Oleh: Apendi Arsyad
Bagus saran-saran abang Marwan Yulianis kemudian direspon oleh anggota WAG KuansingKita, diskusi kita produktif dan menarik. Ide ini baru menarik untuk dikaji salah satu aspek seperti namo jaluar.
Kita baru selesai menyelenggarakan pesta Pacu Jaluar di tepian Narosa Tlk Kuantan, tanggal 21-25 Agustus 2022. Alhamdulillah berjalan meriah dan sukses. Patut kita syukuri dan memberikan apresiasi kepada segenap panitia atas jerih payahnya.
Beberapa indikator kesuksesan pelaksanaannya antara lain cukup banyak peserta lomba Pacu Jalur, disertai taburan hadiah dan bonus, dihadiri para penjabat negara seperti Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif Sandiaga S Uno sekaligus meresmikan acara pembukaannya, Wamen ATR RI, mantan Wakapolri, dll.
Tetapi tentu saja beberapa kelemahan yang terlihat dan perlu dikoreksi seperti dilihat oleh bang Marwan yaitu penamaan jaluar kaitan dengan penyandang dana (sponsor), dll. Saya setuju bahwa sistem organisasi dan Kelembagaan Pacu Jaluar di Kabupaten Kuansing Riau perlu ditata ulang, jika perlu dibuat Perdanya atau Perbub Kuansing?
Konten Perda tersebut diantaranya,
termasuk waktu lomba, jangan sampai menabrak waktu sholat ashar dan magrib kaum muslim spt yang terjadi pada acara Pacu Jaluar, event thaun 2022 baru-baru ini, baik di Baserah maupun yang terjadi di Taluk Kuantan. Jujur saya berpendapat, bahwa itu tidak sesuai dengan ketentuan Adat Melayu “Adat bersendikan syarak, dan syarak bersendikan Kitabullah” (QnS).
Tokoh Pemerintahan, Tokoh agama (MUI) dan tokoh pemangku adat (LAM) harus membicarakan untuk merumus, mensepakati dan menetapkan sistem norma dan kaidah2 (kode etika) pelaksanaan Pacu Jaluar. Diskusi untuk menyempurnaan aturan main (rule of game) Pacu Jaluar haruslah dibuka wacananya.
Sebab masyarakat kita sesuai perkembangan sudah sangat jauh berubah, baik dinamika kebutuhan dan aspirasinya serta pengaruh teknologi digital yg kian berkembang dan maju.
Jadi ide abang Marwan Yohanis anggota DPRD Riau dapil Kuansing-Inhu tersebut bagus dan menarik untuk mereformasi tata kelola Pacu Jalur Kuansing. Sehubungan hal itu, maka perlu dan sudah waktunya kita dibicarakan di lembaga eksekutif (Pemkab/Bupati) dan apalagi legislatif (DPRD) yang berwenang membuat Perda atau Perbub Kuansing.
Adanya reformasi Tata Kelola Pacu Jalur itu, bertujuan pengembangan kegiatan kompetisi (pacu) semakin lebih baik pelaksaannya, terarah, tertib, terukur, dan berdampak positif terhadap pelestarian budaya kearifan lokal (local wisdom), pemersatu warga Kuansing, bisa meningkatkan perekonomian masyarakat dan daerah, sehingga meningkat penghasilan asli daerah sendiri (PADS) dari sektor pariwisata daerah.
Usul saya semua aspek harus diperhatikan dan ditata ulang, yang berkaitan issu-issu strategis penataan managemen yg baik (good governance) Pacu Jalur, antara lain usulannya.adalah sbb:
a. Waktu pelaksanaan agar wajib memperhatikan waktu ibadah sholat kaum muslimin.
b. organisasi pelaksana dan pengarah dan penanggungjawab Bupati,
c. Kepesertaan dan Dewan Juri pacu Jalur dan persyaratannya;
d. Tata aturan (kode etik) Pacu Jalur;
e. Pengaturan Tribun, arena dan sentral usaha UKMK
f. Pengaturan perparkiran agar tertib dan tarifnya;
g. Status dan jenis Perlombaan Pacu Jalur, misalnya lokal, regional dan nasional, bahkan status internasional berikut persyaratannya.
h. Sumber pendanaan untukbpembiayaannya, terutama dukungan APBD, donatur dan usaha-usaha yang halal
i. Sistem monev dan pelaporan, terutama wajib audit keuangan dari Akuntan Publik,
j. Dll, yang dirasa penting untuk diatur.
Saya berkeyakinan itu bisa dikerjakan, asal ada “political will’ untuk kemajuan pembangunan nagori kita Rantau Kuansing, nara sumber cukup banyak antara lain abang H. Zulkifli mantan pejabat, bang Marwan legislator, Datuak Bisay Herman, Febri Ketua LAM, budayawan abang Epi Martison, dan banyak lagi tokoh masyarakat yang lain.
Demikian narasi singkat dibuat, dengan harapan ada manfaatnya bagi kemajuan nagori. Syukron barakallah Aamiin3 YRA
Tigo tali sapilin, Salam Kayuah.
Penulis adalah Dosen, Konsultan, Pegiat dan Pengamat Sosial, orang kito asal Cerenti Kuansing, kini mukim di Ciawi Bogor

