Pilihlah Jalan Lurus Untuk Suksesnya Membangun Masyarakat Kuansing

0
Apendi Arsyad, New Normal, KAHMI, ICMI, Covid-19
Dr.Ir.H. Apendi Arsyad, MSi

Oleh: Dr. Apendi Arsyad

Bismillahir rahmanir Rahiem..

Melanjutkan dialog kita beberapa waktu yang lalu. Baik adinda Asri (salah seorang Pengurus IKKS Pku), selamat berjuang untuk menegakkan kebenaran, dan insyaAllah bisa menempuh jalan yang lurus untuk menyuarakan aspirasi dalam menghadapi dinamika dan tantangan pembangunan daerah Kuantan Singingi (Kuansing). Berbagai isu2 strategis dan permasalahan kepemimpinan daerah telah mencuat lama di media massa seperti kasus konflik agraria tanah ulayat, korupsi ‘nguntil’ dana APBD, Pencemaran DAS Kuantan dan Singingi akibat maraknya PETI, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan gambut, lemahnya penegakkan hukum, dan terakhir persoalan kapasitas SDM vigur Balonbup pada Pilkadal 2020, patut menjadi perhatian publik.

Terima kasih sebelumnya atas responnya Adinda Asri terhadap narasi tulisan2 saya, dan juga kiriman data dan informasi yg diberikan, terutama tentang kasus konflik agraria, lahan perkebunan di Desa Siberakun Benai-Kuansing. Dengan tambahan data dan informasi tsb membantu saya dalam menampilkan narasi2 yang aktual, faktual dan relevan dengan tantangan yg sedang dihadapi masyarakat kita dan nagori Rantau Kuansing. Bahasa Cerenti: “nagori…yang jawuah di mato, nan dokek di hati” (negeri yang jauh di mata, tetapi dekat di hati).

Saya menanti update data dan pembaharuan informasi dari adinda Asri selanjutnya.

Tentang “sunyi dan sepinya” senyapnya diskursus, terutama permasalahan maraknya perbuatan kriminal KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) di nagori kito, yg adinda “keluh-kesahkan” kurang begitu direspon. Untuk kasus ini harap maklum sajalah dan banyak bersabar, begitulah keadaannya sebagaimana diungkapkan diatas. Itu memang salah satu kecenderungan penyakit manusia “modern” di era milenial (abad ke 21), yg tidak mau pusing dgn problem lingkungan sosialnya, nagorinya, masa bodohlah, pinjam istilah orang Betawi egp = emang nye gue pikirin (apatis dan permisif). Tipologi mereka ini memang cenderung mencari zona nyaman (comport zone), safety player saja, menghindar dan tidak mau konflik ide-takut salah kata-berucap.

Dan atau maaf, mungkin juga mereka ada yang telah menjadi bagian dari permasalahan KKN masa lalu tsb, sehingga tidak enak bicara jelas dan lantang menentang kasus ketidakadilan spt KKN yg kita wacanakan ini, dan perampokan kaum Oligarki terhadap lahan milik masyarakat adat di daerah2. Kita saat paham di masa Orde Baru begitu banyak “para pemuka masyarakat desa dan kecamatan” kita di kampuang terlibat dan dilibatkan dalam urusan “pembebasan” lahan perkebunan ini, yg kini membawa persoalan dan permasalahan yg cukup pelik. Para pemuka adat ini ada yang ditipu (dibodoh-bodohi) dan atau memang ada yang cerdas memanfaatkan situasi utk kepentingan pribadinya. Dengar2 memang “uang pelicinnya” utk penandatangan dokumen surat2 “jual beli” dan perjanjian cukup besar juga nilainya, mencapai ratusan juta rupiah, akan tetapi nasib uang konvensasi tsb tidak tahu masuknya entah kemana?, tanpa ada pertanggungjawaban yg jelas hingga kini.

Mereka yang masuk golongan ini, tentu sangat khawatir bisa2 keseret-seret ke dalam perkara dan tsunami penegakan hukum (law enforcement) di era pasca reformasi saat ini, dimana semakin menguatnya proses keterbukaan dan demokratisasi di masyarakat. Lebih baik mereka memilih sikap diam, tiarap, menutupi, atau kalau ada keberanian mereka membuat “counter issue and opinion”, tapi jarang terjadi.

Adinda Asri harus paham dengan gejala ini. Pada umumnya sikap yang mereka ambil “sunyi, sepi dan senyap” sajalah opsi terbaik..alias tidak mau berkomentar (nocomment) tentang KKN adalah pilihan yg “pas” bagi mereka.

Pada hal dalam kitab suci Al Quran sudah jelas perintah “amar makruf nahi mungkar”, adalah perbuatan mulia dan dianjurkan, begitu tegas diperintahkan Allah SWT dalam kitab suci Al Quranulkarim, tetapi para kaum Cendekiawan dan pakar, termasuk para ulama dan ustadz itu sendiri yg pragmatis pada umumnya mengambil “amar makruf” tidak besiko seperti jauh dari kekhawatiran dicela, difitnah dan dimusuhi, besar kemungkinan tidak akan muncul. Sebaliknya untuk “nahi mungkar” seperti melawan dan mengkritisi kasus korupsi (KKN) pejabat negeri, perbuatan tercela kasus amoral (sex), merampok dan maling hak orang lain dan pidana lainnya, orang kebanyakan cenderung menghindar karena beresiko, orang lebih cenderung mencari dan mendapatkan pola relasi yang aman dan nyaman (“comport zone”).

Padahal mereka lupa bahwa pahala yang paling besar yg dianugerahkan Allah SWT adalah perbuatan melawan dan berbicara dihadapan penguasa yg zholim. Atau mungkin mereka yg enggan, tidak mau kritis terhadap perbuatan maksiat KKN, karena adanya pemahaman yg sangat keliru tentang ayat Qur’an bahwa membicarakan “aib” orang termasuk perbuatan “ghiba”, berdosa besar. Padahal dalam prakteknya tidak selalu demikian makna dan pengertiannya. Merujuk pada pendapat pemuka ulama, yang dikatakan ghiba itu ada syaratnya seperti dijelaskan Hadist nabi Muhammad SAW, agar dibaca kitab “Riyadhus Shalihin: Perjalanan Menuju Taman Surga”, karangan Iman Nawawi, kitab ini sangat terkenal, dan menjadi rujukan masyarakat dunia Islam. Cukup jelas tidak selalu mengangkat perilaku bobrok (aib) seorang itu ke publik adalah perbuatan dosa, tapi diperbolehkan agama demi menegakan keadilan, kebenaran dan kemaslahatan. Distorsi pemaknaan ghiba ini banyak disalahgunakan oleh mereka para elite politik untuk mempertahankan singga-sana kekuasaannya. Jadi kita haruslah berhati-hati mensikapi hal tersebut agar tidak tersesat.

Baca :  "New Normal Society" di Era Covid 19

Orang2 yang bicara tegas dan lantang, berbuat melarang kemungkaran (nahi mungkar), itu orang2 pilihan dan memang jumlahnya relatif sedikit. Manusia2 seperti ini yang dalam hidupnya mendambakan selalu berada pada jalan yang lurus (sirotol mustaqiem). Manusia2 kategori ini tercatat dalam sejarah, kita kenal dengan sebutan pahlawan, mujahit, relawan, pekerja kemanusiaan, dll.

Ciri2 manusianya mujahit, gemar dan senang melakukan “nahi mungkar”, tsb antara lain:
1. Orangnya cerdas, bersikap kritis, Dia beragama tapi betul2 berkeyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, yg mengatur dan menentukan segala urusan ummat manusia di dunia ini spt rezeki, umur, jodoh, nasib, kebahagiaan etc ada ditangan Allah semata (Bertauhid). Mereka tidak musrik, jauh dari perilaku munafik, fasikun dan apalagi kafirun; rajin dan taat beribadah, serta berakhlaqulkarimah;
2. Sudah selesai mengejar kehidupan duniawi, tidak gila dunia (ubbubdunya) untuk dirinya sendiri spt meraih tahta, harta dan wanita (sex), etc. Artinya sudah selesailah mengurus dirinya sendiri, hidup cukup-tidak boros-bermewahan (tidak hedonis dan borjuis) dengan kesehariannya tampil sederhana saja, dan hidup bersahaja serta tidak angkuh dan sombong serta hidup tanpa beban (nothing too lose). Dalam pandangannya harta itu titipan dan milik Allah SWT, jangan sampai manusia diperbudak harta dalam kehidupan dunia;
3. Berkeyakinan hidup di dunia hanya sementara atau sebentar saja karena bersifat fana’, bumi dan langit beserta isinya akan sirna. Sedangkan kehidupan akhirat merupakan alam baka (kekal abadi), dan hidup selama-lamanya. Untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, tiada lain kuncinya adalah seorang manusia wajib beriman bertaqwa kpd Allah SWT, dan gemar berbuat kebajikan dan kemaslahatan semasa hidupnya di dunia, menjauhi perbuatan kemaksiatan, serta percaya adanya kehidupan hari akhirats. Kata imam besar Al Ghazali, dunia ini ibarat terminal yang sangat menentukan arah perjalanan dan nasib hidup berikutnya. Oleh karena itu harus dikelola dengan baik untuk keselamatan dunia dan akhirat. Jika hidup di dunia sukses, insyaAllah di akhirats pun sukses, dan sebaliknya.
Kemudian salah satu upaya yg harus dikerjakan manusia adalah “beramar makruf nahi mungkar”, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Quran Surat Ali Imran ayat 104, yang berbunyi:

“Dan hendaknya ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang2 yang beruntung”.

Ayat inilah yg menggerakkan hati dan pikiran kita untuk melawan wabah virus KKN di lingkungan sosial, yg umumnya diperbuat oleh oknum2 dari para elite politik dan penguasa-pengusaha (birokrat-pebisnis), kaum oligarki, the ruling party, .dll.
Kita harus melawannya, dan mereduksi penyakit sosial di masyarakat itu, sesuai kadar kemampuan kita masing2, agar wabahnya tidak merusak tatanan sosial kemasyarakatan, kebangsaan dan hidup bernegara (NKRI).

Untuk saat ini perbuatan kriminal KKN di lingkungan birokrasi dan dunia bisnis memang teramat berat dan ibaratnya penyakit sudah fase akut dan kronis, bahkan sudah mengalami komplikasi berat, solusinya diamputasi. Makanya lembaga pemberantasan korupsi spt KPK dibuat untuk penanggulangannya.
Sebagai contoh perkara hukum yg pelik, misalnya kasus persengketaan lahan (konflik agraria) perkebunan Sawit antara masyarakat lokal (masyarakat) Sibarakun Kec.Benai Kab.Kuansing dengan perusahaan besar spt PT Duta Palma Nusantara dll, yang sudah lama, dan kasusnya selalu berakhir dengan kekalahan bagi masyarakat lokal di Pengadilan. Ini sebuah pertanda dan gejala sosial adanya “aroma tidak sedap” bahwa cengkraman oligarki begitu kuat di the ruling party, dan sudah berhasil merasuk lama ke dalam urat nadi- sistem hukum dan birokrasi kita. Dengan istilah lain, mafia hukum dan peradilan mesinnya masih terus beroperasi dalam proses2 sosial konflik agraria di negeri ini. Dilain sisi pihak oknum ASN/PNS kita yg menangani perkara hukum, mentalnya pengabdian pada masyarakat, bangsa dan negara kadarnya rendah dan sangat menurun (drop, anasionalist), lagi “sakit” mental dan ubbuddunya. Makanya rakyat yg tengah membela hak-hak kepemilikan tanah ulayat (land tenure property rights) yang kini dirampas dan diserobot oleh perusahaan besar yg dimiliki para taipan (oligarky) di Jakarta, masyarakat lokal tidak bisa berbuat apa2 dan di “kalah”kan terus, seperti yg dikatakan bpk Syahrul anggota DPR RI yg bersuara lantang di ruang sidang paripurna DPR RI beberapa waktu lalu.

Problemnya didesain sedemikian rupa, dan dibuat menjadi komplek dan pelik. Agenda penegakan hukum tidak lagi diarahkan pada norma2 dan kaidah2 keadilan sosial, dan kebenaran agama serta ideologi Pancasila, UUD 1945 beserta Peraturan-perUU yg berlaku dibawahnya, akan tetapi saat ini hukum sudah bergeser pada orientasi kepentingan transaksional kapital, materialistik (money power, suap menyuap dan sogok menyogok). Oleh karena itu, untuk menghadapi sengkarut persoalan hukum yg cukup pelik ini, mereka Rakyat lokal, urang kampuang awak mutlak dibantu dengan tenaga berkeahlian dan trampil (skill and expert) untuk menjalankan tugas2 pendampingan dan pemberdayaan masyarakat. Tugas ini harus dilakukan oleh kekuatan masyarakat sipil (the civil society power) yang solid dan cukup kuat stamina perjuangannya serta kemampuan negosiasi dan lobbynya dengan penegak hukum dan elit politik serta tokoh pers. Dalam proses pembelaan hukum ini, jangan lupa publikasi yang gencar dilakukan, dengan cara menjalin kerjasama yang baik dengan banyak mass media dalam rangka membangun opini publik yg sehat,
yang berpihak kepada rakyat yg tertindas (musta’afin).

Baca :  Lesson Learn Bupati Nganjuk dan Harapan kepada Kaban Riau, Jakarta

Untuk hal-hal tsb diatas, caranya lakukan langkah2, terutama revitalisasi sistem organisasi dan kelembagaan sosial yang ada seperti mengkonsolidasikan potensi modal sosial (social capital) yang ada dan dimiliki sejumlah Organisasi Sosial Kemasyarakatan (ormas) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM/NGO), dengan kapasitas SDMnya yg kuat, lebih peduli, bernyali, militan dan cerdas-kritis (tipologi orangnya al seperti Mardianto Manan, Asri dkk). Ormas IKKS sudah waktunya bermetamorposis sebagai “civil society power” dengan tampil secara kritis mengawal dan mengawasi jalannya kebijakan publik di Riau, yg dipandang merugikan rakyat banyak, atau tidak berpihak pada kepentingan mensejahterakan masyarakat setempat, dan atau perbuatan melawan hukum lainnya yg terjadi di rantau Kuansing Provinsi Riau.

Sebab mereka yg hobinya berKKN inilah faktor utama yg menghambat cita-cita meraih kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yg dia pimpin, dan sengkarut persoalan/permasalahan sosial tidak kunjung selesai secara adil dan damai,… terus berkepanjangan konfliknya hingga sekarang.

Gejala sosial negatif seperti yg saya ungkapkan ini kini terjadi di rantau Kuansing dan juga Riau, dimana pola perilaku penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), korupsi (KKN), tumpulnya hukum ke atas dan tajam kebawah (lowest-law enforcement), perampokan tanah ulayat, cengkraman oligarki dalam kekuasaan politik dan pemerintahan daerah begitu kuatnya, pengrusakan ekosistem hutan lindung, pengrusakan badan DAS Kuantan (termasuk tebing longsor yg membuat jalan raya negara hampir putus), pengurasan SDA, perbuatan maksiat spt perjudian, narkoba, pencurian, penambang pasir liar (illegal sand mining/peti) yg mencemari DAS, etc tampak kelihatan dengan jelas di lingkungan perdesaan. Hingga kini masalah2 sosial, kriminal dan lingkungan hidup seperti kebakaran hutan dan lahan gambut selama 17 tahun belum teratasi, dan negara belum hadir (gagal) dalam memberikan solusi yang membuat rakyat hidupnya semakin sulit. Hal ini perlu diwaspadai, dikritisi oleh kaum cerdik pandainya, agar segera ditanggulangi dengan baik dan bijaksana berdasarkan Peraturan dan Perundang2an yang berlaku di negara hukum ini.

Selanjutnya, kalau saya melihat belakangan ini, begitu banyak gejala sosial yang menyimpang dari etika, dan moral agama bahkan perbuatan melawan hukum, yaitu maraknya kasus korupsi/ KKN di kalangan elite politik dan birokrasi pemkab Kuansing dan lembaga negara lainnya. Barang tentu ini juga merupakan lapangan dan arena perjuangan “nahi mungkar” kita, agar masyarakat lokal tidak semakin parah keadaannya. Sekaligus pula utk meningkatkan amal ibadah kita kpd Allah SWT, sesuai kadar kemampuan kita masing-masing untuk membawa para elite ke arah jalan yang lurus. Sudah waktunya para elite politik dan pemerintahan nagori meninggalkan perbuatan tidak terpuji yaitu penyakit ubbuddunya, gila harta, tahta dan wanita (sexual).

Jujur saya berkata bahwa saya sendiri saat ini sebenarnya tidak punya kedudukan sosial (tahta) apa2, dan harta pun tak berlebihan tapi cukup, alhamdulillah. Yang saya punya hanya pendidikan dgn sedikit ilmu pengetahuan yg pernah saya pelajari di sekolah2 dan perguruan tinggi negeri (IPB) dan terus belajar hingga kini dengan banyak membaca sumber literasi yg berkualitas dan informasi akurat dan terpercaya intuk menganalisa keadaan nagori kita dan masyarakat awak di kampuang. Inilah modal berpikir dan menulis untuk mengkritisi “melawan” perbuatan korupsi/KKN yg kian parah di nagori kita, dilihat dari keterangan dsn tuntutan Kejaksaan di PN Tipikor Pekanbaru. Dalam upaya menegakan “amar makruf dan melawan kemungkaran” sebagaimana perintah agama., kita para cerdik- pandai (cendekiawan dan alim-ulama) sudah seharusnya berbicara dan beropini, sehingga didengar oleh pihak2 yang berwenang untuk mengatasinya dengan serius.

Alangkah ruginya kita, apabila ada sedikit ilmu pengetahuan dan informasi tsb kita tidak gunakan untuk berbagi (sharing ideas) dengan sesama kita para cerdik-pandai, termasuk untuk orang2 dan tokoh2 masyarakat kampung halaman kita, dimana tempat saya dilahirkan dan pernah dibesarkan.

Kata orang bijak, cinta kampung dan nagori sendiri itu adalah salah satu bukti bahwa kita orang yang beriman dan bertaqwa kpd Allah SWT. Oleh karena itu sudah seharusnya kita mencurahkan sebagian waktu untuk berbicara kebajikan diantaranya lewat tulisan2 untuk beropini tentang menegakkan keadilan, kebenaran, dan melawan kemungkaran (kezholiman) dalam rangka memajukan nagori kita.

Baca :  10 Ribu Lebih Positif, Masyarakat Punya Peran Penting Memutus Rantai Covid-19

Sekedar ajakan, terutama bagi para Pemimpin politik dan Pemkab Kuansing, dan para Tokoh masyarakat dimana pun berada. Marilah kita meluruskan niat utk membangun nagori sebaik-baiknya, tinggalkan perbuatan korupsi dan maksiat lainnya. Dan sudah saatnya kita berusaha mengabdi pada rakyat dan nagori rantau Kuansing, dengan mencari dan menempuh menempuh jalan yang lurus (sirotol mustaqiem) dalam hidup ini. Dengan memilih jalan yang luruslah, taat aturan hukum dan syariah agama, maka berbagai persoalan dan permasalahan serius pembangunan daerah Kuansing bisa diatasi demi kesuksesan membangun masyarakat Kuansing. Memilih jalan yang lurus aralah perilaku baik nan mulia, sebagaimana yang sering kita baca setiap sholat dari kandungan ayat surat Al Fatihah yg tercantum dalam Al Qur’an. Itu saja niatnya tidak lebih, dan saya pun melakukan kritik2an sosial untuk “menunjukkan” jalan keselamatan, jalan lurus tsb guna mempercepat pembangunan nagori demi kesejahteraan rakyat, bukan kemakmuran pejabat. Sedangkan (jika ada yg bertanya) apakah ada ambisi politik utk kembali mendapat tahta dan harta untuk saat ini?, insyaAllah saya harus berkata jujur: saya tidak ada niat dan gairah (syahwat) lagi untuk hal-hal itu, terutama politik. Cukuplah sudah menjadi catatan masa lalu saya saja.

Alhamdulillah selama beberapa dasa warsa hidup di perantauan, saya pernah berkesempatan mendapat amanah untuk menduduki berbagai status sosial dengan jabatan ‘penting’ di Ormas2, LSM/ NGO, Yayasan dan kampus, bahkan pernah juga di Parpol (Sekretaris PG) dengan jabatan2 strategis tertentu yg menurut saya cukup ‘bergengsi’. Itu tinggal cerita masa lalu, yg menjadi kenangan manis. Kini saya pribadi sudah memasuki era usia lanjut muda (lansia berumur 61 thn pada tgl 8/10-2020 yad ini), dan mulai tersadarkan (insyaf) dari umur yg masih tersisa, semakin berkurang bahwa kita harus memanfaatkan waktu untuk lebih fokus dan konsen mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Pencipta dan Maha Berkuasa, Allah SWT, seraya menatap “masa depan” di kehidupan hari akhirats yg sangat panjang, tanpa batas dan semua kita pasti akan menghadapinya dan menemukannya, yaitu ajal-kematian (sakaratul-maut).

Alokasi waktu sebaik mungkin untuk beribadah krn Allah dalam arti luas untuk menambang pahala sebanyak mungkin. Salah satu perbuatan terpuji, diantaranya kita sebaiknya berani berbicara mengenai suatu kebenaran dan melawan kezholiman, agar kita selalu berada di sirotol-mustaqiem (on the track).

Barang tentu harapan semua orang, ketika waktunya ajalnya tiba. Doa kita, semoga kita bisa berada dalam keadaan husnul khotimah, dan dimasukkan Allah SWT pada golongan orang2 yang soleh. Kemudian pada saatnya nanti, ketika menghadap Allah wajah kita berseri-seri, berkasih sayang dan berbahagia, karena kita mendapat kitab catatan perbuatan- amalan (pahala) dari arah kanan (penghuni surga), insyaAllah, Amin3 YRA, dan bukan dari arah kiri (banyak dosa, penghuni neraka) yg bermuka muram, hitam, menyesal, saling menyalahkan dan penuh siksaan, nauzubillahi minzalik. ☆☆☆☆☆

Jadi, dari apa2 gagasan dan pemikiran (opini) yang pernah saya telah kemukakan dalam artikel saya di beberapa WAG, yakinlah itu muncul dari sikap ketulusan tanpa ada interest lain yg bersifat politis guna mencari pengaruh, dan motif “tendensius” pribadi lainnya, tidaklah. Akan tetapi, sikap kritis ini hanya normatif-etic semata-mata untuk mendorong kemajuan nagori kita, ini pernyataan klarifikasi saya, ..percayalah !

Saya mengamati ada ruang kosong pada “opini public” disini tentang kondisi eksisting (faktual) nasib rakyat dan nagori yg tetap stagnan di kampung halaman kita, dengan local community yang masih marginal. Memang apa yg dikatakan adinda Asri tidak banyak orang yang mau, tertarik dan meluangkan waktu untuk bicara melawan (mengkritisi) perbuatan kriminal KKN para mantan pejabat Pemerintahan. Kemudian saya berupaya mengisi “ruang kosong” ini, dengan maksud dan tujuan berbagi opini yang bersifat “menyadarkan”, kepedulian untuk berkontribusi dalam membantu kemajuan nagori Rantau Kuansing-Riau yang mengalami pelambatan kemajuan bahkan tertinggal.

Semoga ide2 dan opini yg pernah saya bangun di beberapa tulisan saya di WAG IKKS kesayangan kita ini, ada manfaatnya. Harapan dan targetnya bisa mencerahkan bagi para pembacanya, dan menyadarkan kita secara kolektif akan sebuah tanggungjawab moral dan kepedulian sosial terhadap nasib para Dunsanak kita di kampung rantau Kuansing, agar hidup mereka bisa lebih maju dan bermartabat, ada marwah, serta sejajar dengan masyarakat yg telah maju di daerah lainnya dengan Pemimpin daerah yang bersih dan profesional.

Mhn maaf, apabila ada yang kurang berkenan di hati para pembaca sekalian. Semoga Allah SWT selalu melindungi dan menolong hamba2Nya yang soleh. Amin3 YRA. Sukron dan barakallah.

Wabillahit taufik walhidayah Wr Wb
Wassalam.

Dr.Ir.H.Apendi Arsyad MSi (Pendiri-Dosen/Assosiate Profesor pada Prodi Agribisnis Faperta Universitas Djuanda Bogor, konsultan dan Aktivis di beberapa Ormas dan NGO di Bogor).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here