Oleh : Prof. Dr. Hasbi Indra, M.A
Pendidikan tinggi Islam bagian dari Lembaga penyiapan umat untuk mencerdaskan dan membentuk literasinya dalam keilmuan dan lainnya. Pendidikan islam yang menjadi pesan surah al-‘Alaq 1-5 dalam Quran yang diturunkan sejak abad 14 lalu.
Surah itu juga berisi spirit umat untuk senantiasa meningkatkan literasinya bukan saja pada kitab sucinya tetapi juga pada literatur keilmuan pada umummnya yang hal itu telah ditunjukkan ilmuan di masa keemasan Islam yakni masa Umayyah dan Abbasiyah. Lembaga pendidikan Islam termasuk pendidikan tingginya berkembang di Nusantara dan mengalami dinamika dengan nama yang bervariasi yang dituntut di pendidikan ini juga untuk berperan meningkatkan literasi keilmuan di tengah bangsa.
Dinamika Lembaga Pendidikan Islam
Pendidikan Islam berawal di masa Rasulullah yang diselenggarakan pendidikan di rumah Arqam ibn Arqam terletak di bukit Safa dan di tempat itu nabi mengajarkan dasar-dasar atau pokok-pokok agama Islam kepada shahabat-shahabatnya.
Di rumah itu juga dibacakan wahyu-wahyu (ayat-ayat) Al-Qur’an kepada para pengikutnya. Di masanya telah ada pendidikan kuttab di masayarakat Quraish untuk belajar membaca dan menuslis.
Di Madinah pendidikan diselenggarakan di masjid yang juga menjadi tempat memecahkan berbagai masalah pada masa itu. Masjid menjadi tempat pendidikan dan juga mengatasi masa lain di masa shahabatnya terus berlangsung seperti di kota-kota, umpamanya di Kufah, Basrah, dan Yastrib dan lain lain.
Pendidikan Islam di Nusantara berdiri awalnya melalui dai dari Timur Tengah yang datang ke negeri ini yang diselengarakan di tempat ibadah, masjid, mushala, dayah surau, pesantren. Kini pendidikan Islam berkembang mulai dari usia dini seperti TPQ, TKA dan ada pula pendidikan tahfizul Quran. (Adib, N. 2019, Ahillah, 2023).
Ada juga pendidikan Diniyah umumnya didirikan oleh masyarakat (Nizah, 2016). Ada pula pondok pesantren yang bercorak salafi maupun khalafi (Dhofier (2011). Ada juga pendidikan madrasah dan juga pendidikan tinggi Islam (Indra, 2019).
PTAI dan Literasi
Berdiri Pendidikan Tinggi Islam di tengah bangsa di fase akhir penjajahan atau awal kemerdekaan bangsa pada tahun 1940 yang bernama Sekolah Tinggi Islam (STI) oleh Persatuan Guru Agama Islam di Padang, namun tak berlanjut. Pada tahun 1945, yang diketuai oleh Moh. Hatta dan sekretarisnya Mohammad Natsir berdiri pula Sekolah Tinggi Islam di Jakarta dengan pimpinan Prof. Kahar Muzakkir, kemudian (STI) dipindahkan ke Yogyakarta pada tahun 1946 mengikuti berpindahnya pusat pemerintah.
Di Jakarta telah berdiri Akademi Dinas Ilmu Agama berdasarkan penetapan Menteri Agama No. 1 Tahun 1957. Kemudian didirikan pula Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) fakultas umum menjadi UII di masa itu.
Sementara itu fakultas agama dengan diterbitkanlah Peraturan Presiden No. 11 tahun 1960 yang menggabungkan PTAIN di Yogyakarta dan ADIA di Jakarta pada tanggal 9 Mei 1960, menjadi Institut Agama Islam Negeri dengan nama al-Jami ‘ah al-Islamiyah al-Hukumiyah yang berkedudukan di Yogyakarta dan Jakarta (Azra, 1999).
IAIN dan STAIN dan juga STAIS atau berbentuk universitas Islam yang didirikan oleh yayasan swasta diharapkan memproduksi sarjana muslim yang mempunyai keahlian dalam ilmu agama Islam, berakhlak mulia, cakap dan bertanggungjawab atas kesejahteraan umat serta masa depan bangsa Indonesia. Juga mereka diharapkan menjadi ulama dan juga untuk mengisi birokrasi pemerintahan di Departemen Agama. Dari IAIN dan STAIN untuk memperluas akses santri atau siswa belajar ilmu juga ilmu non agama, maka berdiri UIN di berbagai tempat di Indonesia (Indra, 2020).
Pendidikan tinggi Islam sepeti halnya pendidikan ting era kalsik sangat maju keilmuannya baik ilmu agama maupun sains. Tingginya literasi didalam masyarakat memunculkan ilmuan atau ulama yang patut dicontoh. Pada masa itu telah lahir ilmuan muslim terkenal yakni Jabir ibn Hayyan (103/721-200/815). Nama lengkapnya Jabir ibn Hayyan al-Azdi al-Tusi al-Sufi. Dia merupakan bapak ilmu kimia dalam Islam di masanya. Al-Kindi, ilmuan ilmu-ilmu agama, filsafat, dan matematika. Tokoh lain ada al-Farabi, yang nama lengkapnya Muhammad ibn Muhammad ibn Tharkhan Abu Nasr al-Farabi (258/870-339/950).
Mengarang buku tentang psikologi, politik, dan metafisika. Tokoh lain Ibn Khaldun, nama lengkap Ibnu Khaldun yakni Waliyuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Hasan bin Jabir bin Muhammad bin Muhammad bin Abdurrahman bin Khaldun, dilahirkan di Tunisia, Afrika Utara, 732 H/27 Mei 1332 M, dan wafat di Kairo pada 25 Ramadhan 808 H/19 Maret 1406 M. Bukunya Muqaddimah karya yang banyak di baca di dunia akademik tentang sastra Arab yang memuat berbagai metode dari berbagai fenomena sosial dan sejarah dan
memuat berbagai aspek kehidupan dan juga ilmu pengetahuan (Nasution, 1998).
Muslim melalui pendidikannya memunculkan ilmuan yang merupakan puncak dari tingginya literasi di masa itu mereka menulis manuskrip dalam ratusan ribu halaman dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang melampaui bangsa eropa yang masih gelap. Muslim melalui berbagai Lembaga pendidikan itu menjadi manusia pembelajar yang bisa menjawab tantangan eranya. Melalui Lembaga Pendidikan Islam kini dapat pula menyiapkan anak didik atau mahasiswa yang mengikuti jejal mareka dan siap mengahadapi tantangan zaman dengan keilmuan, moral dan lainnya.
Kesimpulan
Pendidikan Islam spiritnya telah ada ketika Adam diciptakan Allah berabad yang tak terhingga, lalu di masa Nabi Muhammad disampaikan Allah pula pentingnya pendidikan melalui surah Al-‘alaq itu. Pendidikan Islam sejak masa Rasulullah hingga masa kini di tanah air mengalami dinamika kelembagaan dan juga dinamika keilmuan dan lainnya.
Melalui Lembaga pendidikan islam diharapkan membentuk manusia pembelajar yang memiliki literasi yang tinggi. Di ear apapun dan era kini hal itu uterus menjadi tuntutan bagi pendidikan Islam yang juga akan membentuk manusia yang siap dengan keilmuan, moral dan lainnya untuk menjadi bagain dari manusia yang membangun bangsanya.
Kepustakaan
Adib, N. Kebijakan Tentang Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam Non-Formal: Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Tahun 2011-2015. Sustainable Jurnal Kajian Mutu Pendidikan, 2(1), 23–45. 2019
Ahillah, Dinamika penghafal Al-Quran (Studi Kasus Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Putri Nurul Furqon Malang, Institusional Refository UIN Malang, Diakses, 5 Juli 2023
Azra, A, Pendidikan Islam-Tradisi dan Modernisasi Menuju Millennium Baru, Jakarta: Logos, 1999
Dhofier, Z. Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3ES, 2011.
Indra, H, Islamic Higher Education and Science Integration, Al-afkar, Journal for Islamic Studies, vol. 3, No. 2. July 2020
————-, Revitalisasi Pendidikan Islam Era Digital, 4.0, UIKA Press, Bogor, 2019.
Nasution, H, Islam Rasional, Bandung: Mizan, 1998
Nizah, N. Dinamika Madrasah Diniyah: Suatu Tinjauan Historis. Edukasia : Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 11(1), 2016.

