Nostalgia Radio “Philip Tua” dan Artis Jadoel Ida Laila

0
Nostalgia, Radio Philip, Artis Jadoel, Ida Laila
Pamflet Album Musik Ida Laila [File: Suara Giri FM]

Oleh: Dr. Apendi Arsyad

Assalamu’alaikum, Selamat pagi para Sahabat Kodel, semoga sehat dan berbahagia selalu.

Pagi ini Selasa 26/01-2021 saya dapat postingan yang “hebaat and mantuul” dari akang Surya-Di sahabatku Kodel via WAG TPB 80.

Kodel adalah singkatan dari kelompok 8 yang doeleo pada thn 1980 kami baru masuk PT/IPB University, dan pernah belajar bersama-2 pada Tingkatan Persiapan Bersama/TPB IPB yang ketika didesign oleh Rektor IPB legendaris alm. Prof. Andi Hakim Nasoetion, dan sekarang lokasi TPB-IPB tersebut seiring dengan pengembangan program “bisnis BHMN IPB”, sudah berganti menjadi komplek Mal terkenal di Bogor “Botani Square” Baranangsiang Kota Bogor yang ramai dikunjungi.

Adanya postingan kang Surya-Di berupa gambar radio transistor tua (jadoel) merk Philip dan diperdengarkannya suara merdu penyanyi/artis Pop Melayu Ida Layla yang sangat populer di kampung-2 di masa itu thn 1970an, mengingatkan saya akan kehidupan di masa kecilku, waktu usia remaja di kampuang.

Radio transistor Tua Philip inilah satu-2 sumber hiburan kami di tahun 1970an di daerah perdesaan di jaman doeloe (jadoel), di desaku TVpun masih sangat jarang mungkin belum ada. Bahkan listrik juga belum ada sama sekali di desa-2 di daerahku Kabupaten Indragiri Hulu, beribukota Rengat. Begitu terbelakangnya negeriku semasa itu, fasilitas umum masih sangat langka.

Seingat saya, instalasi listrik dari PLN baru terpasang sekitar thn 1974an itu pun baru untuk desa-2 ibu kota Kecamatan, seperti Desa Kampung Baru ibu kota Kec. Cerenti tempat kelahiran dan aku dibesarkan. Sedangkan Televisi hitam putih di kampung, seingat saya thn 1970an memang sdh ada tapi baru ada hanya satu, milik orang kaya di kampung, seorang pebisnis dan milik Kapal/ “belungkang” angkutan barang sembako dan hasil bumi “ghotah boku dan gotah kopiang” (karet alam, lateks) yang diangkut melalui sungai Kuantan dengan route PP (pulang pergi) Cerenti-Rengat). Alm ayahku H. Arsyad Kahar seorang pedagang antar Kecamatan juga menggunakan jasa angkutan “belungkang” ini. Untuk sarana hiburan di desa-2 memang betul-2 sangatlah jarang tersedia.

Baca :  Nostalgia Sepeda "Raleigh" Tuo Tempo Doeloe

Ada TV satu-2nya di kampung disebutkan tadi, itupun TV hitam putih yg gambar dan suaranya “setengah jelas” karena menggunakan baterai atau genset lustrik sendiri, bukan PLN. Jika malam minggu tiba, saya dkk seusia kadang-2 menumpang menonton di balik jendela pemilik rumah yang berTV itu.

Juga adanya radio transtor Philip ini satu-2 sumber informasi berita dan hiburan di kampung. Bagi kami yang hidup di desa, Radio jadoel ini sangat penting artinya untuk mengisi waktu-2 kehidupan kami orang kampuang yang “ndeso” yang baru sedikit tahu barang teknologi. Sisa waktunya kami banyak menghabiskan waktu di sawah, ladang, kebun dan padang pengembalaan hewan ternak bagi yang punya. Atau kami kaum kanak-2 bermain di sungai, di hutan kebun karet dan di halaman rumah bermain dengan alat mainan tradisional spt bermain klereng, duit-2an bekas bungkus rokok, gasiang, peti umpet dsb, atau sepulang dari sekolah (SD) belum sampai di rumah, mandi dulu “terjun-2an” di kali (nyemplung, terjun dari jembatan ke sungai Lingkaran Desa Kp Baru) dan atau berenang menyeberang di sungai Kuantan, sampai di pulau.seberang (pulau Jambu) saya bersama-sama kawan-2 bermain bola kaki, yang bahannya dari plastik, dan banyak lagi jenis permainan tradisional di desa ketika itu.

Kembali ke cerita nostalgia radio dan lagu pop Melayu. Pada saatnya radio transistor Philip tersebut di’stel’ oleh pemilikya pada posisi gelombang stasiun radio AM, dan kebetulan muncul artis pujaan dan terkenal Aida Layla di jadoel, menyajikan lagu Melayu yang lagi ngetop di masa itu, maka begitu senang perasaan hati ini dan gembiranya mendengar suara sendu nan merdu seperti yg didengar pada postingan kang Surya-Di ini. Ya begitulah nikmatnya mendengar lagu pop Melayu yang ada di masa lalu itu (jadoel)

Baca :  Nostalgia Naik Oto-Bis Jaman Doeloe

Dimasa itu, saya menikmati hiburan tersebut, sambil saya bertugas menjaga warung ‘kelontong” (toko) milik kakakku di desa, radio transiator Philip inilah yang menemaniku di toko untuk mengatasi kesunyian yg bisa menjemukan. Sambil menunggu para pembeli, radio transistor dibunyikan dengan stel yg kadang-2 terpaksa berganti gelombang AM. Rasa kesepian dan kesunyianku sirna, ketika muncul lagu-2 dangdut dan Pop Melayu terdengar di stasion radio yang distel gelombang AMnya itu (sedangkan gelombang FM belum ada di desaku). Selama mendengar lagu Ida Layla, biasanya di waktu siang hari, saya merasakan betul-2 terhibur sejenak dan terkadang tanpa sadar menggerakan tangan dan menggoyangkan lutut selama mendengar dendangan lagu Melayu tersebut. Walaupun suara nyanyian artis alm. Ida Laila di radio terdengar kadang-2 sayup-2 sampai ke telinga, akibat gelombang AM diganggu oleh cuaca buruk (hujan dan bahkan petir). Kenyataan tempo doeloe ini, tentunya sangat jauh berbeda dengan situasi dan kondisi kehidupan di masa kini (millenial era), dimana teknologi ITC semakin canggih, dan sumber-2 hiburan juga begitu banyak pilihannya. Dampak globalisasi informasi membuat sekat-2 antara kehidupan desa dan kota semakin tidak berbatas (unboundaries), orang-2 Desa kini sudah menikmati aneka hiburan hampir mirip seperti orang-2 kota, tidak terisolagi lagi.

Postingan kang Surya-Di ini bagi saya cukup menarik memang, dan membangkit emosi- kenangan masa lalu (nostalgia) saya semasa hidup di Desa Kampung Baru Cerenti, Kuansing Riau, tempat kelahiran dimana aku dibesarkan, sekitar tahun 1970an, ketika saya masih duduk kelas 4-5 di SDN Nomor 1 Kecematan Cerenti, sekarang Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing, sejak pemekaran thn 1999). Radio transistor bermerek Philip itu saya gunakan untuk mengisi waktu-2ku di jaman doeloe (jadoel).

Baca :  Nostalgia Sepeda "Raleigh" Tuo Tempo Doeloe

Seiring dengan dinamika kemajuan zaman dan semakin canggihnya kemajuan teknologi, terutama di masa information and Communication Technology (ITC era) yg berkembang sangat pesat, “Radio transistor tuo merk Philip” itu tidak lagi digunakan masyakat, bahkan barangkali sudah banyak yang hilang (punah) atau sudah menjadi barang antik yang terpajang di almari kaca rumah kita masing-2, bagi mereka yg hobby mengkoleksi barang-2 antik spt radio tua tsb. Saya sendiri masih punya radio antik ini sebagai “pajangan” saja, tersimpan di ruang khusus dan tidak bisa distel musik dan lagu-2 kenangan lagi.

Demikian pula kita tahu bahwa penyanyi (artis) terkenal tempo doeloe itu Ida Laila yang berambut panjang tergerai, itu pun sudah tidak akan bisa kita lihat lagi di dunia fana ini, mbak Aida Layla yg pernah menghibur itu sudah berpulang kerahmatullah menghadap Sang Maha Penciptanya Allah SWT beberapa tahun lalu, tapi lagu-2 peninggalannya yang terekam di piringan hitam, kaset dan CD masih bisa kita dapatkan.

Barang tentu, kita yang masih hidup ini, mari kita mendoakannya, semoga arwah almarhumah Uni atau Teteh Aida Layla ditempatkan yang terbaik disisiNya, Surgajannatunnaim. Amin-3 YRA.

Terima kasih kang Surya-Di, sahabat Kodelers yg suka share video “aneh” tapi bagus, Anda telah mengingatkan masa lalu saya, untuk bernostagia dengan “Radio Philip Tua” yang pernah saya miliki, dan juga artis Jadoel Ida Layla yg pernah menghibur, sewaktu masa kecilku hidup di desa yg masih tertinggal dan belum berkembang seperti sekarang ini.

Semoga narasi ini ada manfaatnya. Mohon maaf jika ada sahabatku yang kurang berkenan, niat saya hanya ingin berbagi cerita, mana tahu ada manfaatnya. Syukron, barakallah. Amin-3. Wasallam.

Penulis adalah Pendiri-Dosen Senior/Assosiate Profesor Prodi Agribisnis Universitas Djuanda Bogor; Konsultan K/L, Aktivis Ormas di Bogor dan Pemerhati Sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here