada buku memperingati milad ke 70 tahun. Saya AA adiknya diminta memberikan sambutan dan testimoni selaku Ketua Umum IKC Se Jabodetabek, pada cover bukunya, saya pun menulis bahwa ..”kakakku (onga) Edward Arfa SH telah menuturkan riwayat hidupnya dengan begitu enak gaya bahasanya, jernih dan runtut mengungkapkan perihal sejarah perjuangan hidupnya yang penuh liku-liku dalam menghadapi berbagai tantangan.

Begitu banyak cobaan hidup dalam menuntut ilmu, mendapatkan Sarjana Hukum di Universitas Brawijaya Malang dan Universitas Jember, meniti dan merauh karier sebagai hakim dan advokat…alhamdulillah sukses. Beliau dianugerahi Allah SWT, keluarga sakinah mawaddah warohmah, dengan rezeki yang sangat berkecukupan, dan beliau senantiasa menjaga keseimbangan hidup untuk dunia dan akhirat, sehingga faktanya ongaku EA gemar beramal membangun sarana ibadah, bersedekah membantu kaum “fuqoro masakin” dan kerabat-kerabatnya yang membutuhkan.. (termasuk aku adiknya Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, MSi, Ketum IKC se Jabodetabek, dan Pendiri-Dosen Senior Universitas Djuanda, Ciawi Bogor).

Beliau ongaku EA juga telah berkontribusi dalam pelestarian dan pengembangan studi masyarakat adat Melayu Cerenti Kabupaten Kuantan Singingi Riau, dengan memprakarsai penyelenggaraan Seminar Nasional (semnas) Masyarakat Adat Melayu Cerenti Riau thn 2003. Cerenti adalah sebuah ibu kota kecamatan, tempat kelahiran dan kampung halaman, dimana kami dibesarkan.

Selanjutnya prosiding hasil Semnas Adat tersebut, kini sudah menjadi sebuah karya ilmiah populer dan dibukukan menjadi sebuah buku, yang berjudul “Mendulang Butir-Butir Budaya dan Adat Istiadat Masyarakat Melayu Cerenti Kabupaten Kuantan Singingi Riau, thn 2018, diterbitkan IPB Press Bogor bekerjasama dengan Yayasan Arsyada (Arsyad-Daranah) Cerenti Madani (ACM Foundation) yang saya pimpin.

Kehadiran buku tersebut telah berkontribusi amat ponsitif terhadap upaya-upaya pelestarian budaya Melayu Riau, yang kini kian memudar dalam kehidupan masyarakat, khususnya pola berperilaku generasi muda millenial etnis Melayu Riau zaman Now.

Adanya 2 buku authobiografi yang ditulis sendiri oleh ongaku EA, saya semakin paham tentang pengalaman hidupnya dengan watak pekerja keras, disiplin, pembelajar yg baik, rajin dan tekun berliterasi (di rumahnya ada perpustakaan dengan buku-buku yang banyak), orangnya dermawan dan pantang menyerah untuk mewujudnya sebuah cita-cita menjadi orang yang berguna, dan patut menjadi suritauladan bagi generasi muda dan adik-adiknya seperti saya.

Pada hari ini Jumat 30 Desember 2022, saya dan istriku kembali, menginjakan kaki di bumi Lancang Kuning atau bumi Gurindam 12- bunda Melayu, daerah seribu pulau, Kepulauan Riau.

Beberapa pulau-pulau kecil ini dahulu merupakan perkampungan nelayan seperti pulau Penyengat, Karas, Dompak, Pangkil, Sembulang, Abang-Batam Rempang dan Galang (Barelang) dan sekitarnya, dimana lokasi tempat saya AA doeloe melakukan riset untuk penyelesaian tugas akademik, yakni: skripsi sarjana (Ir) pada program studi (prodi) sosial ekonomi perikanan FPIK- IPB, berjudul “Pola Pendapatan dan Pengeluaran Rumah Tangga Nelayan Jaring Ikan dan Udang: Studi Kasus di Kecamatan Bintan Selatan, Kab. Kepulauan Riau” (thn 1984), sedang studi Magister sain pada prodi PSL IPB (1999) tesisnya berjudul “Rencana Zonasi Pariwisata Bahari Berkelanjutan di Barelang, Kep Riau”, dan dilanjutkan studi doktor pada prodi SPL IPB University (2007) berjudul disertasi “Analisis Pengelolaan Perikanan Artisanal: Studi Kasus Kelurahan Pulau Abang, Kota Batam, Kep Riau”.

Jadi daerah seribu pulau atau kawasan Kepulauan Riau ini, saya sedikitnya sudah agak mengenal baik masyarakatnya, ekosistem dan agromarinenya, dan juga berada di bunda bumi Melayu, peninggalan kerajaan Islam Melayu Lingga, bisa pula saya bernostalgia di Pulau Penyengat (letak pulaunya di seberang Kota Tg Pinang) tempat makam sastrawan Melayu tersohor, Raja Ali Haji (intelektual muslim Melayu, yang banyak jasa dalam kebudayaan bidang bahasa Indonesia/ Melayu sbg bahasa persatuan nasional yang ditetapkan pada Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 di Jakarta, kini almarhum telah menjadi Pahlawan Nasional).

Raja Ali Haji adalah penasehat kerajaan Melayu Lingga, juga pengarang Gurindam 12. Disamping itu, kehadiran saya di bumi Gurindam 12, bisa bersilarurrahni dengan keluarga ongaku EA yang kini, beliau memasuki usia genap 81 tahun.

Saya AA dan istriku Atik selalu bersyukur atas karunia dan nikmat Allah SWT, sehingga kami bisa bersilaturtahmi dalam rangka merawat persaudaraan (ukhuwah) islamiyah bersama para Dunsanak.

Selamat Milad ke 81 thn (30 Desember 2022) ongaku H.Edward Arfa SH, semoga dalam keadaan sehat walafiat dan berbahagia bersama keluarga dan kerabatnya. Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi kita, barakallah, Aamiin YRA.

Penulis adalah Pendiri-Dosen Universitas Djuanda Bogor; Pendiri-Ketua Wanhat ICMI Orwil Khusus Bogor; Konsultan K/L negara; Pegiat dan Pengamat Sosial

Exit mobile version