Ruwat Mustikaning Jagat, Pamong Budaya Bogor Gelar Ruwatan 7 Gunung

oleh -419 views

BOGOR (Lead.co.id) – Di tengah deru modernisasi dan hingar-bingar pembangunan, Pamong Budaya Bogor kembali menyuarakan panggilan sunyi dari pegunungan: Ruwatan 7 Gunung. Sebuah rangkaian perjalanan spiritual, budaya, dan ekologis yang akan digelar dari Juli 2025 hingga Januari 2026, melintasi tujuh puncak sakral di Jawa Barat.

Bukan sekadar ritual, bukan pula sekadar tradisi, ruwatan gunung adalah tirakat peradaban yaitu sebuah ikhtiar untuk memulihkan harmoni antara manusia dan alam, sebagaimana diajarkan para leluhur Nusantara. Gunung, dalam pandangan kosmologis budaya kita, bukanlah objek, melainkan subjek. Ia hidup, ia mendengar, dan ia menjaga.

“Ruwat Mustikaning Jagat Bukan Sekadar Seremonial, Tapi Panggilan Jiwa untuk Merawat Semesta”

Ahung Putra Wijaya, Ketua Pelaksana kegiatan Ruwat Mustikaning Jagat, mengungkapkan bahwa tahun ini menjadi tonggak penting karena memasuki putaran kelima yaitu lima periode perjalanan spiritual dan ekologis yang konsisten.

“Ini bukan sekadar acara simbolik,” tegas Ahung. “Kami tidak sedang membuat seremoni kosong, melainkan menjalankan tugas luhur sebagai manusia yaitu menjaga dan memelihara alam semesta yang selama ini telah memberi hidup.”

Baca :  Tingkatkan Budaya Literasi, Komunitas di Pamekasan Gelar Pelatihan PKPP

Ruwat Mustikaning Jagat hadir sebagai ruang kontemplatif sekaligus aksi nyata untuk memperkuat tiga poros penting dalam kehidupan yaitu hubungan manusia dengan Sang Pencipta, hubungan antarsesama, serta hubungan dengan alam yang menjadi rumah bersama.

Salah satu kegiatan utama dalam acara ini adalah penanaman pohon. Bagi Ahung, ini bukan hal sepele. “Setiap pohon yang kita tanam, adalah napas tambahan untuk bumi. Kita mungkin tak bisa mengukur nilainya secara langsung, tapi kita tahu, kita sedang menyumbangkan oksigen untuk masa depan.”

Lebih dari sekadar kegiatan, Ruwat Mustikaning Jagat adalah gerakan kesadaran yaitu mengajak manusia untuk kembali menyatu dengan alam, menghormatinya, dan ikut bertanggung jawab atas keberlangsungan kehidupan.

Tujuh Gunung, Tujuh Nafas Alam

Inilah tujuh titik penjaga spiritual yang akan diruwat:

  1. Gunung Perbakti – Cidahu, Sukabumi – 26 Juli 2025
  2. Gunung Kencana – Sukabumi – 30 Agustus 2025
  3. Gunung Tampomas – Sumedang – 30 September 2025
  4. Gunung Manglayang – Kabupaten Bandung – 27 Oktober 2025
  5. Gunung Burangrang – Kabupaten Bandung Barat – 29 November 2025
  6. Gunung Wayang – Pangalengan, Bandung – 27 Desember 2025
  7. Gunung Patuha – Ciwidey, Bandung – 31 Januari 2026
Baca :  Ngalokat Cai, Totopong dan Kirab Pusaka Nusantara akan digelar MCKN Bogor

Makna di Balik Ruwatan: Kembali Menjadi Bagian dari Alam

“Ini bukan sekadar seremoni budaya,” ujar Ki Bambang Sumantri, Ketua Umum Pamong Budaya Bogor. “Ini adalah upaya membangun kembali jembatan batin antara manusia dan bumi. Gunung-gunung ini telah menyaksikan sejarah, menyimpan energi, dan menjaga keseimbangan ekologi kita. Sudah waktunya kita kembali menyapa mereka dengan penuh hormat.”

Lebih dari sekadar menjaga warisan, ruwatan ini adalah perlawanan halus terhadap alienasi budaya yang terjadi di era digital. Ketika budaya hanya tinggal di buku atau museum, Pamong Budaya Bogor mengajak kita merasakannya kembali yaitu di tanah, di angin, dan di sunyi kabut pagi gunung.

Baca :  Disparbud Kota Bogor Gelar Lomba Celempungan

Dibingkai Hukum, Dikuatkan oleh Konstitusi

Menjawab isu legalitas kegiatan ini, Adv. Rasyid Ridha, S.H., M.H., selaku penasihat hukum menyatakan bahwa Ruwatan 7 Gunung memiliki dasar hukum yang kokoh.
“Ritual ini merupakan bagian dari implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan,” jelasnya. “Negara berkewajiban memberikan ruang hidup bagi ekspresi budaya lokal, termasuk ritus seperti ini yang juga mendukung perlindungan lingkungan, pengetahuan tradisional, dan ketahanan sosial.”

Ajakan untuk Menyatu dan Merawat

Pamong Budaya Bogor mengundang semua: pegiat budaya, komunitas adat, mahasiswa, hingga warga biasa. Karena ruwatan bukan milik segelintir orang. Ia milik siapa saja yang masih mendengar bisikan gunung dan percaya bahwa alam bukan benda mati, melainkan saudara tua yang harus kita rawat bersama.

Informasi detail terkait waktu, lokasi, serta tata cara pelaksanaan tiap ruwatan akan diumumkan secara bertahap melalui kanal resmi media sosial Pamong Budaya Bogor. Mari berjalan bersama. Mari pulang ke akar.