Pelecehan seksual adalah salah satu bentuk tindak kejahatannya yang kerap terjadi di negri ini. Banyak korban dari pelecehan memiliki trauma yang mendalam sedangkan para pelaku terkadang masih bisa berkeliaran bebas di luar sana.
Dilansir oleh Tribunnewscom tanggal 4 Januari 2023 berjudul “Anak 12 Tahun Hamil 8 Bulan” dapat disimpulkan bahwa, pelecehan seksual ini tidak memandang gender maupun usia. Pada awal tahun 2023 ini sampai sekarang banyak sekali kasus pelecehan seksual yang telah terjadi.
Berikut adalah kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang terjadi pada tahun ini. Terbaru kasus pemerkosaan terhadap remaja putri 16 tahun di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, kasus pencabulan di Rusunawa Marunda, Seorang pra cabuli anak laki-laki di Lenteng Agung, Guru agama cabuli 7 anak di Tanggerang. Pelecehan seksual tidak hanya terjadi pada dunia nyata, melainka terjadi pada dunia maya yaitu sosmed (sosial media).
Banyak kekerasan dan pelecehan yang terjadi pada dunia maya dikarenakan internet yang dapat di akses oleh seluruh orang. Tak sedikit pula kemajuan teknologi ini dijadikan ajang untuk pengaduan pelecehan seksual di dunia maya atau sosmed.
Sekarang adalah era serba teknologi, di era ini kita semua dapat melakukan hal apapun dengan teknologi. Salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan adalah media sosial.
Media sosial adalah jembatan penghubung antar satu manusia dengan manusia lain di seluruh dunia. Sekarang ini media sosial tidak hanya untuk berkomunikasi, melainkan juga sebagai platform pengaduan atau pengungkapan kasus pelecehan seksual. Untuk itu Media sosial yang kerap sekali menjadi tempat pengaduan tersebut bukan lain adalah Twitter.
Dilansir dari Kompas, Twitter merupakan salah satu dari sekian banyak media sosial yang menarik perhatian pengguna internet. Twitter memberikan ruang bagi public untuk bersuara dan mengambil tindakan mengenai isu kekerasan seksual yang beredar.
Di lini masa Twitter, masyarakat bebas beradu argument tentang isu kekerasan seksual yang sedang ramai diberitakan. Dengan adanya kesempatan beradu argumen mengenai kasus kekerasan seksual hal ini dapat menjadi pilihan untuk menyelesaikan perbedaan pandangan mengenai kasus tersebut.
Sebagian besar masyarakat telah memberikan atensi yang tinggi pada unggahan kekerasan seksual di media sosial twitter. Support dari para pengguna Twitter kepada korban kekerasan seksual dapat menjadi penyemangat dan bentuk dukungan untuk korban kekerasan seksual yang lainnya agar berani untuk ber-speak up di twitter. Berikut adalah beberapa kasus yang telah dibuat melalui thread di Twitter.
Kasus Gofar Hilman
Ada beberapa kasus pelecehan yang sudah terjadi dan diungkapkan melalui akun media sosial Twitter, yang pertema adalah kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Gofar Hilman pada tahun 2018.
Kasus ini bermula Pada 8 Juni 2021 lalu, Syerin melalui akun Twitter @quween**, mengaku bahwa Gofar Hilman telah melecehkannya secara seksual di sebuah klub malam. Ini disebutkan terjadi pada Agustus 2018.
“Di Agustus 2018 gue dateng ke acara yang salah satu bintang tamunya Gofar Hilman di Malang,” tulis Syerin pada akun twitternya.
Pada penghujung acara syerin berniat untuk swafoto dengan Gofar Hilman. “Di penghujung acara gue maju ke depan niat untuk keperluan Instastory. My mistake. Lalu Gofar tarik dan rangkul gue, ok gue pikir dia humble,” tulis syerin.
Akan tetapi Syerin merubah pikirannya, Gofar dituduh melakukan pelecehan seksual terhadapnya karena mendadak memeluk Syerin dari belakang.
Syerin juga menuliskan pada Tweetnya bahwa Gofar mulai menyentuh bagian sensitifnya. Lantas saja kasus ini ramai diperbincangkan oleh warga twitter pada saat itu.
Sehari setelah kasus itu viral dan ramai diperbincangkan, gofar hilman langsung memberikan klarifikasinya.
“Untuk masalah tuduhan pelecehan, di sini gue yakin tidak melakukan hal itu, ada dua orang yang dampingin gue saat itu, 1 orang cewek panitia dan 1 orang cowok asisten gue, mereka yang jagain gue sampe masuk mobil di akhir acara,” tulis Gofar pada 9 Juni 2021 melalui akun @pergijauh.
Gofar tidak lari dalam masalah, bahkan gofar langsung mengajak pemilik akun dari @quweenjojo menyelesaikan masalah ini ke ranah hukum.
Gofar mengajak Syerin melalui ranah hukum dengan tuduhan pencemaran nama baik.
“Biar sama-sama enak, gue siap menyelesaikan masalah ini sebaiknya sih secara hukum, tapi kalau ada usulan lain gue siap mendiskusikan masukannya, karena melibatkan fitnah pake nama gue di sini,” tulis Gofar di lanjutan tweetnya.
Banyak lembaga hukum yang ingin turut serta membantu dalam kasus Syerin ini dalam meja persidangan. Akan tetapi setelah menuliskan thread itu, Syerin mendadak tidak ada kabar. Gofar Hilman terus menunggu kabar dari Syerin bila memang ingin dilanjutkan melalui ranah hukum.
Setelah hampir 8 bulan lebih warganet menunggu kelanjutan dari kasus tersebut, pada 11 februari 2022 syerin tiba-tiba mengunggah video klarifikasi yang berisi permintaan maaf karena telah mencemarkan nama baik Gofar Hilman dan menjelaskan bahwasannya dia tidak pernah dilecehkan.
Sontak hal tersebut membuat warganet heboh akibat video tersebut. Warganet berspekulasi bahwa video tersebut adalah bentuk paksaan dari gofar hilman.
Kasus Pelecehan Seksual Coach Futsal
Akun yang bernama (arechicc) atau Chika ini membuat sebuah thread tentang pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang coach futsal. Chika membantu blow up kasus yang sudah terjadi dikarenakan sudah banyak korban tetapi tidak berani untuk speak up.
Oleh karena itu, berikut adalah isi thread dari chika (arechicc).
“Gw sebenernya gak tau orangnya yang mana, pernah interaksi juga gak pernah”.
“Tapi… banyak banget cerita dari korban korbannya tentang perlakuan pelecehan tersebut, gw yakin ada lebih dari 50 orang yang udah dilecehin sama dia”.
“Dari banyaknya korban itu semua.. gak ada satu orang pun yg berani speak up atau lapor, gw ngerti dan faham kenala gak berani lapor, hanya berani sebatas curhat sama teman,” ungkap chika di threadnya.
Pelaku adalah seorang guru di beberapa sekolah kabupaten Bogor. Foto screenshot menjadi bukti dari para korban yang sempat dilecehkan oleh pelaku (coach). Sebagian besar dari bukti ialah si pelaku meminta ‘foto’ kepada sang korban dengan iming iming akan diberi uang atau imbalan.
“Dan kalian tahu apa? Rata rata bahkan hampir seluruh korbannya adalah anak laki laki di bawah umur, pelaku emang jadi coach futsal anak anak kecil – SMK” ujar chika di thread.
Ketika kasus ini beredar atau ramai di sosial media, pelaku atau coach tersebut meminta maaf melalui ‘chat whatsapp’ dan ia meminta untuk sepakat damai. Ada pula guru lainnya memberitahukan bahwa untuk meng-take down jika ada yang merepost kasus ini ke media sosial.
“Ga cuma yg nyebarin pertama ya, semua yg repost bisa kena kalo ada bukti pelapor,” kata pak ichsan salah satu guru lainnya.
Karena sudah banyak yang melapor kepada AAFI kabupaten bogor, akhirnya pelaku tersebut ditangkap oleh pihak kepolisian dan telah dinonaktifkan dari AAFI. Kasus ini pun selesai walaupun telah memakan banyak korban dari pelaku. Setidaknya kasus ini tidak berlanjut.
Dengan banyaknya korban yang memilih speak up melalui media sosial terutama twitter, masyarakat pun merasa heran dengan fenomena ini.
Siti Aminah Tardi, S.H selaku komisioner Komnas Perempuan memberikan pendapat bahwa media sosial merupakan salah satu ruang untuk berekspresi bagi semua orang, termasuk korban pelecehan seksual.
“Mungkin jika korban melapor ke kepolisian belum tentu kasus itu diproses dengan cepat, dan mungkin juga korban tidak menginginkan penyelesaian melalui jalur hukum” ujar Siti Aminah.
Menurut dia, sistem perundang-undangan di Indonesia baik materill maupun formil itu belum berpihak pada korban pelecehan seksual.
Media sosial twitter menjadi salah satu pilihan media sosial yang dijadikan untuk para korban speak up karena sistemnya yang lebih menampilkan tulisan daripada gambar.
Di twitter pun banyak sekali penggunanya yang mendukung para korban, hal ini menjadikan para korban berani untuk speak up tentang pelecehan yang terjadi padanya. Banyak netizen yang juga mendukung hal ini dan memilih twitter jika amit-amit mereka juga terkena kekerasan ini.
Ditulis sebagai mata kuliah Industri Media Elektronik
Penulis: Gibran Alviansyah (044121303)
Khairunissa Ardelia W (044121402)
M. Garda Satria (044121322)

