Site icon LEAD.co.id

Sawala Dasa Wacana #10: Pergerakan Kaum Muda Hadirkan Gagasan Islam Rahmatan Lil Alamin

BOGOR (Lead.co.id) – Pelaksanaan kegiatan Sawala Dasa Wacana #10 tetap berlangsung meskipun sempat terhambat hujan deras yang mengguyur lokasi acara pada Selasa (10/3/2026). Hujan yang turun sejak siang hari itu membuat beberapa pemateri berhalangan hadir dan jadwal kegiatan yang semula direncanakan pukul 15.00 WIB harus bergeser menjadi pukul 17.00 WIB setelah hujan mereda.

Meski demikian, kegiatan diskusi yang digelar di lingkungan Yayasan Daya Putra Bangsa tersebut tetap berjalan dengan penuh antusiasme. Pada kesempatan itu, pemateri yang dapat hadir Asep Saepudin yang dikenal dengan sapaan Kang Djurasep.

Dia menyampaikan materi yang kemudian bergeser pada tema motivasi pergerakan kaum muda dalam mengoptimalkan potensi diri untuk menghadapi tantangan zaman, khususnya dalam membumikan nilai-nilai keislaman sekaligus nilai-nilai lokalitas.

Menurut Kang Djurasep, generasi muda memiliki peran penting dalam menghadirkan gagasan Islam yang rahmatan lil alamin, yakni Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam, melalui pendekatan seni, budaya, dan kreativitas yang relevan dengan perkembangan zaman.

“Untuk menuju ide rahmatan lil alamin di era kontemporer, tantangan hari ini adalah bagaimana seni dan budaya tetap menjadi alat penebar rahmat.Kita berkarya sembari mengadvokasi nilai-nilai kemanusiaan, lingkungan, dan perdamaian, bukan kekerasan atau eksklusivisme,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa pemanfaatan media digital juga menjadi sarana penting dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui karya seni,seperti lagu religi, film pendek Islami, hingga street art yang memuat pesan kasih sayang dan kemanusiaan.

“Islam atau agama tidak bertentangan dengan budaya dan seni, Justru Islam mendorong keindahan. Keindahan adalah bagian dari rahmat. Islam rahmatan lil alamin berarti terbuka, universal, dan adaptif selama tidak melanggar prinsip dasar Al-Qur’an dan Sunnah. Karena itu seni dan budaya dapat menjadi bahasa rahmat yang mudah diterima semua kalangan,” jelasnya.

Asep Djurasep juga menambahkan bahwa ketika Islam dan budaya berjalan bersama, lahirlah kehidupan masyarakat yang harmonis, berakar pada tradisi namun tetap berlandaskan nilai-nilai spiritual. Dengan demikian, Islam yang rahmatan lil ‘alamin dapat hadir melalui berbagai jalan, termasuk seni dan budaya. Keduanya menjadi sarana untuk menyebarkan pesan kedamaian, memperkuat persaudaraan, serta merawat keberagaman sebagai bagian dari keindahan ciptaan Tuhan.

Kegiatan diskusi ini dihadiri oleh berbagai kalangan lintas komunitas dan generasi. Tampak hadir Ketua Yayasan Daya Putra Bangsa Willy Kamawijaya, Tohir Kulikulo,sejumlah personel KPJ Merdeka Bogor, Tatang Suherman dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FKIP UIKA, pengurus OSIS SMK Sirojul Huda 3, Jalu dari SMARUK, Ahung bersama komunitas seni Layung Jagad, relawan Daya Putra Bangsa, serta beberapa tim media.

Dalam sesi tanggapan, Tatang Suherman selaku Ketua HMI Komisariat FKIP UIKA mengungkapkan apresiasinya terhadap kegiatan diskusi tersebut. Ia menilai forum seperti ini sangat penting bagi generasi muda, terutama generasi Z yang dinilai semakin jauh dari pemahaman terhadap budaya lokal.

“Sangat bagus dan menarik, apalagi bagi kalangan Gen Z yang notabene banyak yang belum mengenal budaya leluhur mereka. Anak muda sekarang masih kurang literasi terkait budaya, sehingga diskusi seperti ini penting dan sebaiknya dilakukan secara rutin,” ungkapnya.

Diskusi kemudian berlangsung semakin cair dengan dialog lintas generasi antara pembicara, penanggap, dan peserta.Forum ini menjadi ruang belajar terbuka yang mempertemukan pelajar SMA,mahasiswa,serta para pelaku seni dan budaya dalam percakapan yang kritis dan interaktif.

Menurut Heri Cokro, suasana dialog yang inklusif tersebut memang menjadi tujuan utama dari penyelenggaraan Sawala Dasa Wacana.Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang dialog lintas generasi yang mampu membuka sekat-sekat sosial dan mendorong lahirnya ruang-ruang kreatif dalam kehidupan kultural, religius,dan sosial.

“Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang dialog yang mempertemukan berbagai generasi untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya seni,budaya, religiusitas,kepedulian sosial hingga isu-isu lingkungan. Pada akhirnya,semua itu bermuara pada upaya menghadirkan gagasan Islam,budaya,dan seni yang inspiratif serta membawa rahmat bagi semesta,”ujarnya.

Melalui diskusi seperti Sawala Dasa Wacana, diharapkan tumbuh kesadaran baru di kalangan generasi muda bahwa seni, budaya, dan nilai-nilai keislaman dapat berjalan beriringan sebagai kekuatan untuk membangun peradaban yang lebih humanis dan berkeadaban.

Exit mobile version