Oleh: Apendi Arsyad
Bismillahir Rahmanirrahiem
Di pagi hari ini Selasa, tepatnya tgl 23 Agustus 2022, ketiga putriku Nisa, Inna dan Thia mempersebahkan kue Tar kepada Mama tercintanya, yang kini telah berulangtahun (milad), memasuki usia ke 60 tahun. Mereka bernyanyi selamat ulang tahun “happy birthday”, dengan riang gembira, sambil mengangkat kue Tar kehadapan mamanya, bernama Atik, singkatan dari nama Hj. Sudarijati A Arsyad (60 tahun).
Anak-anakku sangat menyayangi dan mencinta mamanya, barangtentu termasuk juga aku suaminya sangat mencintai istriku Atik binti Martotono.
Pagi ini, aku baru “sadar” bahwa tak terasa istri yang aku cintai sudah memasuki usia lanjut (lansia), alhamdulillah, subhanallah, istriku sehat walaffiat dan always happy. Walaupun sudah lansia, dimataku istriku Atik tetap cantiek, ayu dan menawan hatiku, serta orangnya baik hati.
Menurut penilaianku, berdasarkan apa yang aku rasakan selama 34 tahun kami menjalankan bahtera rumah tangga, terasa aman, nyaman, rukun, damai, gembira, senang dan insyaAllah kami berbahagia sekeluarga.
Salah satu doaku setiap sholat baik fardhu maupun sunnah. Aku selalu berdoa agar kami diberikan keluarga yang saling berkasih sayang (sakinah mawaddah warohmah) dalam kehidupan rumah tangga, selalu dekat denganNya. Jujur saya berkata, selama 34 tahun menjalani hidup berkeluarga, istriku Atik telah memberikan “segala” kebaikannya bagiku dan keluarga.
Kami menikah tgl 14 Juni 1988 di Kota Bogor, setelah bersahabat dekat tak lama hanya sekitar lk 9 bulan, ketika Atik masuk bekerja sebagai Dosen Tetap Yayasan PSPI, BHP Universitas Djuanda Bogor, kira-kira pada awal September 1987.
Waktu Atik melamar dan masuk UNIDA menjadi Dosen FE, akulah yang mewawancarainya, karena aku dipercaya pimpinan Yayasan PSPI sebagai Sekretaris Tim Persiapan Pendirian UNIDA sejak Mei 1986 ketika itu, yang bertugas bersama bapak dan ibu Yayasan yang lain menyiapkan berdirinya UNIDA, di kampus Ciawi.Kab.Bogor sekarang ini.
Atik, gadis asal Kota Madiun, lulusan S1 FE UNAIR Surabaya Jatim. Pada thn.1987 Atik melamar menjadi dosen Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor.
Singkat cerita, pada saat itulah saya mengenal dan memahami dekat kepribadian si gadis Jawa Madiun, bernama Sudarijati SE, dipanggil mbak Atik, yang kini mendampingi hidupku sebagai suaminya.
Setahun kemudian kami bersahabat baik, pada tgl 14 Juni 1988 kami menikah di Kota Bogor, di rumah kakak kandungnya, dengan acara yang simpel dan amat sederhana, “seadanya” minim rangkaian ritual resepsi perkawinan. Harap maklum, kami berdua jejaka dan gadis perantauan, jauh dari rumah orang, aku orang Kuansing Riau, sedangkan Atik asal Kota Madiun.
Salah satu aku senang dan jatuh cinta kepadanya Sudarijati, call name Atik, selain dia berparas cantik, orangnya berpenampilan sederhana, dan kemudian bisa menerima aku apa adanya, aku di masa bujangan tidak punya apa-apa secara material. Karena aku juga berasal dari keluarga yatim yang hidup sangat sederhana, dengan kata lainnya bergaya hidup “pas-pasan”.
Jika tidak mau disebut miskin harta, tetapi kami sesungguhnya “kaya” nonmaterial, yang disebut modal sosial (social capital) berupa lulus pendidikan tinggi, aku lulusan IPB Bogor, sedangkan Atik adalah alumni UNAIR Surabaya, keduanya termasuk “Exellence University” di Indonesia, hingga saat ini.
Kami sama-sama berprofesi sebagai Dosen Tetap Yayasan dipekerjakan di UNIDA sejak thn 1987, insyaAllah hingga sekarang tetap betah dan bertahan, walaupun teman-temanku Dosen banyak yang telah hengkang dan menghilang, entah mengapa?
Kami sudah lk 35 tahun bertugas mengajar dan mendidik mahasiswa dengan segala liku-liku dan dinamikanya. Aku bertugas sebagai dosen tetap di Faperta UNIDA, juga pernah bertugas sejumlah jabatan struktural (Kabag Perencanaan Akademik, Wadek, Dekan Faperta, Warek 3 dan Warek Satu, serta Direktur Program Pasca Sarjana UNIDA); Sedangkan istriku tercinta Atik bertugas sebagai Dosen di Fekon (FE) UNIDA Bogor di lingkungan kampus yang sama di Ciawi Kabupaten Bogor.
Jadi kami berdua memiliki satu profesi, kegemaran yang sama yakni sebagai pendidik dan pengajar, yang barangtentu punya minat dan bakat yang sama, tetapi berbeda ilmu dan kompetensi. Hal ini yang menjadi faktor utama, kami bisa saling paham dan mengerti watak masing-masing, dan bisa saling membantu serta saling melengkapi terhadap pemenuhan hak, dan terlebih kewajiban untuk penyelesaian tugas-tugas akademik maupun pekerjaan non akademik di rumah dan seabrek tugas dari kampus.
Subhanallah, kami berdua bisa hidup seiring dan sejalan, serta saling mengisi dan melengkapi. Walaupun selama perjalanan hidup berkeluarga, ya terkadang ada saja muncul “riak-riak” kecil yang menjadi “bumbu masak” membuat nikmatnya hidup bersama dan berkeluarga.
Atik istriku yang baik hati, sudah sangat paham tabiat “jelekku” sebagai suaminya. Aku menilai Atik cerdas selaku pendamping hidupku, terutama dalam hal mengantisipasi dan memberikan solusi, jika aku sedang menghadapi persoalan pelik, dan permasalahan pribadi yang serius.
Alhamdulillah berkat andil Atik, aku bisa mengatasi segala hambatan dan rintangan, terutama menghadapi kehidupan kampus yang tak sinkron antara “dassain” idealita berdasarkan Dinnulislam (QnS) vs “dassollen” fakta dan kenyataannya yang cenderung “jahilliah dan dajjal”, keluar dari Khittah dan visi/misi awal berdirinya.
Dalam kehidupan sehari-hari cara dan gaya kerja kami berbeda tentunya. Dan aku selaku suaminya agak lebih “mobile” dan “sibuk” dengan banyak bertugas di luar kampus sebagai konsultan dan fungsionaris/ aktivis sosial pada sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) bahkan pernah menjadi pollitisi, berhikmat sebagai Sekretaris PG Kabupaten Bogor di awal era reformasi tahun 1998, sempat menjadi caleg DPRD (1999) dan DPR RI (2004).
Konsekwensinya, aku banyak disibukan berbagai pertemuan dan rapat-rapat Ormas dan orpol, terkadang sering pulang agak larut malam dan bahkan terkadang tak pulang ke rumah, istirahat bersama anak-anakku. Sedangkan Atik istriku lebih fokus dengan tugas-tugas di rumah tangga terutama dalam hal tugas domestik mendidik dan mengawasi ketiga anakku, yang semuanya perempuan. Atik istriku, selain mengajar, membimbing mahasiswa, meneliti dan menulis karya ilmiah, serta dia juga pernah mendapat jabatan struktural di Fekon (FE) UNIDA Bogor.
Alhamdulillah, istriku Atik sebenarnya sangat sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan domestiknya, mengurus rumah tangga, menyajikan aneka masakan yang enak-enak di meja makan, dan dia juga senang dan mengalokasikan waktu dan dana juga untuk berekreasi bersama anggota keluarga, baik di dalam dan ke luar negeri, sehingga menambah kehangatan kami berkeluarga. Atik istriku bisa membagi dan mengelola waktu menjadi produktif, maklum memang dia lulusan program studi manajemen FE UNAIR.
Akan tetapi istriku Atik, alhamdulillah masih juga bisa dan sukses mengemban amanah sebagai Wadek dan Dekan FE UNIDA dengan masa jabatan yang cukup lama. Menurut penilaianku dan juga sebahagian orang-orang di kampus istriku Atik sebagai Dosen FE paling senior berhasil membangun institusi Fakultasnya, yang kini kian berkembang maju dengan jumlah mahasiswa dan lulusan terbanyak di lingkungan UNIDA Bogor.
Tak salah aku berkata, yang aku nyatakan dalam beberapa tulisanku bahwa istriku Atik nan cantik, orang selain berbudi pekerti baik, berakhlaq mulia dimataku suaminya. Juga orangnya cerdas, penyantun, gemar bersedekah, dan pekerja keras, serta disiplin, bertanggungjawab terhadap tugas-tugas yang ia emban, dan dia berusaha perspeksionist.
Alhamdulillah karakter kepemimpinan dan pengalaman kerja, inilah yang menurun ke zuriath kami, dan alhamdulillah membuat pendidikan ketiga putriku sukses meraih berbagai prestasi di sekolah dan luar sekolah, yang membuat aku senang dan bangga dengan anak-anakku.
Anakku si sulung Annisa Hasanah, sudah menikah, CEO Ecofunopoly, berprofesi mengglobal sebagai Socioentrepreuner, menjadi narsum (speaker) dalam berbagai forum seminar nasional dan internasional, banyak meraih berbagai penghargaan.
Kini Annisa Hasanah, SP., MSi sedang menempuh program Doktor di Kyoto University Jepang. Sedang putriku Inna Rahmawati S.Kom lulusan FEMA IPB kini bekerja di bagian Mgt Digital Marketing Gojek, Kantor Blok.M Jakarta. Adapun putri kami si bungsu Fathia Nurul Izzah (17 tahun) yang cantik dan imut-imut masih duduk dibangku kelas 3 MAN 2 Kota Bogor.
Alhamdulillah, ketiga putriku, dimataku semua cantik, cerdas dan berakhlaq baik, seperti watak mamanya yang baik hati. Barangtentu perkembangan yang baik, yang diraih ketiga putriku, zuriatku adalah berkat hasil didikan mama (ibunda)nya. Karena ibunda (mama) menurut pandangan Dinnulislam, ibu adalah madrasyah utama dan pertama bagi pendidikan karakter anak-anaknya. Mudah-mudahan ketiga putriku.menjadi anak-anak yang sholehah dan berguna bagi kemajuan masyarakat, bangsa, negara dan agamanya. Aamiin-3 YRA.
Narasi tentang keluarga kita inilah salah satu yang bisa saya ungkapkan disini, sebagai bentuk ekspresi dan appresiasi aku terhadap istriku yang sukses membina bahtera keluarga. Atik istriku orangnya memang cantik di mataku suaminya.
Kini istriku tersayang itu berulang tahun (milad) ke 60, tanggal 23 Agustus 2022 hari ini, aku sangat berbahagia dan bersyukur kepada Tuhan, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak henti-hentinya aku sampaikan kehadiratMu Ya Allah. Dimana, alhamdulillah istriku Atik selalu dalam keadaan sehat walaffiat, murah rezekinya, dan berbahagia bersama keluarganya dan terlebih sangat setia mendampingi aku suaminya, baik dalam keadaan suka maupun duka. Engkaulah segalanya, I love you, my wife Atik.
Terima kasih, aku ucapkan dengan tulus kepada istriku Hj.Sudarijati SE.MSi, yang telah memberikan kebahagiaan kepada aku dan anak-anakku. Kami selalu bersamamu mendoakan agar sehat walaffiat selalu, senang hati dan pikirannya, berbahagia dan panjang usia yang berkah. Aku sebagai suamimu, dan Ayah dari ketiga putriku senantiasa berdoa, memohon kepada Allah SWT agar Atik istriku tercinta juga senantiasa dalam lindungan dan pertolongan Allah Subhanahua Taalah. Aamiin-3 YRA
Mohon maaf, atas segala kekhilafan dan kesalahan yang aku perbuat selama ini, baik.sengaja maupun tidak.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosa kita, dan mengabulkan doa-doa kita untuk kebahagiaan kita sekeluarga.
Selamat Milad ke 60 istriku yang baik hati, cantik, cerdas, pekerja keras dan profesional pendidik yang sukses buat keluarga dan kampus. Syukron barakallah. Aamiin-3 YRA
Penulis adalah Pendiri-Dosen Senior Universitas Djuanda Bogor/Assoc.Prof; Konsultan K/L, Aktivis Ormas dan Yayasan Sosial





