Dr. Apendi Arsyad
Menarik tibo2 ado anggota DPR RI dapil Riau, yang bersuara lantang di ruang sidang DPR RI Senayan menyampai uneg2 dan aspirasi urang kampuang di Kuansing yang sudah lama dirampok hak2 tanah ulayatnya oleh perusahaan besar kebun Sawit (oligarki). Selama ini kasus penjarahan asset perkebunan rakyat tsb di Riau, memang kurang mendapat perhatian Pemerintah Pusat, dan kalah terus dalam event2 persidangan di Pengadilan. Warga masyarakat lokal selama ini menemui kesulitan dalam mendapatkan keadilan.
Adanya suara lantang wakil rakyat seperti itu, yg teramat langka kita dengar, sungguh mencengangkan kita semua, senang, mengappresiasi perjuangannya, dan penuh harap, semoga ada perhatian dan perubahan sikap yg berpihak kepada local community rantau Kuansing, terutama terhadap nasib malang Kades dan warga Sibarakun Benai yg tengah dizholimi. Kades Sibarakun kini mendekam di tahanan Kejaksaan krn dalam proses persidangan, dan sebelumnya ditahan di Mapolres Kuansing dituduh merusak sarana PT Duta Palma Nusantara, perusahaan besar perkebunan Sawit milik taipan Jkt, yg telah menyerobot tanah masyarakat adat/ulayat (land tanure right). Padahal bpk Kades Sibarakun tersebut tengah berjuang membebaskan lahan perkebunan milik adat agar bisa dikembalikan kepada masyarakat lokal Desa Sibarakun yg dia pimpin. Begitulah nasibnya..sungguh berat dan tragis berhadapan dengan kekuatan oligarki.
Adanya gugatan salah seorang anggota DPR RI (bpk Syahrul) tontu sonang ati kito mandongar nyo raak suaro wakil rakyat dapil Kampar Riau tsb (sayangnya, bukan DPR dari dapil Kuansing…?, barangkali mereka ” sedang tidur lelap di kursi empuknya atau sakit gigi”). Lah lamo juo… kito ndak mandongar wakil rakyat yg basuaro tegas dan nyaring seperti itu, pendapatnya kritis membela kepentingan rakyat dapilnya Riau yg masyarakat kini tertindas oleh cengkraman oligarki, diantaranya yg menimpa saat ini Kades beserta warganya terzholimi. Padahal kato anggota DPR RI tersebut daerah Riau itu kaya-raya dan melimpah sumberdaya alam dan lingkungan yg eksotik (hutan tropika)..”diatas dan dibawah bumi Riau adalah kaya minyak. Maksudnya diatas bumi ditumbuhi kebun Sawit dengan hamparan luas, sedang dibawah bumi tersimpan kandungan Minyak (BBM) dengan kapasitas sangat besar dan berkualitas, dan menjadi penyumbang terbesar bagi produk domestik bruto (PDB) di NKRI ini. Akan tetapi sayang, rakyatnya dan penduduk lokal Riau masih banyak hidupnya miskin, bahkan ada terpapar kelaparan di desa2 rantau Singingi, akibat kehilangan lahan perkebunan, begitu kata anggota DPR RI tsb dengan nada kesalnya.
Membaca posting anggota Dewan (bpk Syahrul) yg telah viral tsb di medsos, kita sependapat bahwa masih banyak kasus2 yg belum terangkat ke publik. Kata pak Syahrul.ada lk 360an lebih kasus2 pertikaian lahan perkebunan (problem agraria) yg tengah terjadi di Provinsi Riau, yg merugikan rakyat, dimana Pemerintah Pusat tidak memperhatikannya.
Iyo bang Badar, Idrus, Rajo Rusli etc warga IKKS ..seharusnyo memang begitu ‘gesture’ anggota legislatif krn punya tugas dan kewenangan dalam pengawasan pembangunan. Ado wakil rakyat awak di DPR RI yg barani basuaro, mengangkat kasus masalah konflik agraria dan pengrusakan ekosistem dan lingkungan hidup seperti tobiang ghuntua (longsor) di desa Kampung Baru Caghonti, terletak di jln raya nasional rute Pku-Rgt, belum dan bahkan tidak pernah digubris juo, dibiarkan, ndak dipadulian doo oleh para pajabat. . laa ba tahun2 dibiarkan bagitu ajo. Dimana dapur rumah beberapa orang penduduk desa Kampung Baru Kecamatan Cerenti sudah berada pada posisi dan batas tobiang yg longsor (ghuntua) tsb..sangat membahayakan nyawa manusia. Dalam bahasa kampuang Conti, botual di tobiang sungai ..la taek parah oo.”. Dalam menyampaikan aspirasi ini,… bak kato atau bacakap ughang awak di kampuang…”La babuyui-buyui (berbusa-busa) muluit dan olah litak lidah dek bacakap ka pajabat du… ndak ado hasilnya yg nampak roo ” sampai kini. Baapo ajak de, kok begitu loyo amek ? jika begini terus, rakyat pun jadi prustasi dibueknyo.
Ini salah satu bukti atau fakta bahwa kemampuan kepemimpinan Kepala Daerah nan ado dan sejak doeloe kurang effektif, lemah (loma), nampak oo…juo kurang peduli dgn keadaan masyarakatnya. Dalam membangun, mereka kurang bahkan tidak mampu menjalin sinergi-mutualitik antara pejabat Pusat dan Daerah, seharusnya mereka nyambung antara eksekutif dan legislatif untuk membangun sapras penataan lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Riau, khususnya DAS (batang) Kuantan melalui pemanfaatan alokasi khusus dana APBN-Pusat dan APBD Provinsi etc . Simpulannyo taek loma oo kemampuan loby para pamimpin kito dan para wakil rakyat dapil kito ruu rak. Dan akibatnya juga loma jejaringan (networking) yg ado. Kito ndak obe (tidak tahu) bonar ro apo panyobabnyo dan mangapo menjadi ngak nyambung ?..yo rak…abang2 di ormas IKKS, binguang awak. Apa ‘minder’ kurang pergaulan, ndak ado entertain-meeting dan atau kurang “Pede” (percaya diri) berhadapan dengan aparatur Pemerintah Pusat, khususnya kepada para pejabat Kementerian PUPR dll?. Dan atau mungkin enyo sibuak ajo nyari “duik haram” untuk iduik bapoya2 bergelimang ghoto dgn segala kemewahannya, dan atau “namba bini” lagi..etc. Moo (sorry) yo…! jiko ado yg tasingguang (baper), tapaso bacakap di alam demokrasi ini, yo seperti itu krn ruangnya terbuka di era reformasi, sekali lagi maaf. Niatnya hanya kito saling mengingatkan dan saling menasehati antar para pemangku kepentingan (stakeholders) terhadap kebenaran (haq) dan kesabaran (sobri): “Watawa saubilhaqi- watawasau bissobri” antar sasamo urang yg saharusnyo sudah berbuat, ndak ado motif politik disiko,… ini suara dan pandangan kritis (lurui) dari ughang kampus (akademisi) untuk mendorong kemajuan nagori.
Maaf bacarito pangalaman saketek (sekilas), ..ambo sewaktu baliak ka Caghonti dulu lk 5-8 thn yang lalu pernah maliek di jalan raya Taluk-Pku ado mobil mewah merk “Capricon” lewat, harga mobil sangat mahal itu diatas satu M. Saya pernah tahu krn teman saya di Bogor punya mobil tipe-merek spt itu. Ambo kaget dalam arti kato ughang Kuantan “tabalala mato mamandang nyo”, meliek ‘sesuatu’ malinte di dopan mato ambo…astaga ado di rimbo Kuantan mobil mewah bersileweran lewat. Rasa penasaran dan rasa ingin tahu pun muncul seketika di bonak (otak).
Lalu ambo batanyo ka kawan duduk di sabolah ambo, siapo ko? ughang kampuang kito yang punyo oto (jift) mewah itu,? ..kemudian ambo dapek jawaban ..”siapo lai, katonyo …kalau ndak ” anak ‘urang pontiang’ yang sodang bakuaso di nagori Kuansing ko, yg kini juga sebagai anggota DPRD”…oo begitu sambil ambo manggut2, agak terheran-heran…”hebaat salutlah”.. mudah2an informasi itu ngak kaliru spt apo yg dikatokan kawan tersebut.
Akhirnyo ambo berusaha memahami latar belakangnya. Memang ado sebagian ughang utk menunjukkan eksistensi dirinya “orang hebat” di kampuang dgn caro memamerkan harta yg mewah kapado rakyat yg tengah susah ekonominyo, itu sebuah “kepuasan” tersendiri. Apalagi ekonomi rakyat yg tetap sulit, ghogo (harga) gotah murah sedangkan boreh mahal, dan aghi (hari) pun pangujan lo lai..longkoklah susah iduit ughang awak di kampuang ru rak. Kondisi gaya hidup oknum “pejabat” negara yg berlawanan (paradoks) dengan kondisi rakyatnya yang tengah hidup susah, ya..satu2nya yg paling senang adalah setan (iblis), maaf, itu kata QnS, sedanglan manusia normal akan merasa prihatin dan “ngelongso” (ngelus dada) bahasa Jawanya, sambil menggerutu kok bisa,… “tega nian dikau”..
Ambo mancubo lagi berpikir untuk lebih memahami fenomena sosial yg tampak paradoks tsb. Kok bisa di “lingkungan hutan” ndak banyak ughang, ado pemilik mobil mewah di kampuang?..iko memang masuak diakal,… akibat dari “.. duik banyak…sagalo apo bisa diboli”…dan ditambah lagi sikap mental yg pas2an karakternya, yg disobuit dengan istilah “iduit baagomo tapi ndak batuhan” ..ha ha ha…”panyakik manusia modern” maka cincay lah. astaghfirullah halaziem. Sabonarnya kito kasihan juo maliek gaya kehidupan (life style) ughang “kaum elite” spt itu yang “abnormal”, anomali.. la tuo2 ..yang ” hidupnya tidak pernah selesai2 untuk mengurus dirinya sendiri”, masih sibuk dgn cinta dunia yg berlebihan (ubud-dunya)… kasihan melihatnya. Hendaknya ado ughang yg menasehatinya agar perjalanan hidup ndak tasosek (tersesat) roo. Jika diberi amanah wakil rakyat (DPRD) tunaikanlah amanahnya dengan baik, hidup bersih, cukup dan penuh tanggungjawab.
Akhir2 ini kito banyak mambaco mengenai pemberitaan buruk (bad news) korupsi di Kuansing di beberapa media online dan koran2 lokal (Riau Post, Tribun etc). Kito baru tersadarkan dan semakin paham dan “obe” (tahu) parahnya keadaan birokrasi kita. Wajarlah, ketika pihak Kejaksaan Kuansing bekerja jujur dan profesional menegakkan hukum, ado yang tatangkok dan tasangkuik kasus hukum atas perbuatan kriminal korupsi tsb, dimano pertanggungjawaban keuangan bermasalah (malpraktek administrasi), dan pembangunan fisik ngak salosai (proyek Hotel mangkrak), dan duik (dana) APBD oo menyimpang penggunaannyo, uang rakyat dihambur-hamburin (boros)., …kasihan nasib nagori dan rakyat di kampuang kito ruu rak, ndak lomak ati kito mandongarnyo. Semoga cepat hilang dan berlalu.
Maraknya korupsi ini mambuek daerah kito ndak bisa maju2 dan bakombang spt nagori ughang lain, yg sudah mendapatkan Kepala Daerah yg profesional, berakhlak baik dan bersih dari KKN dalam proses Pilkadalnya, sebut saja misalnya Bupati Nganjuk, Bupati Banyuwangi, Walikota Surabaya, Bupati Jember, Kota Bogor, Kota Bandung, Gubernur DKI Jakarta, dll, di daerah ini pembangunan begitu pesat rakyatnya pun senang. Kito berharap, insya Allah dalam waktu dekat juga lahir para Pemimpin di daerah kito Kuansing dan Riau, semoga Allah mengabulkan doa kito untuk mendapatkan kehidupan nagori yang aman, nyaman, damai dan sejahtera, Amin3 YRA.
Sekali lagi, kito sangat berharap dan merindukan pada Pilbub melalui Pilkadal Kuansing kali ini, yg akan digelar pada tgl 9 Desember 2020 mendatang. Harapannya bisa melahirkan sosok-vigur Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Kuansing yg “cager” “bager” dan “seer” kato ughang Sunda. Dengan kato lain: para Pemimpin Daerah bersama dengan para Ketua dan anggota Dewannya (DPRDnya), muncul manusia2 yang mau dan mampu (bisa) bekerja dengan cerdas, keras dan ikhlas untuk berjuang memajukan dan mensejahterakan rakyatnya sebagaimana amanat pasal 33 UUD 1945 yaitu kemakmuran bersama, bukan kemakmuran orang seorang, seperti yg banyak terjadi saat ini, adanya gejala sosial “paradoks” dgn ketimpangan sosial yg semakin menganga (baca indeks gini rasio yg tinggi diatas 4, lampu merah. Jika dibiarkan akan berbahaya terhadap integrasi sosial dan bangsa).
Barang tentu sosok-vigur yg muncul mensyaratkan orang yang bersih dan bebas KKN. Itu harus kito perjuangkan dalam Pilkadal thn 2020 nanti, hendaknya menjadi bahan renungan kito basamo kaum intelektual, terpelajar dan tokoh2 masyarakat Kuansing. Pada kesempatan ini, kito mengetuk hati para dunsanak untuk dapat berperan dalam Pilkadal, khususnya untuk mereka2 yang masih mencintai nagori dan kampuang halamannyo, agar bisa berkemajuan dan beradab sejajar dengan nagori2 lain yg sudah maju.
Mdh2an mereka para oknum telah babuek “khilaf dan salah”, badoso pernah terlibat KKN… jiko ado, dengan sadar menyingkirlah dalam pertarungan Pilkadal-Pilbub nanti karena sosok Kepala Daerah harus orangnya baik dan menjadi tauladan bagi rakyatnya. Lobiah elok, copek2lah insyaf, batobat kpd Allah SWT, sebelum ajal menjompuik, ingek setiap yang bernyawa akan mati. Nauzubillahi minzalik. smg kito terhindar dari perbuatan tercela KKN tsb, berpalinglah kito ke nan elok rak.!!!
Akhir kato, sebagai renungan, ingek ghoto (harta) yg kito punyo di dunio ndak bisa dibawa mati roo..!!!. Kato hadist nabi, Yang bisa didapek nanti ketika kito sdh mati-berpulang kerahmatullah hanya 3 (tigo) perkara yang bisa kito dapek kiriman-panen pahalo yaitu: 1. Harta (ghoto) yg bermanfaat bagi masyarakat tidak mampu; 2 ilmu yg pernah diajarkan yg bermanfaat nan mencerdasķan bagi orang lain semasa hidupnya, dan 3. anak2 kito yg soleh yg selalu mendoakan orang gaek nyoo. Ingek yoo itu pun harta yang halalan toyiban, sedangkan ghoto (harta) hasil dari perbuatan korupsi (haram) ndak bisa manolong kito roo, bahkan manyusahin uduik kito di maso dan tompek yaumil akhir nanti. Itu pesan moral, kato ajaran ugomo kito Islam yg tercantum di dalam QnS yang menjadi pedoman hidup kito (hudallinnas).
Semoga menjadi renungan, menjadi pelajaran kito basamo pagi ini. Renungan ini tertuju bagi mereka2 yang mau berpikir dan memahami kebesaran Tuhan-Allah SWT dan gemar berbuat kebajikan. Hendaknya semasa kito hidup di dunia yg fana ini berimtaqlah, dan gemarlah berbuat kebajikan antar sesama, termasuk ber”amar makruf-nahi mungkar” memikirkan keadaan nagori di tengah kehidupan masyarakat yg pemimpinnya (the ruling party dan para elite politiknya) sedang “sakit”. Smg Allah SWT senantiasa memberikan Hidayah, Rahmat dan Karunia kepada kita, warga Forkom IKKS kito ini. Sukron barakallah.
Wabillahit taufik walhidayah. Wassalam Wr. Wb.
Judul asli: Renungan Pagi, Menyongsong Pilbub Kuansing, Desember 2020
Dr.Ir.H.Apendi Arsyad MSi (mukim di Ciawi Puncak Bogor, Pendiri-Dosen /Assosiate Profesor pada Prodi Agribisnis Universitas Djuanda Bogor, Konsultan dan Aktivis di beberaa Ormas di Bogor, serta pernah Ketum IKC (Ikatan Keluarga Cerenti) se Jabodetabek thn 2002-2019).

