Rembuk Iklim 2023, DPD KPPMPI Kota Denpasar Hasilkan 6 Tuntutan

oleh -310 views

DENPASAR (Lead.co.id) – Dewan Pengurus Daerah Kesatuan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (DPD KPPMPI) Kota Denpasar Provinsi Bali, menggelar Rembuk Iklim Pesisir di Balai Banjar Dusun Tegal Wangi, Tegal Kertha, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar, pada Kamis (7/12/2023).

Kegiatan itu bertema “Laut Semakin Ganas: Menanti Solusi Konkrit Perlindungan Nelayan kecil, Masyarakat Pesisir serta Kepulauan dari Perubahan Iklim” adalah rangkaian kegiatan dalam peringatan Hari Nusantara 2023. Peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut sebanyak 13 orang, terdiri kalangan mahasiswa dan professional.

Hadir sebagai pembicara Muhammad Novrianyah Kusuma Pratama (Pakar Perikanan dan Kelautan) dan Ketua KPPMPI Kota Denpasar (Aktivis Lingkungan & Ketua KPPMPI Kota Denpasar).

Melalui kegiatan ini organisasi KPPMPI  yang dibawah naungan organisasi KNTI , menyuarakan masalah-masalah yang dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir akibat dampak perubahan iklim serta solusi konkrit untuk masyarakat yang terdampak.

Ketua Pelaksana Rembuk Iklim Pesisir KNTI tahun 2023, Hendra Wiguna menyampaikan bahwa Kegiatan Rembuk Iklim Pesisir KNTI tahun 2023, dilaksanakan di 35 Kab/Kota, yang dilaksanakan pada tanggal 30 November s.d. 9 Desember 2023. momentum ini juga berbarengan dengan Konferensi Internasional terkait Iklim (COP28) yang diadakan di Dubai dan dihadiri oleh Ketua Umum KNTI Dani Setiawan.

Baca :  Tidak Lelah Berbagi, Komunitas LCBS Santuni Panti Asuhan Bali As-Salam

“Melalui kesempatan ini, KNTI mengajak untuk bersatu memperjuangkan kehidupan laut yang berkelanjutan. Hal ini dapat dilalui dengan cara memperkuat jaringan solidaritas, perlindungan dan penguatan Hak Tenurial Nelayan, Memastikan edukasi yang merata, dan Peran Aktif Pemuda dan Perempuan Pesisir dalam pengelolaan perikanan,” Jelas Hendra yang juga merupakan Ketua Umum Kesatuan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI) badan otonom kepemudaan KNTI.

Lanjut Hendra, Dampak serius perubahan iklim semakin dirasakan oleh nelayan kecil dan tradisional di seluruh Indonesia. Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) sebagai organisasi Nelayan kecil dan tradisional terbesar di Indonesia, bersama memperjuangkan hak-hak atas perlindungan nelayan tradisional, perempuan pesisir, pembudidaya, pengolah ikan dan petambak garam, serta masyarakat pesisir pada umumnya.

Baca :  KNB Ajak Adik-adik Nobar Keluarga Cemara

“Ide-ide, gagasan-gagasan, rekomendasi-rekomendasi untuk perubahan iklim yang dihasilkan dari rembuk di 35 kabupaten/kota, semoga menjadi arah kebijakan bagi pemerintah desa, kabupaten/kota, provinsi hingga pemerintah pusat. 13 Desember bertepatan dengan Hari Nusantara, akan kami sampaikan ke publik hasil-hasil keseluruhan rembuk iklim pesisir ini.” Terang Hendra

Sementara itu, Herdian Armandhani  selaku Ketua DPD KPPMPI Kota Denpasar menyampaikan bahwa dampak perubahan iklim kepada nelayan di Pulau Bali :

1.      Perubahan Iklim mengurangi hasil tangkapan  nelayan setiap tahun. Nelayan menjadi tidak dapat menentukan musim yang akan terjadi saat melaut.

2.      Perubahan Iklim membuat jarak tempuh nelayan untuk mencari sumber daya  perikanan menjadi berkurang, Jarak tangkap yang seharusnya bisa dicapai dengan mudah harus ekstra keras untuk lebih jauh dari daerah pesisir. Efeknya nelayan kecil harus mengeluarkan bahan bakar energi untuk berlayar.

Baca :  Wanita Karier Menjadi Gaya Hidup atau Tuntutan?

3.      Perubahan Iklim membuat ukuran ikan menjadi lebih kecil daripada ukuran normal. Hal tersebut berpengaruh pada nilai jual hasil tangkapan ikan.

4.      Perubahan Iklim menyebabkan kenaikan air laut yang dapat merusak  mangrove, tambak ikan, udang serta ladang garam di Pantai.

Harapan dan rekomendasi usulan DPD KPPMPI Kota Denpasar terhadap Pemerintah :

1.       Penguatan Regulasi Penanggulan Bencana

2.       RUU  Perubahan Iklim yang Pro Terhadap Kesejahteraan Nasib Nelayan

3.       Advokasi terhadap Nelayan yang berdampak terhadap Perubahan Iklim

4.       Mitigasi Bencana untuk Perubahan Iklim Bagi Nelayan

5.       Pengurangan Pemakaian Bahan Bakar Fosil yang dapat membuat Gas Rumah Kaca bagi masyarakat

6.       Pengendalian produksi plastik dimana plastik berasal dari Minyak Bumi yang diolah secara missal. Pemerintah harus bisa mengendalikan  proses pengurangan pembuatan plastik di Hulu dengan menggandeng perusahaan skala besar. HAD