Site icon LEAD.co.id

Rektor IPB Paparkan Potensi Pengembangan Produk Turunan Sawit

Rektor IPB, Arif Satria, Potensi Sawit, Sawit, Produk Turunan Sawit

Rektor IPB University, Prof Arif Satria

BOGOR (LEAD.co.id) – Rektor IPB University, Prof Arif Satria mengurai potensi pengembangan produk-produk turunan dari sawit. Menurutnya, IPB sudah banyak melakukan inovasi terkait sawit baik untuk pangan, energi, medis, dan sebagainya.

Hal itu disampaikan dalam Webinar bertajuk “Palm Oil in Food: Health Issue and Market Trend” yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pangan dan Pertanian Asia Tenggara (Seafast Center) IPB University.

“Sudah banyak inovasi IPB University terkait sawit baik untuk pangan, energi, medis, dan sebagainya. Inovasi biomaterial juga sudah banyak. Limbah sawit untuk dibuat rompi anti peluru, helm, organic biosanitizer, hingga produk pakaian/jaket dari limbah sawit. Jaket yang tahan panas, adem, tidak mudah rusak, tidak luntur. Teknologinya sudah ada di IPB University,” ujar dia.

Dia mengatakan, dalam industri sawit ini, IPB University punya teknologi Precipalm, penggunaan teknologi internet of things (IoT) untuk pemupukan presisi, kerjasama dengan PT Pupuk Kaltim. Juga teknologi deteksi kematangan buah sawit dengan robot.

“Robotic sudah banyak kita kembangkan. Sekarang tinggal implementasi di lapangan karena kemajuan sebuah negara itu bisa dilihat dari semakin tinggi produk domestic bruto (PDB) suatu negara yang biasanya diiringi dengan Global Innovation Index yang semakin meningkat,” kata dia.

Oleh karena itu, lanjutnya, inovasi-inovasi ini merupakan tugas perguruan tinggi untuk meningkatkan Global Innovation Index. Termasuk dalam bidang pangan, Arif menandaskan bahwa ada tantangan kita membuat membuat gula dari sawit.

“Saat ini kalau bicara gula, semua orang bicara dari tebu, itu gula generasi pertama,” ungkap Prof Arif Satria dalam keterangan pers yang diterima Lead.co.id, pada Minggu (21/11/2021).

Padahal menurutnya, gula untuk kebutuhan industri sebagian masih belum bisa kita penuhi dari produksi dalam negeri. “Jadi kita masih impor. Dan sekarang teknologi turunan dari limbah sawit untuk produksi gula sudah ada,” kata dia.

Menurutnya, IPB University beberapa tahun lalu sudah merancang dengan beberapa peneliti Taiwan dan Malaysia untuk membangun pilot project di Sei Mangkai, Sumatera Utara, kerjasama dengan PTPN.

Jika pilot project itu belum jalan, kata dia, bisa berkolaborasi dengan banyak pihak untuk mengembangkan teknologi baru terkait pengelolaan limbah sawit untuk kebutuhan gula.

“Ini dengan proses bioteknologi. Jika teknologi sudah bisa dikuasai tinggal negara kita membangun pilot project sehingga kebutuhan kita terhadap gula bisa tercapai dengan baik,” kata dia.

Ia mengungkapkan bahwa, masih banyak lagi turunan-turunan dari limbah sawit. Karena, sawit merupakan satu pohon punya manfaat yang sangat-sangat banyak. “Tugas ilmuwan itu mendorong agar semua itu bisa bermanfaat,” lanjutnya.

Menurutnya, pohon sawit yang sudah tua dan harus ada peremajaan harus diperlakukan dengan tepat. “Selama ini kan pohon dicabut terus dibuang. Padahal banyak inovasi-inovasi teknologi yang sudah bisa digunakan. Untuk berbagai kebutuhan seperti kebutuhan energi, kebutuhan biomaterial, maupun kebutuhan pangan,” tandasnya.

Membahas aspek pangan, Prof Arif optimis banyak terobosan-terobosan baru yang bisa dihasilkan. “Pangan yang berbasis pada sawit ini dan kemudian pada aspek market khususnya di Eropa memang sangat krusial. Dan dengan beberapa duta besar seperti Jerman, Swiss, Belgia perlu diskusi bagaimana mengantisipasi,”

Menurut dia, IPB University punya andil, punya peran besar untuk bisa membantu terkait adanya kampanye anti kelapa sawit karena sudah mengajak 11 duta besar Eropa yang ada di Indonesia ke lokasi di Jambi. Di lokasi itu pihaknya sudah mempraktikkan sustainable agriculture oil palm production.

“Jadi itu bagian dari kampanye kita. Jadi IPB University pun tidak tinggal diam. Kita pun melakukan campaign diantaranya kepada para duta besar tersebut meskipun sebenarnya tidak cukup, karena kampanye juga harus kita lakukan kepada para politisi dan aktivis yang ada di negara-negara di Eropa,” jelasnya.

Praktik-praktik sustainability, kata Arif, sangat mungkin dilakukan karena IPB memiliki riset yang cukup panjang dengan Jerman melalui kolaborasi riset IPB, Universitas Goettingen Jerman dan Universitas Tadulako melakukan kolaborasi riset tentang sawit dan baru saja dilakukan perbaruan kerjasama riset untuk lima tahun ke depan.

“IPB University terus berusaha semaksimal mungkin untuk menguasai inovasi. Tapi di hulu menciptakan new precision agriculture product sekaligus membangun kerjasama menciptakan sustainability untuk industri sawit,” pungkasnya.

 

Reporter: Jhonie
Editor: Aru Prayogi

Exit mobile version