Site icon LEAD.co.id

Pintu Masjid Tertutup, Terbukakah Hati untuk Menyambut?

Oleh: Dr. H. Ulil Amri Syafri, Lc., M.A.

Perubahan cara belajar generasi muda menjadi salah satu tantangan penting pendidikan Islam kontemporer. Generasi Z dan Alpha tumbuh bersama telepon pintar, media sosial, dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).

Sebelum bertanya kepada ustaz, sebagian dari mereka telah mencari jawaban melalui mesin pencari, menonton video pendek, atau berdialog dengan aplikasi AI. Perubahan ini menunjukkan bahwa sumber dan ruang belajar agama semakin beragam. Dalam situasi demikian, persoalannya bukan sekadar apakah teknologi diterima atau ditolak, melainkan bagaimana masjid tetap hadir sebagai lingkungan pendidikan Islam yang dekat dengan kehidupan generasi muda.

Teknologi memang mampu memperluas akses terhadap pengetahuan, tetapi pendidikan tidak pernah selesai pada penyampaian informasi. AI dapat membantu menjelaskan konsep, media sosial dapat mendistribusikan ceramah, dan platform digital dapat menyediakan materi keislaman selama dua puluh empat jam.

Namun, pendidikan Islam juga membutuhkan keteladanan, perjumpaan, dialog, dan rasa diterima. Duduk bersama guru, berbicara dengan teman sebaya setelah salat, mengikuti kegiatan sosial, atau sekadar didengar ketika menghadapi persoalan hidup merupakan pengalaman pendidikan yang tidak mudah digantikan oleh algoritma. Pada titik inilah masjid memiliki kekuatan sebagai lingkungan belajar nonformal yang humanis.

Persoalannya, hambatan bagi generasi muda untuk mendekati masjid terkadang bukan terletak pada kurangnya teknologi, melainkan pada budaya penerimaan. Sebagian ruang masjid terasa sangat akrab bagi mereka yang telah lama berada di dalamnya, tetapi belum tentu ramah bagi orang yang baru datang. Simbol, bahasa, kebiasaan, bahkan ekspresi keberagamaan yang telah mapan dapat tanpa sengaja membangun jarak.

Seorang anak muda yang sedang galau, seseorang yang ingin bertobat, musafir yang kelelahan, atau manusia yang sekadar ingin duduk menenangkan diri mungkin datang tanpa penampilan yang dianggap “cukup religius”. Mereka belum tentu membutuhkan ceramah panjang. Kadang mereka hanya membutuhkan senyum dan sebuah kalimat sederhana: “Silakan masuk.”

Di sinilah fungsi pedagogis masjid perlu direnungkan kembali. Pendidikan tidak dimulai ketika ustaz membuka kitab atau mikrofon dinyalakan. Pendidikan dapat dimulai dari cara seseorang disambut di pintu masjid. Rasulullah ﷺ tidak menunggu manusia menjadi sempurna untuk mendekati masjid. Masjid justru menjadi ruang tempat manusia dengan beragam latar belakang belajar, bertanya, berinteraksi, dan bertumbuh. Dengan demikian, keramahan bukan sekadar persoalan pelayanan jamaah; ia merupakan bagian dari pedagogi masjid.

Refleksi ini menjadi penting di negeri dengan jumlah masjid yang sangat besar. Terutama bagi masjid di jalur nasional dan lintasan perjalanan, keterbukaan terhadap musafir seharusnya menjadi bagian dari fungsi sosial dan pendidikannya. Ketika pembangunan masjid membutuhkan dukungan masyarakat, panitia dapat berdiri di pinggir jalan mengajak orang berinfak. Maka setelah masjid berdiri, pintunya semestinya juga terbuka untuk masyarakat yang pernah diajak membangunnya. Risiko keamanan tentu nyata, tetapi jawabannya adalah pengelolaan yang bijaksana, bukan menjadikan masjid seperti rumah pribadi yang selalu terkunci.

Setelah keramahan itu hidup, teknologi memperoleh tempat yang lebih bermakna. Media sosial dapat menjadi pintu perkenalan, AI dapat menjadi pendamping belajar awal, dan komunitas digital dapat menjaga hubungan dengan jamaah. Namun, teknologi hanya mengantar manusia ke pintu. Yang membuat mereka masuk, bertahan, belajar, dan kembali adalah pengalaman diterima sebagai manusia. Masa depan pendidikan Islam berbasis masjid, karena itu, mungkin tidak pertama-tama ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya, tetapi oleh seberapa hangat masjid menyambut manusia yang sedang mencari jalan pulang.

Exit mobile version