Site icon LEAD.co.id

PB HMI Dorong BNPT Tingkatkan Kerjasama dengan Pemuda

FOTO. PJ Ketua Umum PB HMI, Romadhon Jasn

JAKARTA (LEAD.co.id) – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi yang merepresentasikan kelompok pemuda, merasa resah dengan maraknya jebakan radikalisme. Hal itu disampaikan oleh PJ Ketua Umum PB HMI, Romadhon Jasn dalam keterangan pers, pada Sabtu (4/12/2021).

Romadhon menyebut, dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme di tanah air yang semakin masif di masa pendemi ini, keterlibatan pemuda sangatlah dibutuhkan untuk penanganan yang lebih cepat dan efisien.

“Dalam kajian PB HMI, ada kecenderungan rekrutmen dan doktrinasi dilakukan lewat konten-konten di internet. Di masa pandemi ini salah satu cara paling mudah untuk menjebak kalangan muda yang untuk mendukung ideologi mereka dan selanjutnya melakukan aksi teror,” kata Romadhon.

Oleh Karena itu, pemuda yang akrab disapa Madhon ini mendorong Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk terus mengajak kerja dengan semakin banyak kelompok pemuda.

Pasalnya, BNPT merupakan Instansi pemerintah Non-Kementerian yang diberi tugas dan fungsi untuk merumuskan, menyusun, mengoordinasikan, strategi serta melaksanakan kebijakan dalam mewujudkan program nasional di bidang penanggulangan terorisme.

“Tantangan utama penanggulangan terorisme di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini justru semakin banyak yang muncul lewat media internet,” ungkapnya.

Kelompok-kelompok teroris atau yang terafiliasi dengan mereka maksimalkan aktivitas daring. Di samping melakukan rekrutmen anggota baru, mereka juga aktif melakukan penggalangan dana secara masif.

Pandemi Covid-19 tidak sekedar menjadi ancaman kesehatan tetapi juga bagi keamanan dalam negeri. Kelompok teroris justru menjadikan masa pandemi ini sebagai peluang untuk melancarkan agenda-agenda mereka.

“Itu sebabnya, PB HMI terus mendorong agar BNPT mengajak semakin banyak civil society untuk mewartakan perlawanan terhadap gerakan radikalisme dan intoleransi,” katanya.

Semakin banyak civil society yang diajak bergabung, lanjut Madhon, justru akan berdampak positif terhadap upaya BNPT dalam meminimalisir gerakan radikalisme.

Menurutnya, kerjasama tidak hanya dalam bentuk sosialisasi terhadap anggota kelompok pemuda, tapi harus lebih konkrit seperti membuat konten-konten edukasi dan lain-lain. Masyarakat khususnya anak muda, sangat rentan terpengaruh paham radikalisme dan terorisme, perlu adanya edukasi agar mereka dapat memfilter konten-konten negatif.

“Tindakan paling konkrit yang harus dilakukan BNPT sekarang adalah mempercayakan kelompok muda untuk membuat konten-konten perlawanan terhadap doktrin radikalisme yang sudah tersebut dimana-mana,” tegas dia.

Tema terorisme, lanjut Madhon, terus menjadi aktual, dan pola penanganannya juga semakin kompleks. untuk itu perlu kerjasama bersama di semua bidang. Tantangan dan kompleksitas perkembangan zaman membuat radikalisme dan terorisme perlu ditanggulangi bersama secara komprehensif.

“Kami mengapresiasi gerakan Kepala BNPT dalam menangkap dan menekan angka masyarakat yang terpapar radikalisme. Tantangan bangsa kita ke depan semakin kompleks pasca pandemi. Konsentrasi pemerintah dalam pemulihan ekonomi tidak boleh terganggu,” ujarnya.

Romadhon juga menyebutkan bahwa, energi bangsa ini harus dikerahkan sepenuhnya untuk perbedaan ekonomi rakyat. Satu saja tindakan terorisme misal bom bunuh diri atau serangan ke Pusat pemerintahan akan menguras energi pemerintah

“Pencegahan sedini mungkin, hanya akan terjadi bila semakin banyak komponen masyarakat yang turut terlibat dalam mewartakan pesan-pesan inklusif ke tengah-tengah masyarakat,” tandasnya.

 

Reporter: Kholisin Susanto
Editor: Moh Hasanuddin

Exit mobile version