Site icon LEAD.co.id

Tim Ekspedisi Patriot IPB Paparkan Hasil Lengkap Riset Kawasan Transmigrasi Payahe

Tim 1 dan Tim 2 Ekspedisi Patriot IPB resmi menuntaskan rangkaian kegiatan laporan akhir dan diseminasi hasil, pada Jumat hingga Sabtu (28-29 November 2025). Kegiatan ini menandai berakhirnya program pendampingan dan penelitian di kawasan transmigrasi Payahe, Kota Tidore Kepulauan.

Kedua agenda tersebut merupakan momen penting bagi tim untuk menyampaikan gambaran komprehensif kondisi fisik, sosial, ekonomi, lingkungan, serta rekomendasi ilmiah yang dapat menjadi pijakan pembangunan kawasan. Pada sesi laporan akhir yang menekankan sinergi antara peneliti dan pemerintah daerah, berlangsung di Kantor Walikota Tidore dan dihadiri oleh delapan instansi penting.

Walikota Tidore, yang diwakili oleh Taher Husen, Asisten II, menegaskan bahwa program transmigrasi telah memberikan kontribusi besar bagi pengembangan pertanian di daerah tersebut.

 “Ke depannya, peningkatan infrastruktur di SP Koli, Kosa, dan Maidi sangat penting agar kawasan ini dapat berkembang lebih optimal.”ujar Taher.

Sementara itu, Ernan Rustiadi, PLH Rektor IPB yang sekaligus Ketua Tim 1 menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah atas dukungan dan kolaborasi yang membantu kelancaran proses riset dan pengabdian tim Ekspedisi Patriot.

Selanjutnya, pada sesi utama, Setyardi selaku Ketua Tim 2 mempresentasikan hasil riset gabungan Tim 1 dan Tim 2, mencakup temuan lapangan, hambatan, peluang kawasan, hingga rekomendasi strategis.

Tim 1 mengungkap evaluasi menyeluruh terhadap aspek fisik, sosial, ekonomi, aksesibilitas, dan pelayanan dasar. Sejumlah isu mengemuka, seperti migrasi keluar dari Maidi akibat banjir dan ancaman hewan buas, kebutuhan revitalisasi irigasi dan drainase, belum optimalnya kelembagaan ekonomi,, serta akses jalan dan jaringan komunikasi yang belum merata.

Melalui analisis SWOT, Tim 1 menegaskan potensi besar KT Payahe sebagai pusat agribisnis, namun menghadapi risiko degradasi DAS dan minimnya petani muda. Rekomendasi pembangunan disusun bertahap hingga 2033, mulai dari stabilisasi kondisi dasar hingga integrasi kawasan menjadi pusat agribisnis dan eko-agrowisata.

Sementara itu, Tim 2 menyoroti hasil Pengujian Lahan, Air, dan Komoditas Unggulan. Analisis tanah menunjukkan tingkat kesuburan tinggi, sementara uji kualitas air mengungkap indikasi pencemaran signifikan di Oba Selatan. Selain itu, ketergantungan hasil pertanian pada tengkulak juga menjadi temuan oleh tim ini.

Komoditas seperti cabai, tomat, dan kopra menjadi unggulan eksisting, namun beberapa komoditas seperti bawang merah, padi, dan buah naga mengalami penurunan akibat persoalan irigasi dan drainase. Tim 2 juga memetakan disparitas harga di rantai nilai pertanian serta menggagas rekomendasi zonasi kesesuaian komoditas untuk lahan ±10.700 ha.

Seluruh temuan ini kemudian ditanggapi oleh tujuh instansi  yang termasuk dalam Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Dinas Pertanian menyoroti minimnya penyuluh dan persoalan irigasi, sementara Disnakertrans menekankan perlunya kolaborasi lintas instansi.

Perkim dan PUPR membahas kondisi infrastruktur perumahan dan jalan, termasuk rencana RDTR 2026. Bappeda mengapresiasi riset sebagai rujukan perencanaan, BPBD memaparkan risiko banjir dan kebakaran di kawasan, dan Dinas Perikanan menjelaskan dinamika bantuan serta potensi komoditas air tawar.

Pada hari berikutnya, sesi diseminasi hasil bersama warga berlangsung hangat dan penuh harapan. Dr. Setyardi dan tim lapang menyampaikan rangkuman riset, disambut ucapan terima kasih warga SP Koli, Kosa, dan Maidi.

Mereka berharap rekomendasi ilmiah yang disampaikan dapat menjadi dasar perbaikan irigasi, keamanan lingkungan, akses jalan, dan penguatan ekonomi lokal. Acara ditutup dengan tumpengan sebagai simbol syukur atas perjalanan panjang pendampingan.

Sebagai Penutup, rangkaian Laporan Akhir dan Diseminasi Hasil ini menjadi fondasi penting pembangunan KT Payahe berbasis data akurat dan kolaborasi lintas sektor.

Dengan sinergi pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat, kawasan transmigrasi Payahe diharapkan dapat bangkit sebagai wilayah yang produktif, tangguh, dan berkelanjutan. (Kontributor: Windi/ DPMA-IPB)

Exit mobile version