Sapu Bersih, Musisi Jalanan Sayangkan Razia Premanisme di Kota Bogor

oleh -268 views

BOGOR (Lead.co.id) – Komunitas Musisi jalanan yang tergabung dalam Rumah Kreatif Keboen Sastra menyesalkan adanya razia “sapu bersih” yang dilakukan Satgas Penertiban Premanisme Kota Bogor. Karena, petugas tidak memilah mana preman dan mana musisi jalanan.

“Para musisi jalanan di Kota Bogor semua digiring dan diintrogasi. Kami ini bukan preman, tapi kami seniman yang setiap harinya mengais rizki di jalanan,” tegas Pendiri Rumah Kreatif Kebon Sastra, Herie Syahnilla kepada awak media, pada Selasa (8/4/2025).

Lelaki yang akrab disapa Herie Matahari ini menyayangkan tindakan razia tanpa komunikasi yang jelas antara Pemerintah Kota Bogor dengan komunitas seni dalam hal ini musisi jalanan.

Ironisnya, beberapa musisi jalanan yang terjaring razia ternyata merupakan peserta Workshop Manajemen Musik Jalanan yang digelar pada Juni 2024 silam atas bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek RI.

Menurut dia, mereka yang ditertibkan itu bukan Preman. Karena mereka sudah dibina, ikut pelatihan resmi, dan berusaha tampil secara tertib di ruang publik.

Baca :  Sapu Bersih Mafia Bansos

“Sangat disayangkan kalau mereka semua dianggap para preman. Justru yang dibutuhkan saat ini bukan razia membabi buta, tapi pemetaan dan pembinaan yang jelas,” sambung dia.

Herie juga mengaku setuju dengan penertiban para preman serta larangan mengamen di Angkot. Namun, kata dia, alangkah bijaknya ketika Pemkot Bogor mengeluarkan kebijakan dibarengi dengan solusi.

Heri mencontohkan, ketika Gubernur Jabar Dedi Mulyadi melarang angkot jalur puncak beroperasi di hari lebaran, solusinya Gubernur memberikan uang kompensasi kepada para sopir angkot,

“Ini sekedar contoh saja, sebagai saran dan masukan kepada Kang Dedie Rachim.dan Kang Jenal Mutaqin. Jadi ada aksi ada solusi, ” tandasnya.

Lebih lanjut Herie mengusulkan agar Pemkot Bogor menggandeng komunitas seni untuk membantu membedakan antara musisi yang berkontribusi secara positif dan mereka yang justru mengganggu ketertiban umum.

Baca :  PT PCS Minta Kapolri Tindak Mafia Tanah yang Gunakan Premanisme

Apalagi, sambung Herie, Pemkot sendiri pernah menunjukkan itikad baik. Saat menghadiri acara REKKAM ART 20 Sekda Kota Bogor Syarifah Sopiah Dwikorawati mendorong dinas-dinas untuk bekerja sama dengan komunitas seni dan membuka akses ruang publik bagi musisi yang sudah terdata.

Bahkan, beberapa musisi yang kini terkena razia diketahui pernah tampil secara resmi di acara yang dihadiri bahkan diundang langsung oleh Wali Kota Dedie Rachim.

Mereka bukan orang baru, melainkan wajah-wajah yang sudah berkontribusi dalam geliat budaya Kota Bogor. Mereka pernah tampil saat Pak Dedie mencalonkan diri sebagai Wali Kota.Jadi bukan tiba-tiba muncul di pinggir jalan,” ucap Herie.

Pihaknya juga mengaku telah mengajukan audiensi kepada Wali Kota dan dinas terkait dengan salah satunya usulan pemberian identitas resmi bagi musisi jalanan binaan agar dapat dibedakan dengan pihak-pihak yang menyalahgunakan ruang publik.

Baca :  Pimpinan Ormas Temui Kapolresta, Bahas Isu Premanisme di Kota Bogor

Sebelum pandemi, sambung dia, pihaknya nya sudah berupaya menghidupkan taman-taman kota lewat pertunjukan musik jalanan. Karena, bagi Herie, musisi jalanan adalah wajah lain dari kota yang kreatif, hidup, dan dekat dengan masyarakat.

“Jika diberi ruang dan diarahkan, mereka bisa jadi magnet wisata budaya, memperkuat citra Kota Bogor sebagai kota kreatif dan ramah,” tuturnya.

Aspirasi mereka sederhana: ruang, dukungan, dan dialog. Jadi Pemkot jangan hanya melihat sisi ketertiban, tetapi juga potensi besar yang dimiliki musisi jalanan dalam membangun atmosfer kota yang hidup dan berbudaya.

Menurutnya, jika musisi jalanan terus-menerus dipinggirkan tanpa ruang dialog, mimpi tentang kota kreatif hanya akan jadi slogan.

“Padahal, membangun kota yang cerdas dan berbudaya itu butuh semua pihak, termasuk kami yang berkarya dari jalanan,” pungkas dia.