Oleh: Apendi Arsyad
Subhanallah walhamdulillah wallhuakbar..
Syukron ibu Ir. Hj Ita Novita MS (Dosen Senior Agribisnis Faperta UNIDA Bogor) yang telah memposting video penyanyi terpopuler Melayu dari negara jiran Malaysia nan cantik Siti Nurhalizah. Sungguh tersentuh hati dan perasaan ini mendengar dan menyimak bait demi bait lagu Melayunya, terutama di saat ini sebentar lagi memasuki 1 syawal 1442H, hari raya Idul Fitri.
Lagu yang didendangkan artis cantik Siti Nurhalizah ini, melantunkan syair-2 lagu yang sangat indah dan merdu tentang suatu kisah kerinduan seorang anak kepada ayah bundanya untuk bisa berkumpul bersama di hari bahagia (idul fitri), tetapi terkendala oleh situasi kondisi (pandemi Covid 19) yg tak memungkin dia untuk pulang (mudiak) ke desanya yang penuh kenangan. Untuk pencegahan pandemi.Covid 19 yang kini.masih kian menyebar, makanya Pemerintah melarang para perantau untuk mudik (baliak) berlebaran di kampung (desa) halamannya.
Lagu Melayu ini mengisahkan bagaimana perasaan bahagia seorang anak ketika bertemu, bersilaturrahmi dengan kedua orangtua (ayah-ibunya) yang tercinta dengan curahan penuh kasih-sayang, terutama dihari bahagia (bugya), hari lebaran Idul Fitri 1442 H nanti. Artis terkenal Siti Nurkhalisah dengan suaranya yang begitu sangat sahdu, merdu dengan vokal dan ritme yang khas membuat perasaaan (qalbu), hati ini menjadi penuh haru dan sedih karena tidak bisa bertemu bercengkrama dan mengobrol bersama sang kekasih ayah dan ibu di teras rumah atau ruang lainnya di rumahnya.
Walaupun “jauh dimata dekatlah di hati”, …demikian salah satu bait syair lantunan lagu dan musik Melayu yg memdayu-dayu yang menusuk hati itu. Asik sekali kita mendengarnya untuk menghibur diri di tengah kesunyian yang tengah kita alami.
Judul lagu Melayu ini, saya tak tahu begitu persisnya, tapi yang terbaca di teks video adalah “Sayu …dan sayub”, ada 2 kata, artinya bahasa Melayu sayu itu makna “sedih”, sedangkan sayub “terbayang-bayang”, ada kerinduan, kira-2 saya hanya bisa menduga-duga bahwa makna syair lagunya mengekspresikan sebuah rasa yang amat rindu disertai kesedihan teramat dalam terhadap ayah dan ibu di kampung (desa) yang tidak bisa ditemui, sebab ada kendala yang tak bisa teratasi akibat situasi musibah dan cobaan (“azab”) berupa pendemi Covid 19 yang Allah SWT berikan kepada ummat manusia di belahan bumi ini dipenghujung abad ke 20, di era millenial berbasis industri 4.0.
Terus terang mendengar dan menyimak isi syair lagu, beserta memahami maknanya bait demi bait, jika kita menghayati lebih mendalam dengan hati yang tenang, tanpa sadar air mata pun menetes dan mengalir dipipi, berlinang air mata akibat meluapnya rasa yang amat rindu untuk bisa menatap wajah ayah dan ibu secara langsung (face to face) di rumahnya di desa yang sudah agak lama kita tinggalkan. Sebagai anak yg ditakdir Allah SWT hidup lama di perantauan dan bermukim serta telah menjadi warga atau penduduk “pribumi” di kota-2 besar, karena tuntutan pekerjaan dan profesi serta berumah tangga dengan berlainan suku, budaya dan daerah (out-breeding, nikah-kawin berjodoh dengan bukan orang sesuku dan sekampung), maka mengakibatkan kita membina hidup berumah tangga di kota, yang menghambat kita jarang dan bahkan tidak dapat bersua setiap hari dan setiap saat dengan ayah dan ibu kandung kita yang amat kita sayangi.
Karena biasanya ayah dan ibukita lebih aman-nyaman, sangat menikmati dan betah tinggal di rumahnya aslinya sendiri di desa untuk mengisi kehidupan di hari tuanya, masa lansia. Walaupun kondisi rumah yang dihuninya.amat sederhana, kurang mempunyai fasilitas. Apalagi, atau terlebih mereka anaknya sudah memiliki keluarga dan jabatan (karier) yang hebat di tempat kerjanya, sehingga mempunyai tanggungjawab yang besar menjalankan amanah tugas kedinasan/kantor dimana dia bekerja, dan atau mencari nafkah dengan berbagai kesibukan dan penuh waktu karena berwirausaha, berbisnis misalnya berprofesi sebagai saudagar, pebisnis/berdagang, konsultan, usaha jasa dll. Hal ini membuat sebagian orang sulit bertemu dengan orangtuanya di desa.
Oleh karenanya pulang ke desa (kampung) kelahiran menemui kedua orangtua yang masih ada untuk bersilaturrahmi, sesungguhnya merupakan suatu kebutuhan hidup secara spiritual (basic human need) bagi mereka sikap.mentalnya sehat dan hidup normal.
Selama berlebaran di kampung, kita berkesempatan juga bertemu muka dan saling berkunjung dengan para dunsanak (kerabat) yang latar belakangnya beraneka ragam profesi kehidupan ada yang sebagian telah hidup “sukses” (the have) di kampung dan di rantau, tetapi ada pula sebaliknya nasibnya agak kurang beruntung dan “malang” orang tak berpunya (the have not, miskin). Di waktu momentum menjelang 1 syawal idul fitri inilah, atau di penghujung bulan suci Ramadhan ini kita bisa hidup berbagi antar sesama kerabat tentang pengamalan berbuat kebajikan kepada orang-2 terdekat kita, untuk membuktikan kita ini bersaudara atas landasan Dinnulislam (ukhuwah ismalamiyah, brother hood) atas landasan imtaq kepada Allah SWT. Bagi yang berkemampuan dan memperoleh banyak rezeki (“kaya”) bisa berbagi kebahagiaan dengan para dunsanaknya yang berkekurangan (fukoro masaqien) secara material dan spritual berupa doa dan tegur sapa yang menghibur dan menyenangkan.
Berbagi antar sesama, berupa berinfaq atau bersedekahnya dan berzakat bisa kita salurkan, dengan memberikan sesuatu berupa sejumlah uang, pakaian dan atau makanan di saat menjelang lebaran tiba. Di saat kita berkumpul dengan keluarga besar dan para dunsanak inilah dengah suasana akrab dan bersahabat, rasa kerinduan selama ini terpendam yang amat mendalam bisa tercurahkan.
Naluri ingin berkumpul dengan anggota keluarga besar di rumah orangtua pada tgl 1 syawal adalah momen yang membahagiakan dan juga terkadang mengharukan serta “menyedihkan” (“Sayu” bahasa Malaysia). Hadirnya lagu ini amat berguna menyadarkan kita akan pentingnya bersilaturrahmi dengan orangtua dan sanak keluarga di desa.
Suasana hati yang rindu untuk pulang (mudik) ke kampung halamannya inilah yang membuat budaya dan gaya hidup bermudik-ria walaupun terkadang menemui banyak kesulitan selama perjalanan, antri-macet, berbiaya tinggi, akan tetapi mereka tetap saja menjalani sebagai warga bangsa Indonsesia yang muslim, dan sukar dihilangkan karena ada manfaat spiritual, yakni berupa harapan memperoleh pahala dari Allah SWT karena memuliakan kedua orangtuanya.
Budaya mudik berlebaran ini, memang sulit untuk dihilangkan di tengah-tengah masyarakat yang “socio-religeous”, masyarakat guyub, gamanscaft society di alam perdesaan, kecuali bagi.mereka-2 yang telah bergeser pola budaya yang materialistis-sekuler dan liberal atau mungkin telah berpaham ateis (komunisme) yang tidak percaya adanya Tuhan Allah dan kehidupan akhirats, kehidupan setelah mati. Nauzubillahiminzaliq.
Pengalaman kita membuktikan, ketika bertemu muka menatap wajah ayah dan ibu, bersimpuh dihadapannya, mencium tangannya yang telah mulai keriput, kening, pipih dan jejeri kaki ayahanda dan ibunda adalah sebuah kenikmatan yang tiada taranya, sulit diceritakan dengan kata-kata dan sulit pula dilukiskan dalam ragam bahasa. Hidup penuh berkah dan maghfiroh.
Di saat-2 momentum 1 Syawal, hari lebaran tiba itulah, setelah sholat Idul Fitri berjemaah di lapang atau di masjid di desa/kampung (dimana kita pernah dilahir, dibesarkan dan dididik oleh kedua orangtua kita), kita berkesempatan bertemu dengan teman sebaya doeloe, bersalaman dengan tetangga se kampung dan sanak famili. Semuanya itu merupakan kenikmatan dan kebahagiaan tersendiri dalam diri dan kehidupan keluarga kita. Ada yang belasan dan puluhan tahun tidak pernah bertemu dengan teman sepermainan di waktu kecil, yang alhamdulillah kini menjadi sesama perantau. Benar kata orang bijak, salah satu sumber kebahagiaan hidup itu adalah ketika kita bertemu dengan saudara dan sahabat lama. Biasanya di hari lebaran Idul.Fitri suasana batin kebahagiaan akan didapatkan.
Pada hari raya idul fitri itulah suasana hati juga menjadi lapang dan menikmati kerukunan, kedamaian setelah bersalaman antar sesama yang saling memaafkan atas kesalahan dan dosa yang pernah diperbuat baik sadar maupun tidak selaman ini. Sebagaimana makhluk ciptaan Tuhan.yang dhoif, bisa terjadi berbagai kekhilafan dan kesalahan yang akhirnya menjadi beban-dosa yg mempersulit kehidupan di akhirats. Momentum idul fitri, pada hari suci kita kembali fitrah kita sebagai hamba Allah SWT yang suci yang terhapus dari segala dosa, yang Allah SWT.ampuni. Begitu indahnya ajaran Islam yang kaffah itu, yang terus membimbing kita agar hidup penuh kedamaian (salam) dan kesejahteraan sebagaimana makna ungkapan “Assalamualaikum Waroh matullahi Wabarakatuh” yang sering kita ucapan secara spontan ketika bertemu dengan sesama teman dan kerabat di hari yang fitri dan atau hari-hari lain yang berbahagia.
Dengan mendengar lagu Melayu Siti Nurkhalisa “Sayu”..”Sayub” yang telah diposting di media sosial, disaat akhir bulan suci Ramadhan dan beberapa hari lagi akan memasuki 1 syawal 1442 H, hari idul fitri, sangat wajar kiranya dalam jiwa kita akan memunculkan rasa “kesedihan” (sayu) dan rindu (sayub) sekali ingin bertemu muka dengan ayah ibu kandung (orang yang teramat berjasa melahirkan, membesarkan dan mendidik) kita sehingga kehidupan kita yang sehari-hari mukim di daerah perkotaan menjadi sukses begini, hidup layak, berkecukupan dan bermartabat (bermarwah). Sangat wajar munculnya naluri kemanusiaan untuk rindu bersua (bersilaturrahmi) dengan kedua orangtua yang amat kita cintai dan sayangi di Desa, mereka yang alhamdulillah masih ada (hidup).
Begitulah kira-2 makna syair lagu Melayu yg didendangkan mendayu-dayu yang menyayat hati (sahdu) oleh penyanyi kondang Siti Nurkhalisah dari Malaysia.
Saya sendiri untuk 1Syawal 1442 H, akan bisa lagi menikmati kehangatan dan kebahagiaan bersama ayahanda dan ibundaku. Ayah kandungku telah lama wafat thn 1971 sejak saya masih kecil berumur 12 thn (masih duduk di bangku SD, sudah berstatus anak yatim), sedangkan ibundaku baru berpulang kerahmatullah pada tanggal 24 Pebruari 2021 yang lalu (ibuku berusia 106 thn) yang wajah cantiknya dengan penuh kasih dan sayang kepada anaknya masih terbayang-bayang dalam ingatanku. Dalam suasana lebaran Idul Fitri 1 syawal 1442 H/ Mei 2021 tahun ini, saya akan mengalami perasaan dan pikiran “sayu dan… sayup” dalam kehidupanku, tidak bisa bertemu muka langsung (to face ti face) lagi, sebagaimana konten dan massage lagu Melayu Siti Nurkhalisah yang merdu dan sahdu itu, yang saya didengar tadi, yang sempat menetes air mata krn “sedih dan rindu” pada alm.ayah dan almarhum ibu.
Kini semuanya bagiku tinggallah kenangan manis (sweet memory) bersama ibunda (omak) yang tercinta dan sayangi, dan saya dan keluarga besar the Arsyad Family hanya bisa memanjatkan doa yang ikhlas dan khusuk untuk kedua orangtuaku, Semoga Allah SWT senantiasa menempatnya di tempat mulia Syurgajannatunnaim bersama orang-2 soleh yang disayangi dan dimuliakan Allah SWT, di lapangkan alam kuburannya (alam barzah) dengan penuh cahaya iman dan taqwa kepadaNya.
Al Fatihah.. Allahummaghfirlahu/ha warhamhu/ha. wa’afiiwakfuanhu/ha. Wabillahittaufiq walhidayah, Wassallam.
Penulis adalah Pendiri-Dosen/Assosiate Professor pada Prodi Agribisnis Faperta Universitas Djuanda Bogor, Konsultan K/L, Aktivis Ormas di Bogor, dan Pengamat Sosial

