Site icon LEAD.co.id

Public Trust dan Pergantian Menteri Keuangan: Ketika Keputusan Politik Bertemu Kepercayaan Ekonomi

Purbaya Yudhi Sadewa

Purbaya Yudhi Sadewa

Oleh: A. Tampubolon

Pergantian Menteri Keuangan bukan sekadar perubahan komposisi kabinet. Dalam perspektif political trust, keputusan terhadap pejabat yang mengelola fiskal negara dapat memengaruhi persepsi publik terhadap kapasitas, konsistensi, dan kredibilitas pemerintahan secara keseluruhan. Karena itu, ketika Presiden Prabowo Subianto mengganti Purbaya Yudhi Sadewa dengan Suahasil Nazara pada September 2026, pertanyaan yang relevan bukan hanya mengapa pergantian itu dilakukan, tetapi bagaimana keputusan tersebut diterima oleh publik dan pasar.

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena Purbaya justru memiliki tingkat penerimaan publik yang relatif tinggi sebelum diberhentikan. Survei Indikator Politik Indonesia pada Agustus 2026 menempatkan Purbaya sebagai menteri dengan skor kepuasan kinerja tertinggi, yakni 90,40. Survei Indonesia Political Opinion (IPO) pada Juli–Agustus 2026 juga menunjukkan 42,8 % responden menyebut Purbaya sebagai menteri yang bekerja dengan baik. Angka tersebut menempatkannya sebagai salah satu figur kabinet yang paling banyak memperoleh apresiasi publik.

Di sinilah muncul persoalan trust discontinuity. Ketika seorang pejabat yang memperoleh persepsi positif tiba-tiba diganti, publik tidak hanya mengevaluasi pejabat baru, tetapi juga membaca keputusan tersebut sebagai sinyal mengenai arah pemerintahan. Dalam teori political trust, kepercayaan publik terbentuk melalui persepsi terhadap kompetensi, konsistensi, integritas, dan kemampuan institusi memenuhi ekspektasi masyarakat. Dengan demikian, pergantian pejabat ekonomi strategis dapat menciptakan pertanyaan baru: apakah perubahan tersebut merupakan koreksi kebijakan, penyegaran birokrasi, atau perubahan arah pengelolaan ekonomi?

Namun, data ekonomi menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat belum serta-merta mengalami penurunan setelah pergantian tersebut. Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus 2026 berada pada 118,5, meningkat dari 116,8 pada Juli. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini mencapai 109,4 dan Indeks Ekspektasi Konsumen 127,6. Artinya, sebelum pergantian Menteri Keuangan terjadi, persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih berada pada zona optimistis.

Respons pasar terhadap pergantian Purbaya juga tidak tunggal. Pada 14 September 2026, IHSG sempat turun tajam hingga sekitar 2,56 persen sebelum berbalik arah setelah pengumuman pergantian Menteri Keuangan. Pada penutupan, IHSG hanya turun 0,10 persen ke level 6.534,69. Pada saat yang sama, rupiah masih berada di bawah tekanan di sekitar Rp17.669 per dolar AS. Sejumlah analis membaca pergerakan tersebut sebagai respons positif-terukur karena pasar memperoleh kepastian mengenai figur baru, tetapi bukan sebagai bukti bahwa kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi telah pulih sepenuhnya.

Dengan demikian, pergantian Menteri Keuangan perlu dilihat sebagai test of institutional credibility bagi pemerintahan Prabowo. Tingginya kepuasan terhadap Purbaya menunjukkan bahwa legitimasi seorang menteri tidak hanya bersumber dari keputusan Presiden, tetapi juga dari persepsi masyarakat terhadap kinerjanya. Tantangan bagi Presiden sekarang adalah memastikan bahwa pergantian tersebut tidak menciptakan kesenjangan antara political decision dan public expectation. Sebab dalam ekonomi modern, kepercayaan merupakan aset yang tidak tercatat dalam APBN, tetapi dapat memengaruhi konsumsi, investasi, ekspektasi masyarakat, hingga respons pasar.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pergantian Menteri Keuangan bukan semata-mata siapa yang menduduki kursi tersebut. Ukurannya adalah apakah perubahan itu mampu mempertahankan kredibilitas fiskal, memberikan kepastian kebijakan, menjaga kepercayaan masyarakat, dan meyakinkan pelaku ekonomi bahwa negara tetap memiliki arah yang konsisten. Pergantian pejabat dapat dilakukan dalam satu hari, tetapi membangun kembali public trust membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.


Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB

Exit mobile version