Sumpah Pemuda ke-98, Pemuda Katolik Jabar: Nasionalisme Harus Dibuktikan Lewat Pengabdian

oleh -12 views

BANDUNG (Lead.co.id) – Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 harus menjadi momentum untuk mengevaluasi sejauh mana semangat persatuan dan kebangsaan telah diwujudkan dalam tindakan nyata. Mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, peringatan tahun ini tidak cukup dimaknai sebagai seremoni tahunan, tetapi harus menjadi panggilan bagi generasi muda untuk terlibat aktif menjawab persoalan sosial, ekonomi, dan kebangsaan.

Sekretaris Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Jawa Barat, Boy Fernando Lumban Raja menegaskan bahwa, nasionalisme pada masa kini perlu dibuktikan melalui keberanian memperjuangkan kepentingan masyarakat, membangun solidaritas, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda.

“Patriotisme tidak cukup diucapkan dalam pidato atau dirayakan melalui seremoni. Patriotisme harus hadir dalam keberpihakan terhadap masyarakat, keberanian menyuarakan persoalan publik, dan kesediaan mengambil tanggung jawab untuk menghadirkan perubahan. Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi bagian dari solusi,” tegas Boy Fernando Lumban Raja

Tantangan kepemudaan membutuhkan tindakan nyata

Menurut Boy Fernando Lumban Raja, komitmen tersebut semakin relevan apabila melihat tantangan yang dihadapi generasi muda, terutama dalam mengakses pendidikan, pekerjaan, pelatihan keterampilan, dan kesempatan untuk berkembang.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2025, persentase penduduk usia 15–24 tahun di Jawa Barat yang tidak sedang bersekolah, bekerja, atau mengikuti pelatihan (Not in Education, Employment, or Training/NEET) mencapai 24,84 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 19,44 persen.

Baca :  Pemuda Katolik KOMAC Bogor Barat Dilantik, Dorong Akselerasi Ekonomi Kreatif

Data ini menjadi pengingat bahwa pembangunan kepemudaan tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan partisipasi dalam kegiatan organisasi. Diperlukan upaya yang lebih terarah untuk memperluas akses terhadap pendidikan, pelatihan, pendampingan karier, kewirausahaan, serta kesempatan kerja yang layak.

“Angka tersebut harus menjadi bahan refleksi bersama. Kita tidak bisa berbicara tentang masa depan generasi muda tanpa memperhatikan anak-anak muda yang masih menghadapi hambatan untuk mengakses pendidikan, pekerjaan, dan pelatihan. Semangat Sumpah Pemuda harus diterjemahkan menjadi kerja kolaboratif yang membuka kesempatan lebih luas bagi mereka untuk bertumbuh dan berdaya,” ujar Boy Fernando Lumban Raja

Ia menambahkan bahwa organisasi kepemudaan harus mampu bergerak melampaui kegiatan seremonial. Organisasi perlu menjadi ruang pembelajaran, pengembangan kapasitas, penguatan kepemimpinan, serta penghubung antara aspirasi anak muda dan para pemangku kebijakan.

Memperkuat peran pemuda dalam pembangunan Jawa Barat

Dalam konteks Jawa Barat, Boy Fernando Lumban Raja menilai bahwa tantangan kepemudaan membutuhkan keterlibatan pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, dan organisasi kepemudaan. Kolaborasi tersebut penting agar program kepemudaan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Ia juga mendorong agar kebijakan pembangunan kepemudaan memberikan ruang yang lebih luas bagi partisipasi anak muda, termasuk dalam perencanaan program, pengawasan kebijakan publik, pengembangan ekonomi kreatif, pemberdayaan masyarakat, dan gerakan pelestarian lingkungan.

“Pemuda harus diberi ruang untuk berpartisipasi, bukan hanya dilibatkan sebagai pelengkap kegiatan. Aspirasi mereka perlu didengar, kapasitasnya perlu dikembangkan, dan gagasannya perlu diberi kesempatan untuk diuji melalui program yang konkret. Pembangunan yang berkelanjutan membutuhkan generasi muda yang tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga ikut menentukan arah perubahan,” katanya.

Baca :  Gelar Edukasi anti bullying, KKN Tematik UIKA Sasar Siswa Al Alawiyah Bogor

Boy Fernando Lumban Raja menegaskan bahwa semangat kritis generasi muda juga harus berjalan seiring dengan tanggung jawab. Kritik terhadap kebijakan publik perlu disertai data, argumentasi, dan alternatif solusi. Dengan demikian, partisipasi pemuda dapat memperkuat kualitas demokrasi sekaligus mendorong tata kelola pemerintahan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Persatuan dan keberagaman sebagai kekuatan bangsa

Selain persoalan ekonomi dan kesempatan, Boy Fernando Lumban Raja menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman identitas, agama, budaya, dan pandangan politik. Menurutnya, nilai Sumpah Pemuda harus terus dihidupkan melalui dialog, sikap saling menghormati, dan kerja sama lintas kelompok.

“Pemuda harus menjadi jembatan yang mempertemukan perbedaan, bukan tembok yang memisahkan. Kita boleh berbeda keyakinan, latar belakang, dan pandangan politik, tetapi kepentingan bangsa serta kemanusiaan harus tetap menjadi ruang perjumpaan. Persatuan tidak berarti menghapus perbedaan, melainkan mengelolanya menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia,” ungkapnya.

Ia mengajak organisasi kepemudaan di Jawa Barat memperluas kolaborasi lintas organisasi, lintas iman, dan lintas budaya. Kerja sama tersebut dapat diwujudkan melalui pendidikan kebangsaan, dialog antarkomunitas, pengabdian sosial, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta kegiatan yang memperkuat kepedulian terhadap lingkungan.

Baca :  Komunitas Rotaract Club of Bali Seminyak Pengabdian Masyarakat di SDN 2 Luwus

Menurut Boy Fernando Lumban Raja, keberhasilan gerakan kepemudaan tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat, keberlanjutan program, dan kemampuan melahirkan kader yang berintegritas serta memiliki kepekaan sosial.

Pemuda Katolik Komda Jabar dorong pengabdian berkelanjutan

Sebagai bagian dari elemen masyarakat sipil, Pemuda Katolik Komda Jawa Barat berkomitmen mendorong gerakan kepemudaan yang berorientasi pada pengabdian, dialog lintas iman, kepedulian lingkungan, dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Komitmen tersebut perlu diwujudkan melalui program yang terukur, melibatkan masyarakat secara bermakna, dan memiliki dampak yang berkelanjutan. Organisasi kepemudaan juga perlu melakukan evaluasi atas program-programnya agar kegiatan yang dijalankan tidak berhenti pada pelaksanaan acara, tetapi menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan.

Menutup pernyataannya, Boy Fernando Lumban Raja mengajak seluruh generasi muda menjadikan Hari Sumpah Pemuda ke-98 sebagai titik tolak untuk memperkuat tanggung jawab kebangsaan.

“Jadikan patriotisme sebagai arah pengabdian, kegigihan sebagai kekuatan perjuangan, dan empati sebagai dasar kemanusiaan. Indonesia membutuhkan pemuda yang berani berpikir kritis, konsisten bekerja, terbuka berkolaborasi, dan bersedia melayani. Masa depan bangsa tidak cukup hanya dibanggakan; masa depan itu harus kita perjuangkan bersama melalui tindakan nyata,” tutup Boy Fernando Lumban Raja.

Patriotik dalam pengabdian, gigih dalam perjuangan, berempati dalam kemanusiaan. Pemuda bergerak, Indonesia bertumbuh.