Radio Transistor dan Berita RRI Jakarta

oleh -841 views
Radio Transistor, Berita RRI, RRI Jakarta, Radio, RRI

Oleh: Apendi Arsyad

Menarik mendengar postingan bunyi lagu-hiburan radio kesayangan kita tempo doeloe, Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Dengan mendengar instrumen musik “Nyiur Melambai”, dan atau “Tanah Airku Indonesia” tersebut membuat saya tergelitik untuk bernarasi soal radio jaman dulu itu, guna mengenang kehidupan masa lalu di kampung halaman, Cerenti, Kuansing Provinsi Riau.

Apa yang didengar di postingan ini merupakan salah satu musik instrumen “Nyiur Melambai” yang merupakan selingan siaran RRI Jakarta tempo doeloe, yang diputar piringan-hitam atau kasetnya, sebelum pewartanya membacakan berita-berita RRI (RRI news) untuk para pendengar dimana pun berada di seluruh kawasan nusantara. RRI adalah radio pemersatu bangsa Indonesia.

Saya masih ingat beberapa orang pewarta/penyiar RRI Jakarta tempo doeloe, antara lain seperti om Olan Sitompul dengan suara beratnya (bariton), Syahli Rais, dan lain-lain, sudah banyak yang lupa namanya, sebab sudah lama hampir 4 dasawarsa berlalu.

Siaran RRI Jakarta adalah media komunikasi favoritku, semasa kecil, dimana hidup dan besarku di kampuang halaman penuh dengan kesederhanaan akibat minimnya ketersediaan fasilitas hiburan.

Jujur aku berkata, pada tahun 1970an, satu-satu hiburan yang ada di kampuang halamanku, di masa itu yakni mendengar berita dan lagu-lagu pada siaran dan acara radio transiator, RRI Jakarta. Radio swasta jarang dan hampir tidak ada, kecuali di kota-kota besar spt Jakarta, Medan, Padang, Pekanbaru, Semarang, Surabaya, Makasar dll.

Dengan mendengar suara instrumen musik nostalgia, bait lagu “Tanah Airku Indonesia” tadi ini, aku dan atau kita teringat suasana kehidupan tempo doeloe di kampuang yg barang tentu sangat mengesankan atas pengalaman tersebut. Dan radio adalah selain sarana komunikasi untuk mendapat informasi perkembangan situasi regional dan nasional, bahkan internasional, juga radio transistor sudah menjadi “teman setia” untuk pengisi waktu senggang kita, ketika jiwa-raga ini sudah penat (lelah) menyelesaikan beberapa pekerjaan sehari-hari di rumah, kantor dan atau di lapangan, padang pengembalaan dan atau perkebunan.

Baca :  Hari Anak Indonesia: RRI Bogor Gelar Lomba Bercerita Anak

Jargon-jargon siaran RRI Jakarta yang sangat populer kita dengar saat itu adalah siaran selingan RRI Jakarta “sekali di udara, tetap di udara”. Jargon ini mengingatkan kita akan nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa, heroik, dimana RRI pernah berperan aktif, antara lain dalam usaha-usaha mempertahankan NKRI melalui menyebarluasan (desiminasi) berita-berita seputar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945.

Mendengar radio transistor, teristimewa siaran berita RRI Jakarta bisa dilakukan di ruang tengah rumah atau ruang tamu, atau bisa jadi diperdengarkan radio di sawung (pondok) sawah-ladang, ketika aku atau kita sedang berada di hamparan lapangan rumput, saat bergembala sapi di padang pengembalaan, di kawasan perkebunan rakyat tempo doeloe.

Begitulah narasi singkat kehidupanku di masa kecil dulu, membantu orang tua dan saudara, yang kebetulan berprofesi petani, peternak dan pedagang ghotah/saudagar karet.

Radio transistor Jakarta adalah teman setiaku untuk mengetahui perkembangan situasi dan kondisi perkembangan masyarakat di belahan bumi yang lain. Alhamdulillah, sejak kecil aku gemar mendengar berita-berita dari siaran radio, juga menikmati lagu-lagu Melayu zaman doeloe.

Salah seorang kakakku (H. Baidar Arsyad), anggota keluarga tertua adalah seorang saudagar (pebisnis) karet, yang berjaya dimasa itu. Beliau selalu, rutin setiap siang hari memonitor informasi perkembangan harga karet (ghotah) dunia melalui siaran berita dunia.

Baca :  Festival Pelajar Nusantara, RRI Bogor Gelar Lomba Modern Dance

Dinamika pasang-surut tingkat harga karet di pasaran negara tetangga Singapura dan Kuala Lumpur, menjadi acuan kakak-sulungku dalam proses penentuan harga karet di level petani, yang dibeli dari hasil produksi (hasil “takiak”) puluhan bahkan ratusan petani karet yang ada di kampungku, Cerenti Kuansing Riau. Daerah Kuansing, memang sudah dikenal lama, merupakan salah satu sentra produksi karet alam utama, yang sudah amat populer.

Memang masyarakat pedesaan Kuansing tempo doeloe, mereka hidup bersumber atau bermata-pencaharian utama dari kegiatan menyadap karet (manakiak gotah, bahasa Cerentinya) di daerah pinggiran hutan tropis, akan tetapi sekarang semuanya mulai berubah.

Mereka berpindah ke mencari nafkah ke hasil kebun Sawit, disebabkan harga karet alam sangat rendah, anjlok atau murah sekali di pasaran baik domestik maupun global akibat berkembangnya pemanfaatan karet buatan (sintetik). Walhasil profesi pedagang-pengumpul karet pun di kampungku mulai berkurang dan kehilangan pekerjaan, sehingga informasi harga-harga disiarkan di radio, antara lain di RRI Jakarta tidak ada lagi.

Kini semua itu tinggallah sebuah cerita kenangan (nostalgia) masa lalu. Semuanya telah berlalu dan semakin sirna, akibat perkembangan penemuan inovasi dan penggunaan sarana teknologi informasi dan komunikasi (Information and technology communication/ITC), yang sangat pesat kemajuannya di era masyarakat industri 4.0 (digital era), dalam berbagai bidang kehidupan dan pelayanan sosial seperti pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial lainnya, yang efisien dan efektif.

Siaran berita dan mendengar tembang-tembang/lagu (sing a song) yang merdu di radio, RRI Jakarta, tidak lagi satu-satunya sumber informasi dan hiburan untuk saat ini, di era millineal.

Baca :  RRI Bogor Peringati Hari Radio ke-77, Lepaskan Burung Merpati

Pilihan siarannya telah muncul begitu banyak melalui penggunaan gawai, ponsel (handphone) yang dimainkan tombolnya, dengan jari-jemari tangan, yang begitu mudah dan cepat untuk mengakses data dan informasi dari belahan mana pun di bumi.

Era saat ini, semuanya itu telah berganti pada multi sarana mass-media yang canggih-canggih yang ada di alam maya (internet, geogle etc) dengan sejumlah vitur dan aplikasinya, sebut saja diantaranya WA, FB, Twitter, Instagram, Yoetube, Tiktok, etc.

Selamat tinggal radio transistorku merk “Philip”yang telah memberikan banyak kenangan manis (sweet memory) dan pelajaran dalam menjalani dinamika perjalanan hidupku tempo doeloe. Kini jasad radio Philipku itu, sudah dimesiumkan di ruang “gudang” rumahku, di tempat penyimpanan barang-barang antik (bekas peralatan).

Apabila aku melihat barang-barang antik seperti radio transistor Philip di rumahku itu, aku menjadi teringat suasana batin kehidupan semasa kecilku, yang penuh keterbatasan fasilitas dan hidup sangatlah sederhana.

Tidak halnya seperti saat ini, yang begitu banyak pilihan sarana-prasarana berkomunikasi melalui media sosial dengan berbagai vitur dan aplikasi internet, sehingga melubernya (spillover) data dan informasi yang bisa diakses, dishare dan diadopsi di era zaman Now, dengan mudah dan cepat

Demikian narasi singkat tentang keberadaan dan manfaat radio RRI Jakarta tempo doeloe bagi kaum muda pedesaan seperti aku, terutama yang berkehidupan di daerah luar pulau Jawa.

Penulis adalah Pendiri-Dosen Universitas Djuanda Bogor, Konsultan K/L, Pendiri-Ketua Wanhat ICMI Orwilsus Bogor, Pendiri-Ketua Pembina Yayasan Pengembangan Insancita dan Arsyada Madani Cerenti, Pegiat dan Pengamat Sosial